Kamis 17 Nov 2022 08:24 WIB

Peneliti Unpad Buat Baju Tahan Api dari Serat Rami

Tekstil dari rami sangat mahal karena teknologinya cukup rumit.

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Dwi Murdaningsih
Pedagang benang. Ilustrasi. Dosen Universitas Padjadjaran (Unpad) membuat baju tahan api dari serat rami. Rami awalnya dioleh menjadi benang kemudian menjadi tekstil.
Foto: Republika.Rakhmawaty La'lang
Pedagang benang. Ilustrasi. Dosen Universitas Padjadjaran (Unpad) membuat baju tahan api dari serat rami. Rami awalnya dioleh menjadi benang kemudian menjadi tekstil.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Dosen Universitas Padjadjaran (Unpad) membuat baju tahan api dari serat rami. Rami merupakan tumbuhan yang sempat booming dua dekade terakhir ini.

Serat rami masih jarang digunakan untuk bahan industri tekstil lantaran harganya yang mahal. Padahal, tanaman tersebut tumbuh subur di Indonesia. 

Baca Juga

Dosen Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Unpad Dr. Asri Peni Wulandari, Ph.D melakukan penelitian tentang mahalnya harga tekstil dari rami. Ternyata, tekstil rami mahal karena produksinya yang rumit.

 

Proses produksi rami menjadi tekstil harus menggunakan energi panas, bahan kimia, dan sebagainya. Asri pun membuat alternatif teknologi yang lebih murah untuk memproduksi rami menjadi tekstil.

 

“Penelitian rami dimulai lebih dari sepuluh tahun lalu. Penelitian diawali dengan mengisolasi limbah rami lalu melakukan tahap screening sehingga mendapatkan mikroba yang paling rakus memakan getah rami," kata Kepala Pusat Studi Ilmu Bioprospeksi Serat Alam dan Sumber Daya Hayati Unpad ini.

 

Dari penelitiannya ini, kata dia, ternyata serat rami sangat bagus untuk pakaian dan biodegumming menjadi alternatif pengolahan rami yang efektif. 

 

Setelah menemukan cara pengolahan rami yang efektif, Asri bertekad untuk mengembangkan serat alternatif agar Indonesia bisa mandiri sandang dengan produk berbahan baku lokal. Asri pun melibatkan dosen dan mahasiswa Departemen Biologi dalam penelitian rami. 

 

 

Kolaborasi yang dikembangkan Asri, tak hanya di lingkup Unpad. Kini penelitiannya sudah masuk konsorsium rami Indonesia sehingga terintegrasi dengan berbagai kelompok besar di Indonesia, terutama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

 

“Dengan adanya konsorsium rami Indonesia, saya berharap bisa segera mengarahkan penelitian rami menuju tujuannya yakni ke arah produktivitas,” katanya.  

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement