Tuesday, 5 Jumadil Awwal 1444 / 29 November 2022

Perempuan Alami Gangguan Menstruasi? Segera Periksa ke Dokter

Rabu 05 Oct 2022 22:13 WIB

Red: Nora Azizah

Gangguan menstruasi sering dikaitkan dengan sindrom polikistik ovarium.

Gangguan menstruasi sering dikaitkan dengan sindrom polikistik ovarium.

Foto: Freepik
Gangguan menstruasi sering dikaitkan dengan sindrom polikistik ovarium.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dokter spesialis kebidanan dan kandungan dr Gita PratamaSp.OG(K), MRepSc, mengimbau perempuan yang mengalami gangguan menstruasi berupa siklus yang tidak teratur agar segera memeriksakan diri ke dokter. Pasalnya, hal ini dikhawatirkan mengidap polycysticovariansyndrome (PCOS) atau sindrom polikistik ovarium.

"Mitos bahwa gangguan haid itu lumrah pada perempuan sebelum menikah itu sebaiknya jangan dipercaya. Kalau memang ada gangguan haid, terutama kalau sudah sampai 3 bulan ke atas, sebaiknya langsung ke dokter karena khawatir terjadinya penebalan dinding rahim," kata dokter dari RSUPN DrCipto Mangunkusumo itu dalam diskusi virtual di Jakarta, Rabu (5/10/2022).

Baca Juga

Ia menjelaskan bahwa sindrom polikistik ovarium (PCOS) merupakan suatu kelainan pada perempuan dengan berbagai kumpulan gejala. Gejala-gejala tersebut dapat berupa gejala kelainan hormonal, reproduksi, atau juga metabolik. Selain masalah infertilitas, ia mengatakan PCOS dikhawatirkan memicu penebalan dinding rahim (endometrium) bahkan kanker endometrium.

"PCOS ini banyak sekali penderitanya dan pasien saya juga bisa dibilang sebagian besar pasien PCOS," ujar dokter yang akrab disapa Tommy itu.

Ia memperkirakan sekitar 10 hingga 15 perempuan menderita PCOS, namun sayangnya sekitar 50 persen dari pasien PCOS tidak terdiagnosis dengan baik. Ketidaktahuan pada pasien serta ketidakmampuan dokter umum dalam mendiagnosis menjadi faktor PCOS tidak tertangani.

Tommy menjelaskan, setidaknya terdapat tiga gejala umum PCOS, yaitu gangguan siklus haid, hiper-androgen atau kelebihan hormon testoteron yang ditandai salah satunya tumbuh rambut berlebihan, serta folikel atau telur yang tidak membesar pada saat masa subur yang dapat dilihat melalui USG. Gangguan siklus menstruasi memang menjadi salah satu gejala yang kerap dijumpai pada pasien PCOS. Namun begitu, kata Tommy, terdapat sekitar 10 persen pasien PCOS yang memiliki siklus haid teratur.

"Kalau memang haidnya teratur tetapi ada pertumbuhan rambut yang berlebihan atau susah punya anak, sebaiknya ke dokter juga. Walaupun kecil (risiko), bisa terjadi (PCOS). Kalau ke dokter mungkin bagusnya pada saat masa subur, untuk dilihat apakah ada telur yang membesar atau tidak," katanya.

PCOS lebih rentan dialami perempuan dengan obesitas karena berkaitan dengan peningkatan kadar insulin yang dapat menyebabkan telur tidak membesar serta terganggunya proses ovulasi. Namun demikian, Tommy juga mengatakan perempuan dengan tubuh kurus bukan berarti lepas dari risiko PCOS. Biasanya perempuan kurus yang mengalami PCOS berkaitan dengan masalah kelebihan produksi hormon peluteinatauluteinising hormone(LH).

"LH ini bersama dengan hormon lain yaitufollicle stimulating hormone(FSH) akan mengatur perkembangan telur, jadi harus seimbang. Misalnya LH kadarnya 5, berarti FSH-nya 5. Tapi kalau LH-nya berlebihan, misal LH-nya 10 sementara FSH-nya 5, maka akan terjadi peningkatan hormon androgen atau hormon laki-laki," kata Tommy.

Proses selanjutnya sama seperti pada perempuan obesitas. Dengan peningkatan hormon androgen akan menyebabkan telur susah tumbuh, tidak terjadi ovulasi, dan kemudian terjadi gangguan-gangguan hiper-androgen.

Menurut Tommy, langkah awal yang perlu dilakukan pada penderita PCOS yaitu mengubah gaya hidup sehat dengan konsumsi gizi seimbang serta berolahraga. Walau pasien PCOS bukan obesitas dan tidak perlu menurunkan berat badan, olahraga tetap dibutuhkan untuk membantu memperbaiki hormon LH.

"Penelitian menunjukkan kalau pasien yang nir-obes olahraga, ternyata ada perbaikan dari hormon LH. Jadi coba olahraga teratur karena hormon LH ini juga bisa dipengaruhi oleh berbagai macam hal misalnya faktor lingkungan, stres, dan sebagainya," katanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA