Monday, 4 Jumadil Awwal 1444 / 28 November 2022

Harga Kedelai di Kota Bandung Capai Rp 12.900 per Kilogram

Senin 03 Oct 2022 19:01 WIB

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Muhammad Hafil

Perajin menyelesaikan produksi tahu di Sentra Produksi Tahu Cibuntu, Babakan Ciparay, Bandung, Jawa Barat, Jumat (30/9/2022). Perajin tahu di Sentra Tahu Cibuntu Kota Bandung mengeluh karena mahalnya kacang kedelai impor yang saat ini sudah mencapai Rp12.800 per kilogram dari harga Rp10.500 per kilogram yang menyebabkan turunnya jumlah produksi.

Perajin menyelesaikan produksi tahu di Sentra Produksi Tahu Cibuntu, Babakan Ciparay, Bandung, Jawa Barat, Jumat (30/9/2022). Perajin tahu di Sentra Tahu Cibuntu Kota Bandung mengeluh karena mahalnya kacang kedelai impor yang saat ini sudah mencapai Rp12.800 per kilogram dari harga Rp10.500 per kilogram yang menyebabkan turunnya jumlah produksi.

Foto: ANTARA/Raisan Al Farisi
Ketersediaan kacang kedelai di Kota Bandung dalam kondisi aman.

REPUBLIKA.CO.ID,BANDUNG—Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) melaporkan, harga kacang kedelai di Kota Bandung untuk importir, depot Kacang Kedelai Indonesia, berada di angka Rp 12.500 per kilo. Untuk harga agen berada di kisaran Rp 12.600 hingga Rp 12.700 per kilo. 

“Sedangkan di harga eceran itu Rp 12.900 per-kg dan stok di distributor MJ itu masih cukup memenuhi kebutuhan pengrajin tahu tempe,” kata Elly saat ditemui di Balai Kota Bandung, Senin (3/10/2022). 

Baca Juga

Terkait stok, Elly memastikan ketersediaan kacang kedelai dalam kondisi aman tersedia. Hingga saat ini juga belum ada laporan adanya mogok produksi atau aksi protes sejenis, sambungnya. “Informasi hari ini dalam kondisi masih aman tersedia dan belum ada riak-riak bahwa akan mogok itu tidak ada. mudah-mudahan tidak sampai mogok,” ujarnya. 

Kenaikan harga kedelai ini, kata dia, mau tidak mau berdampak pada keputusan para pengrajin tahu tempe untuk mengatur siasat agar produksi terus berlanjut, baik dengan menaikkan harga maupun memperkecil ukuran. Sejauh ini, siasat yang banyak dipilih adalah mengecilkan ukuran tempe/tahu, dibanding menaikkan harga, sambungnya. 

“Yah memang kan karena harga bahan bakunya naik otomatis banyak keputusan yang dibuat oleh para pedagang adalah harga tetap, tapi ukuran berkurang atau ukuran tetap harga naik,” ujarnya.

“Siasat yang dipilih oleh pedagang kebanyakan adalah harga tetap ukuranya di kurangi. Harga sebelum kenaikan itu Rp. 11.500,” tambah Elly.

Menurutnya, kenaikan ini bukan hanya disebabkan kenaikan bahan bakar minyak (BBM), melainkan juga melemahnya nilai kurs rupiah, merujuk nilai rupiah di Amerika dan Kanada yang saat ini mengalami penurunan. Namun, dia tidak menampik bahwa tingginya ongkos kirim akibat kenaikan BBM juga menjadi faktor yang berperan dari kenaikan harga ini. 

Mengutip pernyataan Disperindag Jawa Barat, akan ada penyaluran subsidi untuk membantu mengurangi biaya distribusi dan logistik kedelai. Nilai bantuan yang akan diterima distributor, kata Elly, diperkirakan sebesar Rp 1.000 per kilogram, dan akan mulai disalurkan pada Desember 2022 mendatang.

“Ini dilakukan kerjasama dengan bulog, baru mau rapat hari ini, jadi direncanakan akan ada subsidi Rp. 1000 rupiah per-kg kepada distributor kacang kedelai dan itu dilakukan dengan kerjasama dengan bulog. Baru, dengan bulog dan Kopti dan distributor. dan saya dapat informasi bulug mau rapat besok,” terang Elly. 

Sementara itu, Ketua Paguyuban Tahu Tempe Jabar M Zamaludin mengatakan, saat ini banyak pengrajin yang memutuskan vakum dan menghentikan produksi. 

Kenaikan harga ini, kata dia, kemungkinan bukan hanya merupakan dampak kenaikan BBM namun juga akibat ketergantungan Indonesia pada kedelai impor. 

“(Produksi kedelai) Udah gak aman, banyak yang berhenti juga, gak tau juga persisnya. (Kenaikan) Bukan karena bbm itu mah, kalau BBM biasanya naik Rp 100-200 perak, itu kan udah lebih dari Rp 1.000 jadi bukan karena BBM,” kata Zamaludin saat dihubungi, Senin (3/10/2022). 

“Alasannya sih importir ngomongnya ada kelangkaan lagi tapi kan gak tau sih yang pastinya, malahan kan katanya juga di luar ini lagi turun harganya tapi di sini malah naik terus. Sudah lebih dari sebulan (naik),” sambungnya. 

Untuk menghindari potensi gulung tikar, kebanyakan pengrajin memang memutuskan untuk menaikkan harga, meski ada pula yang memutuskan untuk memperkecil ukuran atau mengurangi produksi. Zamaludin, mewakili seluruh pengrajin tahu-tempe, mengaku terus menanti janji pemerintah untuk memberikan bantuan subsidi bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UKM). 

“Pemerintah ngomongnya mau ada subsidi tapi ya gak tau juga kapan ngomong nya karena seperti kemarin kita gak merata yang dapat subsidinya gak semua dapat jadi ya pemerintah harus membenahi itu juga jangan sampai istilahnya yang dapet, dapet, yang enggak, enggak,” keluhnya. 

“Terus ya harapan kita bulog jualan kedelai lagi seperti dulu jadi bulog importir juga. Soalnya kalau bulog jualan kan murah. Importir ada lokal juga ada gitu kan cuma kalau bulog ngadain kedelai lagi dulu kan ada pajale, padi jagung kedelai, itu kan lebih mulai harganya, beli di koperasi juga paling murah. Sekarang koperasi malah jadi paling mahal,” harapnya. 

 

 

 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA