Kamis 17 Nov 2022 22:45 WIB

Erdogan Berterima Kasih Perjanjian Gandum Ukraina Bisa Diperpanjang

Ekspor gandum dari Ukraina diperpanjang selama 120 hari

Rep: Lintar Satria/ Red: Esthi Maharani
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berterima kasih pada PBB, Rusia dan Ukraina karena memperpanjang perjanjian gandum Laut Hitam sehingga ekspor gandum dari Ukraina terus berlanjut.
Foto: AP/Ukrainian Presidential Press Off
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berterima kasih pada PBB, Rusia dan Ukraina karena memperpanjang perjanjian gandum Laut Hitam sehingga ekspor gandum dari Ukraina terus berlanjut.

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berterima kasih pada PBB, Rusia dan Ukraina karena memperpanjang perjanjian gandum Laut Hitam sehingga ekspor gandum dari Ukraina terus berlanjut.

Pada Kamis (17/11/2022) di media sosial Twitter, Erdogan mengatakan ekspor lebih dari 11 juta ton gandum dalam empat bulan terakhir telah menunjukkan pentingnya perjanjian itu pada keamanan pangan global.

Perjanjian yang awalnya ditengah Turki dan PBB pada bulan Juli lalu habis masa berlakunya pada 19 November. Kini perjanjian tersebut terhitung sejak Kamis (17/11/2022) ini diperpanjang selama 120 hari.

Sebelumnya Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres  mengatakan ia menyambut baik diperpanjangnya kesepakatan gandum Laut Hitam yang memfasilitasi ekspor pertanian Ukraina melalui pelabuhan-pelabuhan Laut Hitam. Perjanjian itu dibentuk untuk melindungi koridor transit di laut dan dirancang memperbaiki kelangkaan pangan global.

Dengan perpanjanjian ini ekspor dari tiga pelabuhan di Ukraina yang merupakan produsen gandum dan biji bunga matahari kembali dapat dilakukan kembali setelah sempat terhenti karena invasi Rusia.

"Saya menyambut kesepakatan semua pihak untuk melanjutkan inisiatif gandum Laut Hitam untuk memfasilitasi navigasi aman ekspor gandum, produk makanan dan pupuk dari Ukraina," kata Guterres dalam pernyataannya Kamis (17/11/2022).

Guterres mengatakan PBB juga "sepenuhnya berkomitmen untuk menghapus sisa rintangan untuk mengekspor makanan dan pupuk dari Federasi Rusia" bagian dalam kesepakatan yang bagi Moskow sangat penting.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement