Jumat 07 Oct 2022 15:01 WIB

In Memoriam Prof Azyumardi Azra, CBE: Tokoh Pembangun Peradaban dari Masjid

Sejarah pendirian JIC tidak terlepas dari restu dan dukungan Prof Azyumardi.

Cendekiawan Muslim Indonesia, Prof Azyumardi Azra.
Foto: Dok Muhammadiyah
Cendekiawan Muslim Indonesia, Prof Azyumardi Azra.

Oleh : Rakhmad Zailani Kiki, Peneliti Islam di Betawi dan Jakarta

REPUBLIKA.CO.ID, Wafatnya Prof Azyumardi Azra, CBE meninggalkan banyak kenangan dan beliau sangat layak untuk dikenang, in memoriam, bagi siapa saja yang pernah mendapatkan pengajaran, bimbingan, arahan dan nasehat darinya, termasuk Jakarta Islamic Centre (JIC). Karena sejarah pendirian JIC tidak terlepas dari restu dan dukungannya.

Dikisahkan, Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, berangkat ke Amerika Serikat untuk bertemu dengan Prof Azyumardi Azra yang saat itu menjabat sebagai Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan sedang memiliki tugas di Amerika Serikat untuk konsultasi terkait pembangunan masjid raya di tempat eks lokalisasi Kramat Tunggak, yang masjid raya itu kemudian diberi nama Jakarta Islamic Centre (JIC). Atas restu dan dukungan Prof Azyuamrdi Azra, CBE terhadap gagas Sutiyoso inilah JIC kemudian terbangun.

Restu dan dukungan Prof Azyumardi Azra, CBE tersebut memiliki beberapa alasan yang saya ketahui kemudian dari email-email beliau kepada saya. Sehingga tidak berlebihan jika saya menggelari beliau sebagai tokoh pembangun peradaban dari masjid, terlebih juga JIC yang terbangun berkat restu dan dukungannya memiliki visi menjadi pusat peradaban Islam. Di antara  alasan-alasan beliau tersebut yang terkait dengan peran vital masjid di Indonesia sebagai pusat pelestarian dan pengembangan kebudayaan dan peradaban Islam, yaitu:

Pertama, masjid merupakan tempat suci yang khusus di mana kaum Muslimin bersujud menghadap kepada-Nya; tempat untuk menjalankan shalat dan ibadah-ibadah lain, diharapkan secara khusyu’ agar dapat dapat mencapai kedekatan kepada Allah SWT. Melalui masjid dengan berbagai kegiatan keagamaannya, para jamaah dapat terbina keimanan-keislamannya dan ketaqwaannya yang tercermin antara lain dalam akhlaq al-karimah, perilaku mulia.

Kedua, lebih daripada itu, masjid tidak hanya merupakan tempat ibadah, tetapi sekaligus poros di mana kebudayaan dan peradaban Islam berkembang. Hal ini karena masjid bukan sekadar tempat shalat, tetapi menjadi pusat gravitasi kehidupan umat Islam. Masjid juga adalah lokus pembinaan umat dalam bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan bahkan politik dengan berpegang pada prinsip kesucian masjid itu sendiri.

Ketiga, di Indonesia, masjid tidak hanya terdapat di lingkungan pertanggaan masyarakat Muslim, tetapi juga di perkantoran, dari perkantoran pemerintah sampai perkantoran swasta. Sejak masa kemerdekaan, khususnya pada masa pasca-Presiden Soekarno berikutan tumbangnya PKI, masjid secara fenomenal tumbuh menjadi bagian integral dari kehidupan publik. Berbarengan dengan kebebasan mengekspresikan identitas Islam sejak 1970, kian banyak masjid yang didirikan di lingkungan kantor baik pemerintah maupun swasta; di kawasan pendidikan; juga di lingkungan pabrik, dan kemudian pula di mall, tempat rekreasi keluarga dan seterusnya.

Untuk alasan yang ketiga ini, Prof Azyumardi Azra, CBE, menjelaskan lebih lanjut bahwa gejala pertumbuhan masjid demikian merupakan fenomena unik Indonesia yang sulit ditemukan di banyak dunia Islam lain, khususnya di kawasan Arab. Di dunia Arab dan banyak kawasan Muslim lain di mancanegara, masjid umumnya adalah Masjid Jami’ di lingkungan pertetanggaan; karena itu sangat sulit menemukan masjid atau mushala di lingkungan kantor. Sebab itu, tidak heran kalau kita pernah menyaksikan sendiri atau di layar kaca, ada Muslim di kawasan-kawasan tersebut shalat di pinggir jalan atau tempat terbuka lain.

Kenyataan ini, lanjut Prof  Azyumardi Azra, CBE, berkaitan dengan kenyataan, bahwa di Dunia Arab umumnya dan banyak kawasan Muslim lainnya Jumat adalah hari libur. Karena itu para pegawai pemerintah maupun swasta berdiam di rumah atau pergi berlibur sehingga tiada kebutuhan adanya masjid di lingkungan kantor. Jika mau Jumatan, mereka cukup pergi ke masjid jami di lingkungan pertanggaan mereka sendiri.

Sebaliknya di Indonesia, Jumat bukanlah hari libur. Lembaga dan instansi pemerintah dan swasta tetap bekerja normal—dengan waktu istirahat sedikit lebih panjang pada hari Jumat tersebut.

Karena itu, jelas perlu adanya masjid di lingkungan kantor, pabrik, kampus, sekolah dan seterusnya di samping masjid di pertanggaan. Jika masjid hanya tersedia di lingkungan pertetanggaan, bisa dibayangkan, banyak pegawai, karyawan, mahasiswa dan siswa harus keluar dari lingkungan mereka masing-masing dengan kemungkinan terlambat kembali ke tempat mereka bekerja atau belajar.

Menurut Prof Azyumardi Azra, CBE, itulah hikmah dan blessing in disguise dari kenyataan bahwa Jumat bukan hari libur di Indonesia. Kenyataan ini patut disyukuri sebesar-besarnya bagi kaum Muslim Indonesia; dan rasa syukur itu patut diwujudkan dengan memaksimal pemanfaatan masjid untuk pembinaan keimanan-keislaman, ketaqwaan, dan akhlaq al-karimah.

Dan sebaliknya, tidak menggunakan masjid, khususnya di lingkungan perkantoran untuk tujuan-tujuan yang tidak sesuai dengan ketinggian Islam. Kegiatan-kegiatan di masjid, terutama di masjid perkantoran, semacam khutbah Jumat, ceramah dhuha, majelis ta’lim dan sebagainya mesti sejalan pula dengan prinsip-prinsip dakwah yang diajarkan Islam: dengan hikmah dan bijak; pengajaran yang baik (maw’izhah hasanah), dan diskusi yang baik (mujadalah) pula.

Sebab itu, menurut Prof Azyumardi Azra, CBE, takmir masjid berkewajiban memelihara kesucian dan fungsi masjid yang mulia dengan menjaga masjid dari infiltrasi orang-orang atau kelompok tertentu yang ingin menggunakan masjid untuk kepentingan relijio-politik mereka sendiri. Gejala seperti ini perlu dicermati, karena jelas tidak menguntungkan bagi masjid itu sendiri, para jamaah dan umat Islam Indonesia secara keseluruhan. Karena itu, kaum Muslimin Indonesia memikul tugas suci untuk memberi contoh kepada umat Islam di tempat-tempat lain tentang memelihara kesucian masjid dan sekaligus menjadikannya sebagai pusat keagamaan, sosial, dan budaya Islam Indonesia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement