Senin 14 Nov 2022 22:45 WIB

Jokowi Undang Australia Berinvestasi di Industri Baterai

Indonesia memiliki 23 persen cadangan nikel dunia.

 Perdana Menteri Australia Anthony Albanese berbicara kepada media setibanya di Bandara Internasional Ngurah Rai menjelang KTT G20 di Bali, Senin, 14 November 2022. Jokowi Undang Australia Berinvestasi di Industri Baterai
Foto: AP/Firdia Lisnawati
Perdana Menteri Australia Anthony Albanese berbicara kepada media setibanya di Bandara Internasional Ngurah Rai menjelang KTT G20 di Bali, Senin, 14 November 2022. Jokowi Undang Australia Berinvestasi di Industri Baterai

REPUBLIKA.CO.ID, NUSA DUA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengundang Perdana Menteri Australia Anthony Albanese untuk berinvestasi di industri baterai kendaraan listrik.

Ketika berbicara dalam penutupan KTT B20 yang juga dihadiri PM Albanese, Jokowi mengatakan telah menawarkan potensi kerja sama industri baterai kendaraan listrik. Hal ini mengingat Indonesia memiliki cadangan nikel dan Australia sebagai salah satu produsen litium terbesar di dunia.

Baca Juga

"Tetapi saya minta kepada PM Albanese untuk litiumnya bisa dibawa ke Indonesia saja, kita bersama melakukan hilirisasi di Indonesia," kata Jokowi di Nusa Dua, Bali, Senin (14/11/2022).

Hilirisasi industri merupakan salah satu strategi yang digiatkan pemerintah Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. "(Ekspor) bahan-bahan mentah yang kita miliki memang harus disetop untuk mendapat nilai tambah di dalam negeri, baik itu berkaitan dengan pendapatan untuk negara dan penciptaan lapangan kerja. Dan sudah kita mulai dengan (industri) nikel dalam rangka membangun ekosistem baterai kendaraan listrik," kata Jokowi.

Sebagai pemilik 23 persen cadangan nikel dunia, Indonesia telah mengembangkan ekosistem industri kendaraan listrik dari hulu ke hilir dengan target produksi mobil listrik mencapai 600 ribu unit dan 2,45 juta sepeda motor listrik pada 2030. Indonesia diperkirakan bisa mengurangi 3,8 juta ton emisi CO2 dengan pengembangan ekosistem kendaraan listrik.

Selain itu, guna mendukung pengembangan ekonomi hijau, Indonesia tengah memaksimalkan pemanfaatan energi baru terbarukan yang potensinya mencapai 434 ribu megawatt yang terdiri dari antara lain pembangkit listrik tenaga air, tenaga angin, tenaga surya, tenaga panas bumi.

"Inilah kesempatan para investor untuk menjalin kerja sama dengan Indonesia, dengan membawa investasi dan teknologi karena uangnya tidak sedikit untuk membangun ekonomi hijau di Indonesia," kata Jokowi.

Indonesia juga telah menyiapkan lahan seluas 30 ribu hektare di Kalimantan Utara yang akan dibangun menjadi kawasan industri hijau, yang bisa memproduksi energi bersih sebesar 13 ribu megawatt dari tenaga air.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement