Wednesday, 6 Jumadil Awwal 1444 / 30 November 2022

Capaian Vaksinasi Covid-19 Kedua Anak Dinilai Perlu Dikejar

Jumat 07 Oct 2022 07:33 WIB

Red: Agung Sasongko

Vaksinator menyuntikkan vaksin Covid-19 ke seorang anak di Lobby Langit 23 Paskal, Kota Bandung, Kamis (28/7/2022). Kementerian Kesehatan berencana memberikan vaksin Covid-19 dosis keempat atau booster kedua yang diprioritaskan untuk empat juta tenaga kesehatan (nakes). Hingga Rabu (27/7/2022), total capaian vaksinasi Covid-19 booster di Indonesia sebanyak 26,54 persen atau 55.275.438 penduduk. Foto: Republika/Abdan Syakura

Vaksinator menyuntikkan vaksin Covid-19 ke seorang anak di Lobby Langit 23 Paskal, Kota Bandung, Kamis (28/7/2022). Kementerian Kesehatan berencana memberikan vaksin Covid-19 dosis keempat atau booster kedua yang diprioritaskan untuk empat juta tenaga kesehatan (nakes). Hingga Rabu (27/7/2022), total capaian vaksinasi Covid-19 booster di Indonesia sebanyak 26,54 persen atau 55.275.438 penduduk. Foto: Republika/Abdan Syakura

Foto: REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
Tingkat vaksinasi Indonesia dosis kedua baru mencapai 63% pada kelompok anak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --Indonesia belum terbebas dari penyebaran Covid-19. Vaksinasi belum mencapai standar yang dicanangkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) yakni minimal 70%, khususnya untuk lansia dan anak 6-11 tahun. Anak-anak dapat menjadi penular virus SARS-CoV-2 kepada orang di sekitarnya terutama kelompok rentan, oleh karena itu anakpun harus mendapatkan vaksinasi Covid-19. Hal tersebut perlu menjadi perhatian kita bersama. 

"Walaupun kejadian Covid-19 pada anak tidak banyak dibandingkan dewasa namun dapat menjadi penular, maka untuk memutus transmisi Covid-19 penting anak mendapatkan vaksinasi," kata Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI) Piprim Basarah saat webinar yang diselenggarakan oleh Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional (ITAGI) yang bertajuk “Pentingnya Vaksinasi Covid-19 pada Anak Indonesia,” dalam keterangan tertulisnya Jumat (7/10).

Baca Juga

Menurutnya, anak yang terlindung dari Covid-19 juga dapat melindungi orang di sekitarnya. Termasuk yang memiliki komorbid dan kelompok rentan seperti lansia. Cakupan vaksinasi Covid-19 pada anak dapat melindungi kelompok sekolah sehingga tidak menjadi klaster sumber penularan," ujarnya.

"Dengan adanya subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 yang lebih mudah menular, vaksinasi anak berguna untuk melindungi gejala Covid-19 berat seperti Multisystem Inflammatory System in Children (MIS-C) dan long Covid-19," paparnya. 

Pelaksana Tugas Direktur Pengelolaan Imunisasi Kementerian Kesehatan, Prima Yosephine mengatakan WHO meminta semua negara melakukan vaksinasi minimal 70% dari populasi dan khusus kelompok rentan 100%. "Itu untuk mempertahankan imunitas masyarakat umum dan kelompok masyarakat rentan," jelasnya. 

Ia mengatakan secara umum tingkat vaksinasi Indonesia dosis kedua baru mencapai 63%, pada kelompok anak sudah mencapai 80% untuk dosis pertama. “Tetapi dosis kedua pada anak masih di bawah persentase yang diharapkan, sehingga menjadi tugas semua untuk segera mengejarnya,” ujar dia. 

Sementara angka yang menggembirakan berasal dari capaian vaksinasi pada remaja. “Cakupan imunisasi remaja sudah 95.98% atau 25 jutaan orang untuk dosis pertama dan 82.72% dosis kedua atau sekitar 22 juta orang,” ungkapnya.

Anak-anak memperoleh vaksin Sinovac, sementara untuk remaja menggunakan Sinovac dan Pfizer. “Pada bulan imunisasi, pemberian imunisasi rutin dan imunisasi Covid-19 diberi jarak dua minggu dan dilakukan skrining dasar sesuai SOP,” terangnya. 

Anggota Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), Cissy Kartasasmita menjelaskan vaksinasi anak sangat penting karena tidak hanya melindungi anak, melainkan juga lingkungannya, teman, guru, dan keluarga. “Termasuk orang tua, nenek, kakek dan balita yang belum bisa diimunisasi. Selain itu, vaksinasi anak akan melindungi kerabat yang belum dapat divaksinasi karena memiliki komorbid,” katanya.

Ia menjelaskan program pemberian vaksin pada anak berlaku untuk usia 6-11 tahun. “Vaksin yang akan digunakan aman dan berkhasiat. Vaksin aman karena telah mendapat Emergency Use Authorization (EUA), ijin emergensi BPOM dan mendapat rekomendasi ITAGI,” tegasnya. 

Vaksin sudah diuji melalui uji klinik pada tiap kelompok usia, baik 18-60 tahun, di atas 60 tahun dan juga kelompok 12-17 tahun. Pada anak usia 3-17 tahun telah selesai uji klinik di Tiongkok dan negara lain. "Hasilnya aman dan efektif,” pungkasnya.

Sementara Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Adib Khumaidi mengatakan semua pihak berkewajiban untuk mensukseskan vaksinasi bagi anak. Misalnya dengan terus menerus mensosialisasikan program ini lewat media sosial.

 “Di tengah adanya keraguan pada vaksinasi, maka upaya untuk memperkuat harus kita sampaikan kepada masyarakat dan sejawat. Tapi dengan menghindari pencemaran nama baik, pasien dan sejawat,” tutupnya.

Para pakar dalam acara tersebut umumnya mengingatkan masyarakat dan para orangtua anak usia 6 – 18 tahun agar segera melengkapi anak mereka dengan vaksinasi lengkap Covid-19 dua dosis. Selain itu juga menghimbau para guru serta orangtua agar melengkapi vaksinasi Covid-19 primer dan booster, untuk melindungi anak dan diri sendiri dari bahaya Covid berat. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA