Kamis 13 Oct 2022 18:35 WIB

Irak dan Uruguay Ikut Simpan Benih Tanaman di Lemari Besi Arktik

Untuk pertama kalinya Irak dan Uruguay akan ikut simpan benih tanaman di Arktik.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Esthi Maharani
Sebuah lemari besi yang dibangun di sebuah pulau Arktik untuk mengawetkan benih tanaman dunia dari perang, penyakit, dan malapetaka lainnya akan menerima simpanan baru dari Irak dan Uruguay
Foto: AP
Sebuah lemari besi yang dibangun di sebuah pulau Arktik untuk mengawetkan benih tanaman dunia dari perang, penyakit, dan malapetaka lainnya akan menerima simpanan baru dari Irak dan Uruguay

REPUBLIKA.CO.ID, OSLO -- Sebuah lemari besi yang dibangun di sebuah pulau Arktik untuk mengawetkan benih tanaman dunia dari perang, penyakit, dan malapetaka lainnya akan menerima simpanan baru pada Rabu (12/10/2022). Untuk pertama kalinya Irak dan Uruguay akan ikut berpartisipasi.

Svalbard Global Seed Vault terletak di gua-gua permafrost di pulau Spitsbergen di tengah antara daratan Eropa dan Kutub Utara. Fasilitas ini hanya dibuka tiga kali setahun untuk membatasi paparan benihnya dari dunia luar.

Diluncurkan pada 2008, brankas itu bertindak sebagai upaya terakhir untuk bank gen nasional dan regional. Fasilitas ini memainkan peran penting antara 2015-2019 dalam membangun kembali koleksi benih yang rusak selama perang di Suriah.

Lebih dari 45 ribu sampel benih dari 13 bank gen dari Asia, Australia, Eropa dan Amerika Latin akan ditambahkan pada Rabu. Sumbangan ini, menurut Kementerian Pertanian dan Makanan Norwegia, meningkatkan jumlah simpanan menjadi lebih dari 1,2 juta untuk pertama kalinya.

Deposit pertama Irak akan terdiri dari 418 sampel benih spesies liar dan budidaya, termasuk gandum dan beras. Sementara pengiriman awal Uruguay berupa 1.892 benih gandum dan jelai.

"Partisipasi negara-negara dalam misi Seed Vault sangat penting untuk menjamin asuransi jiwa yang diwakili oleh keragaman genetik," kata Direktur Eksekutif Crop Trust yang mengelola fasilitas bersama Norwegia Stefan Schmitz.

Dunia dulu membudidayakan lebih dari 6.000 tanaman yang berbeda. Namun para ahli Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan, sekarang mendapatkan sekitar 40 persen kalori dari tiga tanaman utama, yaitu jagung, gandum dan beras. Kondisi itu membuat persediaan makanan rentan jika perubahan iklim menyebabkan gagal panen.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement