Rabu 16 Nov 2022 07:34 WIB

Turki Tangkap 50 Orang yang Diduga Terlibat Pengeboman di Istanbul

Ledakan pada Ahad menewaskan enam orang dan melukai puluhan orang.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Friska Yolandha
 Wakil Presiden Turki Fuat Oktay (depan-kiri), Ketua Majelis Nasional Agung Turki Mustafa Sentop (depan-kanan), dan orang-orang membawa peti mati Arzu Ozsoy dan putrinya Yagmur Ucar, yang tewas dalam ledakan saat upacara pemakaman mereka di Istanbul, Turki, 14 November 2022. Menurut Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu, sedikitnya delapan orang tewas dan 81 lainnya luka-luka dalam ledakan yang terjadi pada 13 November sore itu.
Foto: EPA-EFE/ERDEM SAHIN
Wakil Presiden Turki Fuat Oktay (depan-kiri), Ketua Majelis Nasional Agung Turki Mustafa Sentop (depan-kanan), dan orang-orang membawa peti mati Arzu Ozsoy dan putrinya Yagmur Ucar, yang tewas dalam ledakan saat upacara pemakaman mereka di Istanbul, Turki, 14 November 2022. Menurut Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu, sedikitnya delapan orang tewas dan 81 lainnya luka-luka dalam ledakan yang terjadi pada 13 November sore itu.

REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL -- Turki menangkap 50 orang yang diduga memiliki keterlibatan dengan pengeboman di Istiklal Avenue, Istanbul. Ledakan yang terjadi pada Ahad (13/11/2022) itu menewaskan enam orang dan melukai puluhan lainnya. 

Polisi melakukan penggerebekan di Istanbul beberapa jam setelah ledakan dan menahan 48 orang, termasuk seorang wanita Suriah yang diduga meninggalkan bom bermuatan TNT di Istiklal Avenue. Polisi mengatakan, wanita itu diidentifikasi sebagai Ahlam Albashir yang telah menyeberang ke Turki dari Suriah secara ilegal. Albashir mengaku melakukan serangan itu.

Baca Juga

Pada Selasa (15/11/2022) Menteri Kehakiman Bekir Bozdag mengatakan, jumlah tersangka yang ditahan telah meningkat menjadi 50 orang. Namun dia tidak memberikan rincian lebih lanjut.  Anadolu Agency pada Selasa melaporkan, polisi menahan dua bersaudara yang diidentifikasi sebagai Ammar J dan Ahmed J.

Ammar J diduga ditugaskan membantu Albashir melarikan diri dari Istanbul ke negara tetangga Yunani setelah serangan itu. Sementara Ahmed J. diduga mengantar tersangka yang masih buron, ke Provinsi Edirne, dekat perbatasan Bulgaria.

"Turki akan melanjutkan perjuangannya melawan terorisme. Tidak ada organisasi teroris yang akan berhasil dalam rencana apa pun melawan Turki," ujar Bozdag, dilaporkan situs berita independen T24.

Sekitar 80 orang dirawat di rumah sakit setelah serangan itu, dan setidaknya 57 di antaranya telah dipulangkan.  Enam korban yang terluka berada dalam perawatan intensif dan dua dari mereka dalam kondisi serius. Keenam orang yang tewas dalam ledakan itu adalah anggota dari tiga keluarga, termasuk dua anak perempuan berusia 9 tahun dan 15 tahun.

Ledakan pada Ahad (13/11/2022) menargetkan Istiklal Avenue, yaitu jalan raya populer yang dipenuhi dengan toko-toko dan restoran. Wilayah ini kerap menjadi destinasi para turis dan keluarga yang menghabiskan waktu akhir pekan. 

Pihak berwenang Turki menuding kelompok Kurdistan Worker Party (PKK) dan kelompok Kurdi Suriah sebagai dalang serangan bom. Namun, kelompok militan Kurdi membantah terlibat. PKK, telah melakukan pemberontakan bersenjata di Turki sejak 1984. Konflik tersebut telah menewaskan puluhan ribu orang sejak saat itu. Ankara dan Washington menetapkan PKK sebagai kelompok teroris. 

 

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement