Kamis 10 Nov 2022 01:33 WIB

Kesadaran Masyarakat Rendah, 128 Ribu Warga Jabar Diprediksi Mengidap TBC

Indonesia merupakan negara terbanyak kedua dalam jumlah penderita TBC

Rep: arie lukihardianti/ Red: Hiru Muhammad
Pertemuan lintas sektor tingkat kabupaten/kota untuk menekan penyebaran TBC dan mencegah penambahan stunting, di Bandung, Rabu (9/11/2022). 
Foto: istimewa
Pertemuan lintas sektor tingkat kabupaten/kota untuk menekan penyebaran TBC dan mencegah penambahan stunting, di Bandung, Rabu (9/11/2022). 

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG---Kesadaran masyarakat terhadap ancaman penyakit tuberkulosis (TBC) masih rendah. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat Nina Susana Dewi, hal ini membuat jumlah penderitanya terus bertambah bahkan tak kunjung sembuh. 

Saat ini Indonesia merupakan negara terbanyak kedua dalam jumlah penderita TBC. Jawa Barat sendiri, menjadi penyumbang terbesar dengan prediksi terdapat 128 ribu warga yang mengidap penyakit tersebut.

Baca Juga

"Yang ditemukan baru 103 ribu," ujar Nina saat menggelar pertemuan lintas sektor tingkat kabupaten/kota untuk menekan penyebaran TBC dan mencegah penambahan stunting, di Bandung, Rabu (9/11).  Kegiatan ini merupakan rangkaian dari peringatan Hari Kesehatan Nasional tingkat provinsi Jabar.

Nina menjelaskan, tingginya pengidap TBC diakibatkan berbagai hal. Salah satunya karena pengobatannya yang lama setidaknya mencapai enam bulan. Akibatnya, tidak sedikit pasien yang menghentikan pengobatan meski baru berjalan beberapa bulan bahkan pekan saja. "Orang tak tahan terus menerus berobat setiap hari," katanya. 

Selain itu, kata dia, ada juga pasien yang merasa sudah sembuh meski beru berobat 1-2 bulan."Jadi ini yang menyebabkan tak tercapainya pengobatan," katanya.

Penyebab lainnya, kata Nina, banyaknya orang yang masih merasa malu ketika ada keluarganya yang terkena TBC. Sehingga, masih banyak masyarakat yang punya kontak erat dengan pengidap TBC namun tidak melakukan pengobatan. Padahal, penularan penyakit tersebut relatif mudah karena bisa melalui udara. 

"Padahal harusnya yang kontak erat menjalani terapi pencegahan TBC (TPT), diberi obat juga. Tapi banyak yang kontak erat tidak mau periksa,  sehingga tidak menjalani TPT, ujungnya terkena dan menularkan," katanya.

Selain itu, kata dia, penyebaran TBC pun diperburuk oleh tidak terdeteksinya penyakit tersebut saat pengobatan. Menurut Nina, banyak warga yang merasa terkena flu dan batuk biasa sehingga hanya menjalani pengobatan biasa.

"Mungkin dianggap flu biasa, batuk biasa, padahal sudah sering, sudah lama. Karena informasinya tidak benar, sehingga (saat berobat) tidak diperiksa dahak, tidak dirontgent," katanya. 

Selain itu, kata Nina, masih tingginya penyebaran TBC terjadi karena minimnya pendataan terutama dari fasilitas pelayanan kesehatan swasta. Dia menilai, banyak klinik maupun rumah sakit swasta yang tidak melaporkan jika sedang mengobati pasien TBC.  "Kepatuhan untuk melapor juga kecil. Ini menambah beban untuk menurunkan TBC," katanya.

Sementara menurut Ketua Tim Pencegahan, Pengendalian Penyakit Menular dan Tidak Menular Dinas Kesehatan Jawa Barat, M Yudi Koharudin, ada tiga indikator penting jika ingin menurunan bahkan menghilangkan penularan TBC. 

Pertama, kata dia, penemuan kasus harus mencapai target sehingga tidak ada lagi masyarakat yang tidak mengetahui jika mengidap TBC. Kedua, kata dia, pengobatan harus dilakukan sampai tuntas sedikitnya selama enam bulan. "Indikator ketiga yaitu pemberian terapi pencegahan. Diberikan ke orang-orang yang punya kontak erat dengan pengidap TBC," katanya.

Sama dengan penderita TBC, kata Yudi, orang-orang yang punya riwayat kontak erat pun harus diobati dengan baik.  "Ada yang obatnya diberikan selama tiga bulan, tiap minggu. Ada yang diberikan tiap hari," katanya.

Yudi mengatakan, pihaknya menargetkan penemuan kasus pada 2022 ini mencapai 90 persen. "Alhamdulillah sudah 92 persen," katanya. 

Namun, Yudi mengakui tingkat kesembuhan pengobatan TBC di Jawa Barat baru mencapai 73 persen. Karena, masyarakat belum sadar pentingnya pengobatan (pencegahan) saat sudah kontak erat dengan pasien TBC.  "Tidak hanya keluarganya, petugas yang mengecek pasien pun harus dicek yang diobati," katanya. 

Di tempat yang sama, Kepala Labkesda Jawa Barat, Ema Rahmawati, mengatakan, pihaknya siap melakukan pemeriksaan terhadap sampel TBC. Bahkan, Labkesda Jawa Barat menjadi rujukan nasional pemeriksaan mikroskopis TBC.

Hingga saat ini, kata dia, Labkesda Jawa Barat aktif memberi pelatihan dan pembinaan ke provinsi lain. "Sampai saat ini petugas kami selalu hadir untuk membina provinsi lain," katanya. 

Ema menyebut, dalam setahun pihaknya memeriksa 300-400 ribu sampel TBC rutin dari Jawa Barat dan provinsi lain. "Lalu ada 8 ribu per tahun sampe TB resisten obat," katanya. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement