Jumat 28 Oct 2022 03:32 WIB

Gen Z Kuasai Pasar Modal, Total Asetnya Tembus Rp 52,77 Triliun

Per 14 Oktober 2022, total jumlah investor pasar modal mencapai 9,87 juta.

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Nidia Zuraya
Investor memantau perdagangan saham melalui gawainya (ilustrasi).
Foto: Akbar Nugroho Gumay/ANTARA
Investor memantau perdagangan saham melalui gawainya (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Demografi investor pasar modal Indonesia masih didominasi gen z. Per 14 Oktober 2022, PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat jumlah single investor identification (SID) yang berusia 30 tahun ke bawah mencapai 58,91 persen dengan total nilai asset sebesar Rp52,77 triliun.

Direktur Utama KSEI Uriep Budhi Prasetyo mengapresiasi anak muda yang semakin menyadari pentingnya berinvestasi, khususnya di pasar modal. "Dominasi mereka diharapkan dapat terus berlanjut, agar stabilitas pasar modal Indonesia dapat bertahan hingga masa mendatang," ungkap Uriep dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) KSEI, Kamis(27/10/2022).

Baca Juga

Uriep menambahkan, dominasi anak muda Indonesia terhadap pasar modal sejalan dengan upaya pengembangan regulator, salah satunya inisiatif yang telah dilakukan KSEI sejak 2019 yaitu pembukaan rekening secara online.

Hingga 14 Oktober 2022, total jumlah investor pasar modal mencapai 9,87 juta, atau naik 31,85 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya yakni 7,49 juta. Termasuk di dalamnya 9,18 juta investor reksa dana yang mengalami peningkatan 34,30 persen dari tahun sebelumnya. 

Kehadiran agen penjual efek reksa dana berbasis financial technology (fintech) menjadi faktor utama meningkatnya jumlah investor. Hal ini terlihat dari 78,10 persen investor reksa dana membuka rekening melalui agen penjual reksa dana berbasis fintech.

Nilai aset yang tersimpan di KSEI mengalami peningkatan 7,22 persen dari Rp5.639,11 triliun di akhir tahun 2021 menjadi Rp6.046,03 triliun, dengan komposisi nilai aset investor lokal mencapai 58,75 persen. Di sisi lain, nilai reksa dana yang tercatat di KSEI mengalami penurunan 3,56 persen dari Rp826,70 triliun di akhir 2021 menjadi Rp797,25 triliun. 

Uriep juga menjelaskan 13 program strategis KSEI di tahun 2023. Salah satu program strategis KSEI adalah rencana pengembangan alternatif penyimpanan dana nasabah pada sub rekening efek (SRE) untuk memfasilitasi transaksi instrumen efek bersifat ekuitas, efek bersifat utang dan sukuk, ataupun efek lain yang tercatat di KSEI. 

"Program ini bertujuan untuk dapat meningkatkan efisiensi dalam penyimpanan dalam penyelesaian transaksi di pasar modal, termasuk juga untuk memperluas jaringan untuk on boarding investor pasar modal," jelas Uriep.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement