Selasa 15 Nov 2022 21:45 WIB

Bait al-Hikmah, Perpustakaan Kebanggaan Dinasti Abbasiyah

Bait al-Hikmah merupakan perpustakaan terbesar di dunia Islam pada abad pertengahan.

Baitul Hikmah era modern di Baghdad, Irak.
Foto: Blogspot.com
Baitul Hikmah era modern di Baghdad, Irak.

IHRAM.CO.ID,Di Bait al-Hikmah, Baghdad, sarjana dari berbagai negara dan agama menerjemahkan ke dalam bahasa Arab dari karya-karya Yunani, Persia, dan India tentang matematika, filsafat, astro nomi, logika, dan sains. Tentu saja, mereka juga menulis buku hasil karya sendiri. 

Selain karya-karya ilmiah, di perpustakaan kebanggaan Dinasti Abbasiyah ini juga terdapat lini Alquran dan hadis, buku-buku tentang hukum Islam dan teologi, koleksi puisi, silsilah ke luarga Arab, geografi, sejarah, tata bahasa, buku referensi, buku peribahasa, dongeng, anekdot, lelucon, dan sejenisnya. Koleksi buku yang terdapat pada Bait al-Hikmah menjadikan perpustakaan tersebut sebagai perpustakaan terbesar di dunia Islam pada abad pertengahan.

Baca Juga

Fungsi translasi karya-karya kuno itu mirip dengan akademi di Dhundaysabur, pada masa India kuno. Kalifah al- Makmun biasanya mengirim delegasi ke Romawi untuk membeli naskah-naskah Yunani kuno. Direktur Bait al- Hikmah adalah Sahl Ibn Harun dan Salm, dibantu oleh Sa’id Ibn Harun. Staf utamanya adalah para penerjemah, salah satu yang terkenal adalah Banu al- Munadhdhim. Staf lainnya ada lah penyalin dan penjilid kitab.

Bait al-Hikmah diperkirakan sudah berdiri sejak zaman kalifah Harun al-Rashid. Adalah keluarga Barkamid, keluarga bangsawan Persia yang menjadi perdana menteri Abbasiyah sejak masa kalifah al-Mahdi, yang pertam kali memelopori upaya penerjemahan naskah-naskah Yunani ke bahasa Arab. 

Namun, khalifah al-Makmun yang kemudian semakin mengintensifkan upaya transfer pengetahuan itu yang kemudian memberi dam pak besar pada pemikiran dan budaya Islam kala itu. Bahkan, Dinasti Abbasiyah juga membangun observatorium astronomi di Bait al-Hikmah, sebuah versi yang lebih baik daripada yang dibangun oleh Ptolomeus.

Namun, perpustakaan ini tampaknya tidak bertahap di masa khalifah al-Mutawakkil yang membawa pengaruh Islam yang orto doks, berlawanan dengan se mangat penyerapan ilmu pengetahuan liberal dari Yunani. Meski demikian, beberapa perpustakaan yang me nyim pan naskah-naskah terje mah an Yunani masih tetap ber diri. Akhirnya, Bait al- Hikmah dihancurkan pada tahun 1258 saat invasi Mongol. Sebanyak 400 ribu manuskrip berhasil diselamatkan ke Azerbaijan.

Bait al-Hikmah telah menginspirasi tumbuhnya perpustakaan besar lain di seluruh penjuru dunia Islam. Bahkan, perpustakaan Fatimiyah di Kairo pun akhinya diberi nama serupa, Bait al-Hikmah.

Hal itu terjadi pada masa kekuasaan khalifah al-Hakim (996-1021), pengganti khalifah al-’Aziz yang membangun perpustakaan besar itu Sejarawan al-Maqrizi mengatakan, perpustakaan Bait al-Hikmah di Kairo terbuka untuk masyarakat umum tanpa membedakan status dan pang kat. Siapa saja bisa membaca atau bertanya-tanya me ngenai isi berbagai kitab koleksi. 

sumber : Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement