Monday, 15 Rajab 1444 / 06 February 2023

BPBD DIY Minta Warga Waspadai Potensi Bencana Akibat Cuaca Ekstrem

Senin 10 Oct 2022 01:18 WIB

Rep: Silvy Dian Setiawan / Red: Hiru Muhammad

Petugas memantau aplikasi pelaporan bencana di Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Penanggulangan Bencana BPBD DIY, Semaki, Yogyakarta, Senin (25/4/2022). BPBD DIY meluncurkan aplikasi Pamor (Pusat Data Emergency Operation) sebagai media pelaporan kejadian kebencanaan untuk mempercepat dukungan respon bencana.

Petugas memantau aplikasi pelaporan bencana di Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Penanggulangan Bencana BPBD DIY, Semaki, Yogyakarta, Senin (25/4/2022). BPBD DIY meluncurkan aplikasi Pamor (Pusat Data Emergency Operation) sebagai media pelaporan kejadian kebencanaan untuk mempercepat dukungan respon bencana.

Foto: ANTARA/Hendra Nurdiyansyah
BPBD sudah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait potensi bencana alam

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY meminta masyarakat untuk mewaspadai potensi bencana di musim pancaroba saat ini. Pasalnya, saat ini sering terjadi hujan dengan curah yang tinggi di DIY dan adanya potensi cuaca ekstrem.

Manajer Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD DIY, Lilik Andi Aryanto mengatakan, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait potensi bencana yang diakibatkan cuaca ekstrem.

Baca Juga

"Dari informasi BMKG, potensi hujan di tahun ini mirip dengan tahun lalu, potensi cuaca ekstrem juga. Masyarakat diminta waspada dan melihat hal itu, kami minta kesiapsiagaan dari kabupaten/kota," kata Lilik kepada Republika saat dihubungi, Ahad (9/10).  

Lilik menyebut, dalam sepekan terakhir saja sudah banyak bencana yang terjadi di DIY. Pihaknya mencatat, sebagian besar bencana yang terjadi yakni tanah longsor dan pohon tumbang. "Pohon tumbang banyak yang menimpa rumah warga dan juga fasilitas umum. Selain itu, longsor juga sering terjadi," ujar Lilik.

Terkait dengan bencana longsor, Lilik meminta agar masyarakat lebih waspada, terutama yang tinggal kawasan rawan longsor. Potensi bencana longsor, katanya, merata terjadi di seluruh kabupaten/kota se-DIY. "Bencana longsor, yang harus diwaspadai di daerah Kulon Progo, Bantul, Gunungkidul, Sleman dan juga Kota Yogyakarta, hampir merata," jelasnya.

Begitu pun dengan banjir, Lilik meminta masyarakat untuk mewaspadai bencana ini. Terlebih bagi warga yang tinggal di kawasan bantaran sungai.

Seperti yang terjadi di Piyungan, Bantul, yang beberapa waktu lalu beberapa sungai meluap di kawasan tersebut akibat curah hujan yang tinggi. Ketika terjadi hujan lebat yang lebih dari dua jam, Lilik, meminta agar masyarakat yang tinggal di bantaran sungai untuk segera mengungsi.

"Melihat hal seperti itu, kami berharap selain adanya cuaca ekstrem, masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana longsor dan pinggir sungai, saat hujan lebat bahkan lebih dari dua jam untuk menghindar dari tempat-tempat potensi rawan itu," tambah Lilik.

Selain itu, Lilik juga meminta warga agar tidak membuang sampah ke sungai. Pasalnya, sampah yang menumpuk di sungai dapat menyebabkan penyumbatan aliran sungai dan dapat menyebabkan terjadinya banjir.

"Banjir terutama di wilayah selatan karena banyak air kiriman dari Yogya maupun Sleman yang dampaknya ke selatan (volume air) cukup tinggi, seperti di wilayah Bantul dan Kulon Progo. Kebiasan masyarakat yang masih membuang sampah di sungai juga memperparah, walaupun sebagian kecil yang membuang sampai, tapi akibatnya cukup parah bagi teman-teman di wilayah selatan," katanya.

Terkait dengan pohon tumbang, Lilik juga menyebut, merata terjadi di DIY. Hal ini dikarenakan hujan yang disertai angin kencang dan mengakibatkan banyak pohon tumbang yang bahkan menimpa rumah warga dan fasilitas umum.

Untuk itu, warga diminta memangkas pohon lapuk dan cabang pohon berlebih yang menjadikan ancaman jika terjadi angin kencang. Jika terjadi hujan disertai angin kencang, lanjutnya, agar menghindari pohon besar, termasuk tiang listrik maupun baliho.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga meminta masyarakat DIY untuk mewaspadai cuaca ekstrem. Pasalnya, saat ini secara umum wilayah DIY masuk dalam periode masa peralihan atau pancaroba dari musim kemarau ke musim hujan.

Kepala Kelompok Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Sleman, DIY, Etik Setyaningrum mengatakan, di masa peralihan saat ini potensi terjadinya cuaca ekstrem sering terjadi.

Cuaca ekstrem ini berupa hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang, yang mana berpeluang terjadi pada siang, sore hingga menjelang malam hari.

"Berdasarkan analisis dinamika atmosfer terkini, diidentifikasi terdapat pusat tekanan rendah di perairan sebelah barat Sumatera mengakibat adanya belokan angin atau perlambatan angin di atas wilayah DIY yang memicu pertumbuhan awan-awan hujan, terutama awan cumulonimbus di wilayah DIY," kata Etik belum lama ini.

Etik mengimbau masyarakat untuk mewaspadai masa peralihan yang berpotensi menyebabkan cuaca ekstrem ini. Ia meminta masyarakat agar mewaspadai potensi genangan air, banjir maupun longsor bagi yang tinggal di wilayah berpotensi hujan lebat. "Terutama di daerah rawan banjir dan longsor, seperti yang tinggal di dekat bantaran sungai," jelas Etik.

Selain itu, masyarakat juga diminta untuk waspada terhadap kemungkinan hujan disertai angin kencang. Pasalnya, hujan disertai angin kencang dapat menyebabkan pohon maupun baliho tumbang atau roboh. "Agar tidak berlindung di bawah pohon jika hujan disertai kilat atau petir," tambah Etik.

 

 

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA