Tuesday, 5 Jumadil Awwal 1444 / 29 November 2022

Budayawan Jaya Suprana: Tragedi Suporter Sepak Bola Kanjuruhan Peringatan Yang Maha Esa

Ahad 02 Oct 2022 11:53 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Suporter Arema FC memasuki lapangan setelah tim yang didukungnya kalah dari Persebaya dalam pertandingan sepak bola BRI Liga 1 di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022).

Suporter Arema FC memasuki lapangan setelah tim yang didukungnya kalah dari Persebaya dalam pertandingan sepak bola BRI Liga 1 di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022).

Foto: ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto
Tragedi Kajuruhan mengingatkan agar bangsa menghentikan sikap kebencian.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tragedi meninggalnya 127 orang suporter pertandingan sepak bola antara Arema dan Persebaya mengejutkan publik. Budayawan dan aktivis kemanusiaan, Jaya Suprana, menegaskan tragedi terbunuhnya suporter ini harus disikapi sebagai peringatan dari 'Yang Maha Esa' kepada bangsa ini agar segera menghentikan sikap kebencian antarsesama dan terus menjaga persatuan.

''Saya sedih serta sangat memahami atas terjadinya peristiwa ini. Saya bisa merasakan kepedihan dari keluarga para suporter itu. Sekaligus juga, tragedi ini mengingatkan saya kepada rasa sakit, pilu, dan sedih ketika kehilangan keluarga tercinta, yakni ayah saya, terkait tragedi kerusuhan berdarah, yakni pembunuhan di tahun 1965. Saat itu ayah saya menjadi korbannya. Yang paling membuat saya pilu lagi, kenapa peristiwa ini bertepatan dengan hari peringatan kesaktian Pancasila. Kenangan pahit itulah yang membuat saya semakin sedih atas tragedi Kanjuruhan ini,'' kata Jaya Suprana, Ahad, (2/10/2022).

Menurut Jaya Suprana, atas peristiwa 'tragedi Kanjuruhan' tersebut, maka sudah selayaknya bangsa Indonesia saat sekarang mengibarkan bendera setengah tiang tanda negara ini berduka. Adanya sikap ini diharapkan bisa memunculkan kembali rasa batin bangsa ini untuk kembali saling menyayangi dan menghentikan sikap perpecahan, arogan, dan permusuhan.

''Yang saya sedih lagi, kenapa sekarang bangsa ini saling bermusuhan antarsesama warga. Dahulu 1965, 1998, bahkan pada penyelenggaraan pilpres 2019 kemarin begitu banyak darah tertumpah. Ini semua jelas tak bisa diterus-teruskan. Hentikan segala kebencian dan sikap-sikap arogan. Jangan dibiarkan sebab berbahaya sekali bagi bangsa ini,'' tegasnya lagi.

Jaya Suprana lebih lanjut mengatakan, semua anak bangsa Indonesia hendaknya paham akan imbas dari pandemi Covid-19 yang memporak-porandakan kehidupan rakyat. Mereka kini kebanyakan hidup sangat kesusahan, harga bahan pangan naik, pendapatan hilang atau menurun, BBM naik, semuanya kebutuhan hidup naik. Hal ini jelas berbahaya sekali dan imbasnya bisa tampak pada munculnya kekerasan yang tak masuk akal pada pertandingan sepak bola tersebut.

''Ingat ya, seratus tahun silam, yakni ketika terjadi pandemi flu Spanyol pada 1920. Sebagai imbas pandemi itu muncul resesi ekonomi dunia (Great Melaise), di Indonesia disebut zaman meleset. Setelah itu muncul perang dunia, yakni perang dunia I dan II. Nah, situasi dunia ini sudah mirip seperti itu. Banyak pemuka agama pun sudah mengingatkan bila situasi kita saat ini sudah mirip sebelum munculnya kerusuhan sosial di 1998 yang juga imbas dari krisis ekonomi. Jadi, sekali lagi saya berharap, tragedi meninggal 127 orang suporter sepak bola menyadarkan kita semua bahwa ini merupakan peringatan dari 'Sang Maha Esa dan Maha Kuasa,'' kata Jaya Suprana.

 

 

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA