Friday, 15 Jumadil Awwal 1444 / 09 December 2022

Khamenei Tuduh AS-Israel Rancang Protes Mahsa Amini untuk Kacaukan Iran

Selasa 04 Oct 2022 10:25 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Esthi Maharani

Dua wanita berjalan-jalan di bazaar tua Teheran dengan pakaian Islami dari ujung kepala hingga ujung kaki, Iran, Sabtu, 1 Oktober 2022. Ribuan warga Iran turun ke jalan selama dua minggu terakhir untuk memprotes kematian Mahsa Amini, seorang wanita berusia 22 tahun yang telah ditahan oleh polisi moral di ibukota Teheran karena diduga mengenakan jilbab wajibnya terlalu longgar.

Dua wanita berjalan-jalan di bazaar tua Teheran dengan pakaian Islami dari ujung kepala hingga ujung kaki, Iran, Sabtu, 1 Oktober 2022. Ribuan warga Iran turun ke jalan selama dua minggu terakhir untuk memprotes kematian Mahsa Amini, seorang wanita berusia 22 tahun yang telah ditahan oleh polisi moral di ibukota Teheran karena diduga mengenakan jilbab wajibnya terlalu longgar.

Foto: AP Photo/Vahid Salemi
Protes soal Mahsa Amini diesbut sebagai plot asing untuk mengacaukan Iran

REPUBLIKA.CO.ID, DUBAI -- Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menanggapi secara terbuka protes terbesar di Iran dalam beberapa tahun pada Senin (3/10/2022). Dia akhirnya memecah kesunyian dengan mengutuk kerusuhan dan menuduh Amerika Serikat (AS) serta Israel merencanakan protes yang terjadi di negaranya.

"Kerusuhan ini sudah direncanakan. Kerusuhan dan ketidakamanan ini dirancang oleh Amerika dan rezim Zionis, dan para petugasnya," ujar Khamenei berbicara kepada kader mahasiswa polisi di Teheran.

Baca Juga

Khamenei mengaku sangat sedih dengan kematian Mahsa Amini yang berusia 22 tahun dalam tahanan polisi dan menyebutnya sebagai insiden tragis. Namun, dia mengecam protes tersebut sebagai plot asing untuk mengacaukan Iran, menggemakan komentar pihak berwenang sebelumnya.

Khamenei juga mengutuk adegan pengunjuk rasa merobek jilbab dan membakar masjid, bank, dan mobil polisi. "Tindakan yang tidak normal, tidak wajar," ujarnya.

Pemimpin tertinggi ini memperingatkan, bahwa pihak yang mengobarkan kerusuhan untuk menyabotase Iran pantas mendapatkan tuntutan dan hukuman yang keras. Kerusuhan itu dipicu oleh kematian Amini dalam tahanan polisi moral Iran. Unjuk rasa berkobar di seluruh negeri selama minggu ketiga meskipun ada upaya pemerintah untuk menindak warga yang turun ke jalan.

Iran menutup universitas teknologi teratasnya Sharif University of Technology pada Senin. Langkah ini diambil menyusul kebuntuan selama berjam-jam antara mahasiswa dan polisi yang mengubah institusi bergengsi itu menjadi titik nyala protes terbaru dan berakhir dengan ratusan anak muda ditangkap.

Pihak kampus mengumumkan, hanya mahasiswa doktoral yang diizinkan berada di kampus sampai pemberitahuan lebih lanjut setelah berjam-jam kekacauan pada akhir pekan. Saksi mata mengatakan pengunjuk rasa antipemerintah bentrok dengan mahasiswa pro-kemapanan.

Para saksi yang berbicara dengan syarat anonim karena takut akan pembalasan mengatakan, polisi menahan ratusan mahasiswa di kampus dan menembakkan gas air mata untuk membubarkan demonstrasi. Asosiasi mahasiswa mengatakan, petugas berpakaian preman mengepung sekolah dari semua sisi ketika protes mengguncang kampus setelah malam tiba dan menahan sedikitnya 300 mahasiswa.

Kantor berita pemerintah Iran IRNA berusaha untuk mengecilkan kebuntuan kekerasan. Kantor berita itu melaporkan pengumpulan protes terjadi tanpa menimbulkan korban, meski melaporkan polisi membebaskan 30 mahasiswa dari tahanan dan mengakui banyak dari mereka yang terjerat penahanan  secara tidak sengaja ketika mencoba pulang.

Tindakan keras itu memicu reaksi pada hari Senin di dalam dan luar negeri. “Misalkan kita pukul dan tangkap, apakah ini solusinya? Apakah ini produktif?”  tanya kolom di harian surat kabar garis keras Iran Jomhouri Eslami.

Gerakan protes terbaru Iran telah menghasilkan beberapa kerusuhan paling luas di negara itu selama bertahun-tahun. Tanggapan atas kematian Amini itu telah berkembang menjadi tantangan terbuka bagi kepemimpinan Iran, dengan para perempuan membakar jilbab yang diwajibkan negara dan nyanyian "Matilah diktator," bergema dari jalan-jalan dan balkon setelah gelap.

Letusan kemarahan mahasiswa telah mengkhawatirkan Iran setidaknya sejak 1999, ketika pasukan keamanan dan pendukung ulama garis keras menyerang mahasiswa yang memprotes pembatasan media. Gelombang protes mahasiswa di bawah mantan Presiden reformis Mohammad Khatami memicu pertempuran jalanan terburuk sejak Revolusi Islam 1979.

“Jangan sebut itu protes, ini revolusi sekarang,” teriak mahasiswa di Shahid Beheshti University di Teheran, saat para perempuan membakar jilbab mereka.

"Mahasiswa bangun, mereka membenci kepemimpinan!" teriak orang banyak di  University of Mazandaran di utara negara itu.

Polisi anti huru hara telah dikerahkan, berpatroli di jalan-jalan dekat universitas dengan sepeda motor.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA