Sunday, 10 Jumadil Awwal 1444 / 04 December 2022

Korban Tewas dalam Penembakan Massal di Thailand Naik Jadi 37

Kamis 06 Oct 2022 22:26 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Teguh Firmansyah

Dalam foto yang dirilis oleh Biro Investigasi Kriminal Thailand, CIB, seorang tersangka penyerang ditunjukkan dalam serangan di kota Nongbua Lamphu, Thailand utara, 6 Oktober 2022. Lebih dari 30 orang, terutama anak-anak, tewas Kamis ketika seorang pria bersenjata melepaskan tembakan di sebuah pusat penitipan anak di timur laut Thailand dan kemudian bunuh diri, kata pihak berwenang.

Dalam foto yang dirilis oleh Biro Investigasi Kriminal Thailand, CIB, seorang tersangka penyerang ditunjukkan dalam serangan di kota Nongbua Lamphu, Thailand utara, 6 Oktober 2022. Lebih dari 30 orang, terutama anak-anak, tewas Kamis ketika seorang pria bersenjata melepaskan tembakan di sebuah pusat penitipan anak di timur laut Thailand dan kemudian bunuh diri, kata pihak berwenang.

Foto: CIB Thailand Via AP
Tersangka merupakan mantan perwira polisi bernama, Panya Kamrap

REPUBLIKA.CO.ID, BANGKOK -- Jumlah korban tewas dalam penembakan massal di Thailand pasa Kamis (6/10) meningkat menjadi 37 orang. Seorang saksi mata mengatakan, staf di fasilitas penitipan anak mengunci pintu ketika melihat pelaku mendekat dengan membawa pistol. Tapi pelaku berhasil masuk.

 "Guru yang meninggal, dia memiliki seorang anak dalam pelukannya," kata seorang saksi yang tidak disebutkan namanya kepada televisi Kom Chad Luek Thailand.  "Saya tidak berpikir dia akan membunuh anak-anak, tetapi dia menembak pintu dan bergerak masuk," ujarnya.

Baca Juga

Sebuah video yang diambil oleh responden pertama yang tiba di tempat penitipan anak di kota pedesaan Nongbua Lamphu menunjukkan, penyelamat bergegas masuk ke gedung melewati pintu depan kaca yang pecah. Tetesan darah terlihat di tanah.

Dalam rekaman yang diunggah di media sosial setelah serangan, anggota keluarga yang panik terdengar menangis di luar fasilitas penitipan anak. Sementara foto lainnya menunjukkan lantai sebuah ruangan berlumuran darah dengan tikar tidur berserakan.  

Polisi mengidentifikasi tersangka merupakan mantan perwira polisi bernama, Panya Kamrap (34 tahun). Polisi Mayor Jenderal Paisal Luesomboon mengatakan kepada PPTV, Panya dipecat dari kepolisian awal tahun ini karena tuduhan narkoba.

Dalam sebuah posting Facebook, kepala polisi Thailand Jenderal Dumrongsak Kittiprapas mengatakan, pelaku dijadwalkan menghadiri sidang dalam kasus yang melibatkan kepemilikan metamfetamin pada Jumat (7/10). Pelaku diduga melakukan penembakan massal di tempat penitipan anak karena berada dekat dengan rumahnya.

Sebelumnya, Dumrongsak mengatakan, senjata utama yang digunakan adalah pistol 9mm yang dibeli sendiri oleh pelaku. Pelaku juga memiliki senapan dan pisau. Polisi masih mendalami motif pelaku melakukan penembakan massal.

Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-o-cha berencana melakukan perjalanan ke tempat kejadian pada Jumat. Dia menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada seluruh keluarga korban.

"Ini tidak boleh terjadi. Saya merasakan kesedihan yang mendalam terhadap para korban dan kerabat mereka," ujar Prayuth.

Polisi belum memberikan rincian lengkap tentang jumlah korban tewas, tetapi mereka mengatakan setidaknya 22 anak-anak dan dua orang dewasa tewas di lokasi kejadian. Setidaknya dua anak lagi tewas di tempat lain.  Mereka mengatakan 12 orang terluka.

Kematian terkait senjata api di Thailand jauh lebih rendah daripada di negara-negara lain seperti Amerika Serikat dan Brasil. Tetapi jumlah kekerasan dengan senjata api di Thailand lebih tinggi daripada Jepang dan Singapura yang memiliki undang-undang pengendalian senjata cukup ketat.  

Tingkat kematian terkait senjata api pada 2019 adalah sekitar 4 per 100.000, dibandingkan dengan sekitar 11 per 100.000 di AS dan hampir 23 per 100.000 di Brasil.  Menurut survei pada 2017 oleh organisasi nirlaba GunPolicy.org Australia, Thailand merupakan  salah satu negara dengan tingkat kepemilikan senjata api sipil tertinggi di Asia, dengan 15,1 senjata per 100 penduduk dibandingkan dengan Singapura sebesar 0,3 dan Jepang sebesar 0,25. Jumlah tersebut masih jauh lebih rendah dari AS sebesar 120,5 per 100 orang.

 

sumber : AP
Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA