Tuesday, 16 Rajab 1444 / 07 February 2023

Pertemuan Satu Meja SBY dan Megawati Semoga Bukan Basa Basi

Jumat 18 Nov 2022 09:05 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Pertemuan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Megawati Soekarnoputri bersama Try Sutrisno, Hamzah Haz, dan M Jusuf Kalla.

Pertemuan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Megawati Soekarnoputri bersama Try Sutrisno, Hamzah Haz, dan M Jusuf Kalla.

Foto: @jansen_jsp
Pertemuan Megawati-SBY disebut momentum yang tidak bisa dihindari.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ali Mansur, Nawir Arsyad Akbar, Antara

JAKARTA -- Dunia perpolitikan Indonesia dibuat heboh dengan beredarnya foto Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri dan Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang bertemu di perhelatan G20, Selasa (15/11/2022). Tak hanya sekadar bertemu, Megawati dan SBY bahkan duduk satu meja yang bisa dibilang sebagai momentum langka mengingat kedua tokoh politik dan petinggi partai itu kerap berseberangan.

Tentu saja pertemuan Megawati dan SBY mengundang banyak komentar. Salah satunya dari Juru Bicara Muda Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Dira Martamin. Ia menyambut pertemuan Megawati dan SBY, apalagi keduanya merupakan mantan presiden dengan pengaruh yang sangat kuat.

"Biar akur beneranlah, orang tua kok marahan lama banget," kata Dira dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis (17/11/2022).

Megawati dan SBY bahkan secara kebetulan kompak mengenakan baju warna biru. Menurut Dira, warna hijau yang melambangkan kesejukan dan kedamaian akan lebih cocok dikenakan Megawati dan SBY. “Kayaknya mereka cocok pakai warna hijau," kata Dira berseloroh.

Lebih jauh ia berharap kebersamaan Megawati dan SBY itu bukan sekadar seremonial dan kepentingan publikasi, tetapi juga untuk kepentingan bangsa Indonesia. "Jangan sampai kejadian tersebut hanya bersifat seremonial atau ngobrol sekadar basa-basi saja," ucapnya.

Tentu, lanjutnya, rakyat Indonesia sangat ingin melihat Megawati dan SBY melakukan komunikasi politik secara kondusif dan intensif untuk kepentingan bangsa, bukan menggunakan politik pecah belah. "Harapannya, pemilu berjalan kondusif, enggak ada lagi black campaign ataupun isu SARA yang digoreng, capek," imbuhnya.

Dia juga tidak memungkiri Megawati dan SBY merupakan dua orang tokoh yang dapat menentukan arah politik Tanah Air berjalan kondusif. "Tentu masih banyak tokoh lain, seperti Pak Muhaimin, Pak Prabowo, JK (Jusuf Kalla). Namun, yang paling terlihat berkonflik ya Mega-SBY. Kalau mereka menurunkan ego personalnya, tentu akan berimbas ke pemilu yang kondusif," ujar Dira.

Komentar serupa disampaikan Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah. Ia menilai dalam politik semua bisa saja terjadi, termasuk koalisi PDIP-Demokrat meski kedua parpol sepanjang sejarah tidak pernah berkoalisi secara nasional.

Meski bukan tidak mungkin Dedi mengaku koalisi PDIP-Demokrat cukup sulit terwujud. Hal itu karena faktor karakter pemilih yang berseberang. Jika dipaksakan bukan tidak mungkin baik PDIP maupun Demokrat bisa kehilangan suara.

“Untuk itu, duduk satu meja antara Megawati dan SBY sangat mungkin hanya momentum yang tidak dapat dihindari. Jikapun ada agenda di dalamnya kemungkinan besar tidak mengarah pada agenda koalisi,” ujar Dedi saat dihubungi melalui pesan singkat, Selasa (15/11/2022).

Asumsinya, lanjut Dedi, jika koalisi terjadi, maka Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) akan ditawarkan untuk bakal calon wakil presiden (bacawapres). Sementara posisi yang sama semestinya lebih mudah didapat dan potensial dari koalisi Perubahan.

Sisi lain, nama besar SBY akan redup jika kemudian disandingkan dengan Megawati yang sejauh ini cukup miliki pengaruh besar. “Artinya, Demokrat akan menjadi jauh lebih kecil di banding saat bersama dengan PKS dan Nasdem,” kata Dedi.

Puan Maharani yang juga duduk satu meja dengan Megawati dan SBY membocorkan percakapan di pertemuan tersebut...

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA