Jumat 28 Oct 2022 10:04 WIB

Israel dan Turki Menghidupkan Kembali Hubungan Keamanan

Israel dan Turki telah memperbaiki hubungan diplomatik sekitar dua bulan lalu.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Friska Yolandha
Dalam foto selebaran yang disediakan oleh Kementerian Pertahanan Turki, Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar, kanan, dan Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz berjabat tangan selama upacara penyambutan di Ankara, Turki, Kamis, 27 Oktober 2022. Gantz bertemu dengan mitranya dari Turki pada hari Kamis, melakukan kunjungan pertama oleh seorang pejabat tinggi pertahanan Israel ke Turki dalam lebih dari satu dekade, karena kedua negara mengambil langkah-langkah untuk menormalkan hubungan mereka yang tegang.
Foto: Turkish Defense Ministry via AP
Dalam foto selebaran yang disediakan oleh Kementerian Pertahanan Turki, Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar, kanan, dan Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz berjabat tangan selama upacara penyambutan di Ankara, Turki, Kamis, 27 Oktober 2022. Gantz bertemu dengan mitranya dari Turki pada hari Kamis, melakukan kunjungan pertama oleh seorang pejabat tinggi pertahanan Israel ke Turki dalam lebih dari satu dekade, karena kedua negara mengambil langkah-langkah untuk menormalkan hubungan mereka yang tegang.

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Israel dan Turki kembali menghidupkan hubungan keamanan ketika kedua negara berupaya untuk memperbaiki ketegangan. Israel dan Turki telah memperbaiki hubungan diplomatik sekitar dua bulan lalu. 

“Selama lebih dari satu dekade tidak ada ikatan keamanan formal. Hari ini kami mengubahnya dalam proses yang bertanggung jawab dan bertahap yang melayani kepentingan Israel," ujar Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz, dilaporkan Aljazirah, Kamis (27/10/2022).

Baca Juga

Mengatasi kehadiran kelompok militan Palestina di tanah Turki, Gantz mengatakan, masalah itu telah dibicarakan bersama dengan pemerintah Turki. Menurut Gantz, Israel terus menjalin kerja sama dengan organisasi keamanan Turki.

“Ini adalah pertemuan keamanan strategis pertama setelah bertahun-tahun. Akan ada lebih banyak yang bisa dilakukan bersama untuk mengurangi pengaruh mereka (kelompok militan Palestina) yang mengacaukan kawasan dengan mendukung atau melakukan terorisme terhadap warga sipil yang tidak bersalah. Ini juga berlaku untuk arena Palestina,” kata Gantz.

Pada1949, Turki menjadi negara mayoritas Muslim pertama yang mengakui Israel.  Namun hubungan bilateral mulai merenggang pada 2008 setelah operasi militer Israel di Gaza. Hubungan keduanya kemudian membeku pada 2010 setelah kematian 10 warga sipil menyusul serangan Israel di kapal Mavi Marmara Turki. Kapal tersebut membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza.

Rekonsiliasi singkat berlangsung dari 2016 hingga 2018 ketika Turki menarik duta besarnya dan mengusir duta besar Israel. Langkah ini diambil karena pasukan Israel melakukan serangan ke Gaza yang menewaskan warga Palestina. Hubungan Turki dan Israel mulai mencair setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu lengser.

Presiden Israel Isaac Herzog melakukan kunjungan kenegaraan ke Turki pada Maret lalu. Kemudian pada Juni Perdana Menteri Yair Lapid yang pada saat itu menjabat sebagai menteri luar negeri juga berkunjung ke Turki. 

Pada 17 Agustus, Israel dan Turki mengumumkan pemulihan hubungan secara penuh dan menempatkan kembali duta besar ke masing-masing negara. Menteri Pertahanan Hulusi Akar mengatakan, pemulihan hubungan dengan Israel akan membantu menemukan solusi untuk beberapa persoalan, termasuk Palestina.

“Kami percaya bahwa pengembangan hubungan dan kerja sama kami dengan Israel juga akan berkontribusi pada perdamaian dan stabilitas regional,” kata Akar.

Turki dan Israel pernah menjadi mitra pertahanan yang dekat. Keduanya menandatangani pakta pertahanan pada pertengahan 1990-an, yang memungkinkan pilot angkatan udara Israel berlatih di atas wilayah udara Turki. Israel meningkatkan pasokan tank dan jet militer Turki, serta memasok drone dan peralatan berteknologi tinggi lainnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement