Kamis 20 Oct 2022 05:10 WIB

Dua Jenis Pangan Hewani Wajib Ada untuk Atasi Stunting

Dua jenis pangan hewani setidaknya diberikan selama enam bulan untuk atasi stunting

Rep: Antara/ Red: Christiyaningsih
Anak makan (ilustrasi). Dua jenis pangan hewani setidaknya diberikan selama enam bulan untuk atasi stunting.
Foto: Pxfuel
Anak makan (ilustrasi). Dua jenis pangan hewani setidaknya diberikan selama enam bulan untuk atasi stunting.

REPUBLIKA.CO.ID, KARAWANG - Guru Besar Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Ali Khomsan mengimbau dalam satu hari harus ada dua jenis pangan hewani pada menu makan untuk memperbaiki kondisi stunting.

"Terserah mau telur sama ikan boleh, telur sama daging, telur sama ayam silakan. Namun untuk mengejar pertumbuhan anak stunting maka kita anjurkan paling tidak di dalam menu itu ada jenis pangan hewani," ujar Ali saat berbincang usai peluncuran Dapur Sehat Atasi Stunting di Karawang, Jawa Barat, Rabu (19/10/2022).

Baca Juga

Lebih lanjut, ia mengatakan anak-anak yang mengalami stunting rata-rata kekurangan protein. Oleh karena itu perkembangan tubuhnya berhenti, salah satu yang dapat terlihat adalah tidak bertambah tinggi.

Selain pemberian dua jenis pangan hewani, menu makan yang dilengkapi dengan nasi, sayur, dan lauk lainnya juga tetap dianjurkan. Menurut Ali, pemberian dua jenis pangan hewani ini setidaknya dilakukan selama enam bulan untuk memperbaiki stunting.

Dia juga menyoroti seputar masalah pangan lokal yang disebut dapat memperbaiki kondisi stunting. Menurutnya, pemilihan komposisi makanan adalah yang paling penting, termasuk menyertakan dua jenis pangan hewani.

"Itu harus diluruskan karena jangan sampai ini seolah-olah menjadi magic untuk bisa mengatasi stunting dan sebagainya. Karena stunting itu sebenarnya bagaimana asupan makanan yang beragam, bergizi seimbang, dan cukup jumlahnya mengandung kandungan protein hewani," kata Ali.

Kondisi stunting masih dapat diperbaiki hingga anak berusia 18 tahun. Akan tetapi, semakin dini usia perbaikan maka hasilnya akan semakin bagus bagi perkembangan sumber daya manusia.

"Tetapi karena kita konsen terhadap mutu kualitas sumber daya manusia dengan perkembangan kognitif, maka perbaikan itu harus dilakukan di bawah dua tahun sangat ideal, di bawah lima tahun itu masih bisa," kata Ali.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement