Thursday, 7 Jumadil Awwal 1444 / 01 December 2022

Erick Ajak Akademisi dan Profesional Indonesia di Inggris Perkuat Fondasi Indonesia Maju

Ahad 02 Oct 2022 18:13 WIB

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Gita Amanda

Menteri BUMN, Erick Thohir percaya kemampuan para akademisi dan profesional yang menimba ilmu di luar negeri akan membawa Indonesia maju pada 2045.

Menteri BUMN, Erick Thohir percaya kemampuan para akademisi dan profesional yang menimba ilmu di luar negeri akan membawa Indonesia maju pada 2045.

Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Erick percaya pemikiran dan keahlian anak bangsa akan berperan di masa depan

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Menteri BUMN, Erick Thohir percaya kemampuan para akademisi dan profesional yang menimba ilmu di luar negeri akan membawa Indonesia maju pada 2045. Dengan keahlian dan kompetensi yang dimiliki, Erick optimistis pemikiran, pengetahuan, dan keahlian anak-anak bangsa itu akan berperan di masa depan. 

"Dengan masalah yang kian kompleks, tantangan ekonomi post Covid-19, dan geopolitik, Indonesia yang memiliki pertumbuhan ekonomi relatif stabil ketimbang negara-negara lain, tak bisa berpuas diri. Tetap dibutuhkan sumbangan ide, terobosan, dan pemikiran inovasi agar kita bisa bertahan," ujar Erick Thohir pada diskusi yang dihelat oleh Doctrine UK (Doctoral Epistemic of Indonesia in the UK) di London, Inggris, Sabtu, (1/10/2022).

Diskusi yang berlangsung di Yangtse Theatre, London School of Economics and Political Science (LSE), juga membahas sejumlah isu penting terkini di Tanah Air terutama kinerja BUMN dan perkembangan ekonomi secara umum. Erick mengatakan dia melakukan sejumlah transformasi agar perusahaan milik negara bisa makin bertumbuh sehat dan memberi keuntungan buat negara dan rakyat.

Yang paling penting, kata Erick, BUMN harus memberikan keseimbangan atas pertumbuhan ekonomi dan melakukan sejumlah intervensi agar pasar lebih stabil. Menjawab pertanyaan peserta diskusi apakah kebijakan Erick akan berat ke sisi negara atau pro pasar, mantan Presiden Inter Milan itu menjawab bahwa banyak pilihan yang bisa diambil tapi tak selalu dikotomis pasar versus negara.

“Pilihan kebijakan ekonomi itu beragam, mau market-led atau state-led, pilihan tergantung konteks lokal dan strategi nasional kita,” lanjut Erick, dalam siaran persnya. 

Dia mencontohkan di dunia ada negara maju seperti Amerika dan di Eropa yang mengambil kebijakan sangat pro pasar, tapi ketika krisis mereka juga kepayahan. Di sisi lain, ada yang dikendalikan negara, seperti Cina dan Vietnam, dalam beberapa hal negara itu bisa bertahan dari krisis.

Menurut Erick, kita harus belajar dari berbagai pengalaman negara lain. "Satu hal yang pasti, Indonesia adalah negara demokrasi dan populasi Muslim terbesar di dunia,” ujarnya. 

Dengan realitas itu, kebijakan yang dibuat harus mencerminkan realitas yang ada. “Kita punya market besar, kita ada UMKM, dan kita juga punya pasar yang tak seimbang berhadapan dengan dinamika bisnis global,” ucap Erick kepada peserta yang mayoritas sedang studi program doktoral di berbagai kampus di Inggris itu.

Karena itu, menurut Erick, dalam menata BUMN dia mengacu pada pelajaran dari negara-negara Skandinavia yang menyeimbangkan pasar dan negara. “Negara dituntut hadir, misalnya pada saat Covid-19. Negara harus beri bantuan saat rajyat susah, ada intervensi pasar,” ujarnya. 

Dia mengatakan saat krisis vaksin saat pandemi Covid-19 kemarin hanya dua negara yang merespon permintaan bantuan dari Indonesia, yaitu Inggris dan China. 

“Semua negara memikirkan kebutuhan domestiknya, itulah pentingnya kita membangun ketahanan ekonomi dan kesehatan secara mandiri”.

Apa yang dilakukan pemerintah saat ini, kata Erick, misalnya membangun infrastruktur, adalah langkah strategis untuk masa depan. 

“Dengan infrastruktur semisal jalan tol dan pelabuhan, kita mengurangi biaya logistik yang tinggi, dan membuat produk kita kebih kompetitif secara harga di tingkat global,” ungkap Erick.

Untuk itu, dia menambahkan, pemerintah juga berkolaborasi dengan swasta agar ada pembagian peran dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. “BUMN misalnya tak perlu masuk ke pabrik mi instan. Tapi BUMN bisa memperkuat industri gula. Selama ini kita impor gula, padahal lahan kita luas. Tebu juga bisa diolah produk turunannya jadi ethanol misalnya,” sambung Erick.

Dalam kesempatan itu, Erick juga mengundang profesional, praktisi, dan akademisi yang menimba ilmu di luar negeri untuk menyumbangkan pemikiran di perusahaan-perusahaan negara. Terutama untuk meningkatkan potensi-potensi ekonomi Indonesia di masa depan. Salah satunya, ekonomi syariah.

"Indonesia punya masa depan ekonomi menjanjikan di ekonomi syariah. Sebagai sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar, pemerintah menargetkan Indonesia menjadi pusat dari ekosistem syariah dunia. Karena itu, potensi yang ada harus dikelola dengan baik oleh para professional dan praktisi ekonomi syariah yang berorientasi pada level global," kata Erick menambahkan.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA