Wednesday, 13 Jumadil Awwal 1444 / 07 December 2022

5 Tanda Depresi yang tak Biasa

Jumat 07 Oct 2022 05:07 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Nur Aini

Depresi (ilustrasi).Rasa sedih hingga kesepian sebenarnya merupakan reaksi normal yang bisa dirasakan oleh siapa saja.

Depresi (ilustrasi).Rasa sedih hingga kesepian sebenarnya merupakan reaksi normal yang bisa dirasakan oleh siapa saja.

Foto: tribune.com.pk
Diperkirakan ada 5 persen orang dewasa di dunia yang hidup dengan depresi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rasa sedih hingga kesepian sebenarnya merupakan reaksi normal yang bisa dirasakan oleh siapa saja. Akan tetapi, rasa sedih yang intens dan berlangsung dalam jangka panjang bisa jadi merupakan kondisi depresi yang membutuhkan penanganan medis.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan bahwa depresi merupakan gangguan kesehatan mental yang menjadi salah satu penyebab disabilitas terbesar di dunia. Diperkirakan ada 5 persen orang dewasa di dunia yang hidup dengan depresi.

Baca Juga

Dalam kondisi terburuk, depresi bisa mendorong munculnya keinginan bunuh diri. WHO mengungkapkan bahwa ada lebih dari 700 ribu kematian per tahun akibat bunuh diri. WHO juga menyatakan bahwa bunuh diri merupakan penyebab kematian keempat terbesar pada kelompok usia 15-29 tahun.

Ketika episode depresif terjadi, penderita depresi bisa merasakan suasana hati yang muram, seperti merasa sedih, mudah marah, atau kosong. Mereka juga bisa kehilangan minat terhadap sesuatu yang sebelumnya disukai, mengalami masalah konsentrasi, hingga merasa tak memiliki harapan. Gejala-gejala ini biasanya berlangsung selama minimal dua pekan.

Selain gejala-gejala yang umum, ada beberapa tanda tak umum yang juga bisa dialami oleh penderita depresi. Berikut ini adalah tanda-tanda yang patut diwaspadai tersebut, seperti dilansir WebMD.

Belanja tak Terkontrol

Sebagian penderita depresi bisa merasakan dorongan yang kompulsif untuk berbelanja, baik secara daring maupun luring. Kegiatan berbelanja ini mungkin bisa menjadi distraksi atau memperbaiki suasana hati untuk sementara waktu. Akan tetapi, kegiatan ini tak benar-benar bisa memperbaiki kondisi depresi.

Penggunaan Internet Berlebih

Menghabiskan terlalu banyak waktu di internet juga bisa menjadi pertanda depresi. Beberapa studi telah menemukan adanya hubungan antara kadar depresi yang tinggi dengan penggunaan internet berlebih. Beberapa situs yang biasanya dikunjungi adalah situs permainan, komunitas daring, dan pornografi.

Makan Berlebih dan Obesitas

Studi pada 2010 yang dilakukan oleh tim peneliti dari University of Alabama menemukan bahwa orang-orang yang depresi cenderung mengalami kenaikan berat badan di sekitar pinggang. Beberapa studi lain juga menemukan adanya hubungan antara depresi dengan binge eating atau dorongan untuk makan dalam jumlah besar dalam satu waktu. Mengatasi depresi bisa turut memperbaiki kecenderungan obesitas dan makan berlebih.

Nyeri Punggung

Rasa nyeri di punggung yang tak kunjung hilang bisa jadi merupakan pertanda depresi. Beberapa studi menemukan bahwa depresi bisa menjadi faktor risiko dari nyeri punggung bawah kronis atau jangka panjang. Sebuah studi juga menemukan bahwa 42 persen orang dengan keluhan nyeri punggung bawah mengalami depresi sebelum keluhan nyeri tersebut muncul. Sayangnya, depresi kerap terabaikan dan tak terdeteksi karena orang-orang tak mengaitkan keluhan nyeri punggung dengan depresi. Sebaliknya, orang dengan masalah nyeri punggung kronis juga berisiko mengalami depresi.

Tidak Merawat Diri

Mengabaikan perawatan diri yang dasar bisa jadi merupakan tanda dari depresi dan kepercayaan diri yang rendah. Tanda yang muncul bisa berupa tidak menyikat gigi hingga mengabaikan pengobatan meski sudah didiagnosis dengan penyakit kronis seperti diabetes atau penyakit jantung. Mengatasi masalah depresi bisa membuat penderita kembali peduli dan merawat diri sendiri. 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA