Kamis 03 Nov 2022 07:50 WIB

Vladimir Putin Puji Keketuaan G20 Indonesia

Rusia memuji kepemimpinan G20 Indonesia yang konstruktif dan terdepolitisasi

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Esthi Maharani
Presiden Rusia Vladimir Putin memuji keketuaan Indonesia di G20.
Foto: Mikhail Metzel, Sputnik, Kremlin Pool Photo v
Presiden Rusia Vladimir Putin memuji keketuaan Indonesia di G20.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW – Presiden Rusia Vladimir Putin memuji keketuaan Indonesia di G20. Pujian itu disampaikan Putin saat melakukan percakapan via telepon dengan Presiden Joko Widodo, Rabu (3/11/2022).

“Para pihak membahas KTT G20 mendatang, yang akan berlangsung di pulau Bali pada 15-16 November. Rusia memuji kepemimpinan G20 Indonesia yang konstruktif dan terdepolitisasi dalam hal isu-isu mendesak seperti upaya memperkuat energi dan ketahanan pangan, memastikan transisi energi yang seimbang, dan transformasi digital ekonomi global, serta untuk meningkatkan layanan kesehatan," kata layanan pers Kremlin dalam sebuah pernyataan, dikutip laman kantor berita Rusia, TASS.

Baca Juga

Selain itu, Putin menyambut baik posisi pribadi Jokowi yang konsisten mempromosikan agenda pemersatu dalam G20. Kendati demikian, pada Senin (31/10/2022) lalu, Putin mengungkapkan bahwa dia belum memutuskan apakah akan menghadiri KTT G20 di Bali. Menurut TASS, percakapan telepon antara Putin dan Jokowi diinisiasi oleh Indonesia.

Selain soal G20, Jokowi dan Putin turut membahas perkembangan konflik di Ukraina. Terkait hal tersebut, Jokowi menyambut keputusan Rusia untuk bergabung dalam kesepakatan koridor gandum Laut Hitam atau Black Sea Grain Initiative (BSGI).

“Melakukan percakapan telepon dengan Presiden (Rusia Vladimir) Putin dan mendiskusikan BSGI. Menyambut keputusan Rusia bergabung kembali dalam inisiatif tersebut,” tulis Jokowi singkat lewat akun Twitter resminya, Rabu malam lalu.

Putin memang telah memutuskan untuk melanjutkan keterlibatan atau partisipasi negaranya dalam BSGI. Putin mengatakan, Ukraina telah memberikan jaminan kepada negaranya bahwa mereka tidak akan menggunakan koridor gandum untuk tujuan militer.

“Saya telah memberikan instruksi kepada Kementerian Pertahanan untuk melanjutkan partisipasi penuh kami dalam upaya ini. Pada saat yang sama, Rusia berhak untuk menarik diri dari perjanjian ini (BSGI), jika jaminan ini dilanggar Ukraina,” ujar Putin, Rabu lalu, dilaporkan TASS.

Pada Sabtu (29/10/2022) pekan lalu, Rusia mengumumkan bahwa mereka menangguhkan penerapan BSGI. Penangguhan dilakukan setelah sejumlah kapal dan infrastruktur militer mereka di Sevastopol diserang pesawat nirawak (drone) Ukraina.

Pada 22 Juli lalu, Rusia dan Ukraina menandatangani kesepakatan koridor gandum di Istanbul. Perjanjian itu ditekan di bawah pengawasan PBB dan Turki. Dengan perjanjian tersebut, Moskow memberi akses kepada Ukraina untuk mengekspor komoditas biji-bijiannya, termasuk gandum, dari pelabuhan-pelabuhan mereka di Laut Hitam yang kini berada di bawah kontrol pasukan Rusia. Itu menjadi kesepakatan paling signifikan yang dicapai sejak konflik Rusia-Ukraina pecah pada 24 Februari lalu.

Rusia dan Ukraina merupakan penghasil 25 persen produksi gandum dan biji-bijian dunia. Sejak konflik pecah Februari lalu, rantai pasokan gandum dari kedua negara itu terputus. Ukraina tak dapat melakukan pengiriman karena jalur pengiriman dan pelabuhan-pelabuhan mereka berada di bawah kontrol Rusia. Sementara Moskow tak bisa mengekspor karena adanya sanksi Barat. Hal itu sempat memicu kekhawatiran bahwa dunia bakal menghadapi krisis pangan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement