Rabu 12 Oct 2022 18:35 WIB

Biden Ragu Putin akan Gunakan Senjata Nuklir di Ukraina

Biden ragu Putin akan menggunakan senjata nuklir taktis.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Esthi Maharani
 FILE - Presiden Rusia Vladimir Putin memegang teropong saat menonton latihan militer Center-2019 di lapangan tembak Donguz dekat Orenburg, Rusia, pada 20 September 2019. Presiden Rusia Vladimir Putin telah memperingatkan bahwa dia tidak akan ragu untuk menggunakan senjata nuklir untuk menangkal dari upaya Ukraina untuk merebut kembali kendali atas wilayah yang didudukinya yang akan diserap Moskow.
Foto: AP/Alexei Nikolsky/Pool Sputnik Kremlin
FILE - Presiden Rusia Vladimir Putin memegang teropong saat menonton latihan militer Center-2019 di lapangan tembak Donguz dekat Orenburg, Rusia, pada 20 September 2019. Presiden Rusia Vladimir Putin telah memperingatkan bahwa dia tidak akan ragu untuk menggunakan senjata nuklir untuk menangkal dari upaya Ukraina untuk merebut kembali kendali atas wilayah yang didudukinya yang akan diserap Moskow.

REPUBLIKA.CO.ID, KIEV -- Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengatakan pada Rabu (12/10/2022), bahwa dia meragukan Presiden Rusia Vladimir Putin akan menggunakan senjata nuklir taktis. Putin sebelumnya memerintahkan serangan rudal sebagai tanggapan atas dugaan serangan Ukraina di jembatan penghubung Rusia-Krimea akhir pekan lalu.

Menurut Biden dalam wawancara bersama CNN, Putin adalah sosok rasional yang salah perhitungan secara signifikan. Ditanya seberapa realistis yang diyakini bagi Putin untuk menggunakan senjata nuklir taktis, Biden menjawab "Yah, saya rasa dia tidak akan melakukannya."

Baca Juga

Dalam beberapa pekan terakhir, Rusia mencaplok wilayah Ukraina setelah referendum yang secara luas dikecam sebagai ilegal. Sebelum itu Putin pun telah memobilisasi ratusan ribu warga Rusia untuk berperang, dan berulang kali mengancam akan menggunakan senjata nuklir.

Seorang diplomat Eropa mengatakan, organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) sedang mempertimbangkan untuk mengadakan pertemuan puncak virtual. Pertemuan itu untuk mempertimbangkan tanggapannya terhadap ancaman nuklir Rusia, pencaplokan wilayah Ukraina, dan mobilisasi pasukan. Sekretaris Jenderal Jens Stoltenberg mengatakan pada Selasa, NATO belum melihat adanya perubahan dalam posisi penggunaan nuklir oleh Rusia menyusul ancaman tersebut.

Sedangkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengharapkan tanggapan positif dari sekutu Barat di Brussels atas permintaannya untuk peningkatan cepat dalam bantuan milite. Dia menekankan kota-kota Ukraina telah menghadapi lebih banyak serangan rudal Rusia.

Setelah rentetan rudal Rusia pada Senin (10/10/2022), Zelenskyy mengimbau para pemimpin negara-negara  Group of Seven (G7) untuk lebih banyak memberi kemampuan pertahanan udara. Sedangkan G7 bersumpah untuk mendukung Kiev selama diperlukan.

Sedangkan koalisi pimpinan AS dari sekitar 50 negara yang dikenal sebagai Ukraine Defence Contact Group  akan bertemu di Brussels pada Rabu. Acara ini akan berlangsung di sela-sela pertemuan para menteri pertahanan NATO.

“Saya mengantisipasi kemajuan dari mitra kami dalam masalah pertahanan anti-pesawat dan anti-rudal dan perjanjian tentang pasokan baru berbagai senjata dan amunisi yang penting bagi kami,” kata Zelenskyy dalam pidato malam pada Selasa (11/10/2022).

Militer Ukraina mengatakan pada Selasa malam, bahwa serangan rudal Rusia telah merusak lebih dari 10 kota, termasuk Lviv, Bakhmut, Avdiivka dan Zaporizhzhia. Sirene serangan udara meraung sebelumnya di seluruh negeri untuk hari kedua.

"Selama 24 jam terakhir, penjajah kembali melakukan serangan rudal massal - lebih dari 30 rudal jelajah, tujuh serangan udara dan 25 kali penembakan," kata angkatan bersenjata Ukraina.

Serangan rudal lainnya pada Selasa menewaskan tujuh orang di kota tenggara Zaporizhzhia dan membuat sebagian kota barat Lviv tanpa aliran listrik. Menteri Pertahanan Ukraina Oleksii Reznikov merayakan, AS akan memberi empat Sistem Roket Artileri Mobilitas Tinggi (HIMARS) tambahan yang akurasi dan jangkauannya yang lebih jauh telah memungkinkan Ukraina untuk mengurangi keunggulan artileri Rusia.

Selain itu, Ukraina menerima yang pertama dari empat sistem pertahanan udara IRIS-T yang dijanjikan Jerman pada Selasa. Sedangkan Washington mengatakan, sedang mempercepat pengiriman pertahanan udara NASAMS ke Ukraina. Washington telah memberikan bantuan keamanan senilai lebih dari 16,8 miliar dolar AS ke Ukraina selama perang.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement