Sunday, 3 Jumadil Awwal 1444 / 27 November 2022

Ajaran Islam Tekankan Pentingnya Pencegahan Stunting, Ini Penjelasan Ketua MUI  

Jumat 07 Oct 2022 21:42 WIB

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Nashih Nashrullah

Ilustrasi menyusui bayi sebagai upaya pencegahan stunting. Pencegahan stunting sejalan dengan ajaran Islam tentang merawat anak

Ilustrasi menyusui bayi sebagai upaya pencegahan stunting. Pencegahan stunting sejalan dengan ajaran Islam tentang merawat anak

Foto: Republika/Yogi Ardhi
Pencegahan stunting sejalan dengan ajaran Islam tentang merawat anak

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis, menyebut upaya percepatan penurunan stunting di Indonesia bisa dimulai dengan membangun keluarga maslahah. 

Penyelesaian stunting tidak hanya melibatkan ibu, tetapi juga ayah sebagai anggota keluarga. 

Baca Juga

"Dalam keluarga maslahah ini bukan hanya sakinah, rahmah dan mawaddah, tapi juga manfaah yang mencakup uswah, ta'sir, dan rahmah. Jadi ada proses menjadi teladan pada keluarga lain dan pengaruh pada org lain," kata dia dalam kegiatan Halaqoh Nasional Pelibatan Penyuluh Agama, Dai, & Daiyah Mendukung Percepatan Penurunan Stunting, Kamis (6/10/2022). 

Keberadaan keluarga maslahah disebut akan membawa efek dalam lingkungan. Kehadirannya bukan hanya baik tapi juga memperbaiki, tidak sekadar saleh tapi juga muslih. 

Kiai Cholil lantas menyebut, implikasi dari mawaddah (maddah atau materi) adalah adanya kehamilan, menyusui, rezeki dan pakaian yang baik, serta jangka menyusui. 

Dalam QS Al Baqarah ayat 233 disebutkan, kewajiban ibu menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh dan ayah berkewajiban menanggung nafkah yang cukup, serta pakaian dengan cara yang patut. 

"Nafkah ini berkaitan dengan gizi, baik yang makro dan mikro. Kalau orang itu tidak bisa memenuhi nafkah karena miskin, harus diberi bantuan. Tapi ini kita bicara apakah stunting karena kemiskinan atau soal kesadaran (mitos)," lanjutnya. 

Stunting disebut bukan hanya masalah kesadaran, melainkan juga kemiskinan yang mana berujung pada pemenuhan terhadap gizi yang tidak ada. 

Bentuk kemiskinan lainnya ada dalam hal informasi, sehingga untuk urusan membangun keluarga yang kuat atau dalam hal melahirkan, stigma yang ada dalam masyarakat menyebut ini adalah urusan perempuan. 

Karena itu, Kiai Cholil pun mendorong agar setiap pihak bisa ikut berkontribusi. Termasuk dari sisi agama bisa disampaikan melalui khutbah yang akan didengarkan laki-laki. 

Isi khutbah sebisa mungkin dibuat semenarik mungkin, karena berdasarkan pengalamannya, dia banyak menemui khutbah yang isinya hanya sedikit dibanding kemasannya. 

Dalam I'anat at-Thalibin jilid IV hal 100 disebutkan, "Diwajibkan kepada seorang ibu menyusukan kepada anaknya ('alluba' colestrum), yaitu susu yang keluar pertama-tama sesudah melahirkan dan masa keluarnya antara 3-7 hari." Colestrum ini disebut membuat anak menjadi lebih imun atau memiliki daya tahan tubuh yang baik. 

"Para dai akan menyampaikan ini sebagai bagian dari dakwah, keagamaan, jika ingin mendapat pahala. Pahala bukan hanya ritual, sholat," ucapnya. 

Terakhir, dia menyebut selain mengkampanyekan perihal stunting, perlu juga menyuarakan bagaimana menguatkan sumber daya manusia (SDM) dan membatasi kelahiran. 

Dengan meningkatkan kualitas SDM, maka berkolerasi sebagai bagian dari perjuangan menyampaikan kebenaran dan bagian dari dakwah para ustadz dan ustadzah. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA