Wednesday, 13 Jumadil Awwal 1444 / 07 December 2022

Gempa Cianjur-Sukabumi, Akibat Pergerakan Sesar Aktif Cimandiri

Senin 21 Nov 2022 18:17 WIB

Red: Andri Saubani

 Pekerja memeriksa toko yang rusak akibat gempa bumi di Cianjur, Jawa Barat, Senin, 21 November 2022. Gempa bumi yang mengguncang pulau utama Indonesia di Jawa pada hari Senin merusak puluhan bangunan dan membuat warga mengungsi ke jalan-jalan ibu kota demi keselamatan.

Pekerja memeriksa toko yang rusak akibat gempa bumi di Cianjur, Jawa Barat, Senin, 21 November 2022. Gempa bumi yang mengguncang pulau utama Indonesia di Jawa pada hari Senin merusak puluhan bangunan dan membuat warga mengungsi ke jalan-jalan ibu kota demi keselamatan.

Foto: AP Photo/Firman Taqur
Bupati Cianjur pada Senin sore menyebut 56 meninggal akibat gempa magnitudo 5,6.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Riga Nurul Iman, Arie Lukihardianti, Zainur Mashir Ramadhan, Nawir Arsyad Akbar, Rahayu Subekti

Gempa berkekuatan magnitudo 5,6 terjadi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin (21/11/2022) siang tepatnya pukul 13:21 WIB. Gempa yang goyangannya terasa sampai DKI Jakarta itu mengakibatkan jatuhnya korban jiwa yang hingga sore ini terus dilaporkan bertambah. 

Baca Juga

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati yang saat gempa terjadi tengah menjalani rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi V DPR, mengatakan, gempa Cianjur merupakan gempa yang diakibatkan oleh patahan geser yang diduga akibat pergerakan dari sesar Cimandiri.

"Diduga ini merupakan pergerakan dari sesar Cimandiri," ujar Dwikorita di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (21/11/2022).

Berdasarkan data BMKG, informasi pusat gempa berada di kawasan Cianjur, Jawa Barat dengan kekuatan gempa 5,6 magnitudo. Lokasi gempa terjadi pada koordinat 6.84 Lintang Selatan dan 107,05 Bujur Timur, dengan kedalaman 10 kilometer.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengatakan, gempa bumi dengan magnitudo 5,6 yang melanda wilayah Barat Daya Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, berpotensi merusak. Namun, tidak terkait potensi gempa megathrust di Selatan Jawa.

"Karena gempa ini dangkal, berpotensi merusak infrastruktur, rumah, atau pemukiman, di sekitar epicenter," kata pakar tsunami BRIN Widjo Kongko, Senin.

Diketahui, wilayah Jawa Barat di bagian Selatan dan Barat Daya Sumatra menyimpan potensi gempa bumi megathrust. Meski tidak diketahui kapan gempa itu akan terjadi,  Widjo menuturkan harus waspada terhadap ancaman tsunami dan upaya mitigasinya perlu lebih serius dan segera dilakukan.

"Gempa yang baru saja terjadi tidak terkait langsung dengan potensi gempa megathrust," ujar Widjo.

Adapun, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan sebaran pemukiman penduduk yang terlanda guncangan gempa bumi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, terletak pada kawasan rawan bencana gempa bumi tinggi.

"Morfologi wilayah tersebut pada umumnya berupa dataran hingga dataran bergelombang, perbukitan bergelombang hingga terjal yang terletak pada bagian tenggara Gunung Gede," demikian keterangan resmi Badan Geologi yang dikutip di Jakarta, Senin.

Wilayah Kabupaten Cianjur secara umum tersusun oleh endapan kuarter berupa batuan rombakan gunung api muda (breksi gunung api, lava, tuff) dan aluvial sungai. Sebagian batuan rombakan gunung api muda tersebut telah mengalami pelapukan.

Endapan kuarter tersebut pada umumnya bersifat lunak, lepas, belum kompak (unconsolidated) dan memperkuat efek guncangan, sehingga rawan gempa bumi. Selain itu, pada morfologi perbukitan bergelombang hingga terjal yang tersusun oleh batuan yang telah mengalami pelapukan, berpotensi terjadi gerakan tanah yang dapat dipicu oleh guncangan gempa bumi kuat dan curah hujan tinggi.

Berdasarkan posisi lokasi pusat gempa bumi, kedalaman, dan data mekanisme sumber dari BMKG dan GFZ Jerman, maka kejadian gempa bumi ini diakibatkan oleh aktivitas sesar aktif. Keberadaan sesar aktif tersebut hingga kini belum diketahui dengan baik karakteristiknya.

Menurut Badan Geologi, kejadian gempa bumi tersebut diperkirakan berpotensi mengakibatkan bahaya sesar permukaan dan bahaya ikutan (collateral hazard) berupa retakan tanah, penurunan tanah, gerakan tanah dan likuefaksi.

 

 

 

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA