Kamis 20 Oct 2022 23:47 WIB

UIN Kalijaga Gelar Lokakarya Keilmuan Akidah dan Filsafat Islam

UIN Kalijaga gelar lokakarya keilmuan akidah dan filsafat Islam.

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Bayu Hermawan
Kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Foto: Yusuf Assidiq.
Kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Asosiasi Akidah dan Filsafat Islam (AAFI) bekerja sama dengan S-2 Akidah dan Filsafat Islam (AFI) Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga menggelar Lokakarya Keilmuan AFI. Dekan Fakuktas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Inayah Rohmaniyah, menyampaikan tentang idealisme dan realitas yang dihadapi program studi AFI saat ini. 

“Prodi AFI mau tidak mau harus setara diakui secara internasional dengan pemikiran yang substansial. Karena itu, perlu kiranya dilakukan kontinyuitas antara lain dengan adanya penguatan lembaga, rekognisi internasional, penguatan jejaring, dan branchmarking,” ujar Inayah mewakili Rektor UIN Sunan Kalijaga dalam siaran pers, Kamis (20/10/2022). 

Baca Juga

Pada kesempatan itu Inayah juga membuka acara Pengukuhan Pengurus AAFI Periode 2022-2026. Dia berpesan agar AAFI menjadi inhern untuk saling membesarkan satu sama lain dan dapat mencapai rekognisi regional maupun internasional. 

Ketua Penyelengara Lokakarya Keilmuan AFI, Imam Iqbal, menyampaikan, kegiatan itu dihadiri dan diikuti oleh 26 perguruan tinggi di seluruh Indonesia baik negeri maupun swasta. "Ada sekitar 26 PTKIN dan PTKIS yang hadir dan sebetulnya antusiasme peserta sangat besar untuk mengikuti lokakarya mulai dari Aceh hingga Papua, baik Dekan maupun Kaprodi S1 dan S2," kata dia. 

Sementara itu, Ketua Terpilih AAFI, Kholid Al-Walid, menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas kehadiran para peserta lokakarya. Dia juga menyampaikan selamat kepada Pengurus AAFI terpilih periode 2022-2026. 

"Lokakarya dan Pengukuhan Pengurus AAFI periode 2022-2026 punya tujuan utama untuk menguatkan dan memajukan Program Studi AFI dan ikut serta menyumbangkan pemikiran besar bagi kemajuan bangsa," jelas dia. 

Menurut Kholid, asosiasi itu milik seluruh prodi AFI dan punya kewajiban untuk mengembangkan secara bersama. Dia berharap dalam periode baru AAFI dapat memajukan prodi AFI baik di tingkat nasional, regional maupun internasional. 

"Hal paling mendasar, negeri ini membutuhkan sumbangsih dan pemikiran kita yang tidak hanya di kelas saja. Karena itu, sebagai wujud sumbangsih, untuk struktur kepengurusan kali ini agak berbeda, sebisa mungkin mengakomodir semua pihak untuk bersama-sama mengembangkan AAFI," jelas Kholid. 

Sementara itu, Ketua Asosiasi Penyelenggara  Pendidikan Filsafat Indonesia, M Mukhtasar Syamsuddin, menyampaikan, adanya asosiasi seperti AAFI bisa saling menguatkan satu dengan yang lainnya. Menurut dia  filsafat sangat terukur, di mana output pemikir dijabarkan sebagai konseptor, leadership, writer, scripture dan lainnya. 

"Adanya perkumpulan dalam bentuk Asosiasi Filsafat merupakan langkah maju untuk menjaga perkembangan ilmu melalui pembentukan wadah yang relevan terkait dengan gejala ilmu (spesialisasi) filsafat. Karena, gejala ilmu seperti ini tentunya akan menjadi cabang ilmu baru yang terlembagakan dalam bentuk prodi baru (bentuk pemadatan ilmu)," kata dia. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement