Thursday, 14 Jumadil Awwal 1444 / 08 December 2022

Film Blonde di Netflix Banjir Kritikan dari Penggemar Marilyn Monroe

Sabtu 01 Oct 2022 17:17 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti

Film biopik Marilyn Monroe di Netflix mendapat kritikan dari penggemar. (ilustrasi)

Film biopik Marilyn Monroe di Netflix mendapat kritikan dari penggemar. (ilustrasi)

Foto: Netflix
Blonde saat ini memegang skor buruk di Rotten Tomatoes.

REPUBLIKA.CO.ID, LOS ANGELES -- Film biopik Marilyn Monroe berjudul Blonde yang tayang di Netflix menjadi salah satu yang paling dinanti penggemar. Namun setelah sayang, film yang didasarkan pada novel Joyce Carole Oates tersebut menerima banyak kritikan karena dinilai eksploitatif dan tidak layak ditonton.

Disutradarai oleh Andrew Dominik dan diproduseri Brad Pitt, Blonde saat ini memegang skor buruk di Rotten Tomatoes Tomatometer yakni 45 persen, dengan skor penonton 35 persen. Terlepas dari ulasan kritikus, penggemar Marilyn Monroe telah berbagi perspektif mereka tentang film biopik yang diperankan Ana de Armas tersebut, di mana banyak dari mereka mengaku tak bisa menontonnya lebih dari 20 menit.

“Bahkan tidak sampai 20 menit, saya benar-benar tidak bisa menikmati film Marilyn yang baru,” demikian kata pengguna Twitter, @CandySlander.

“Saya menonton 20 menit pertama #blonde dan langsung mengecek Twitter untuk melihat apakah aku melewatkan sesuatu atau apakah orang lain sama jijiknya denganku. Dan aku tak sendirian,” kata seorang pengguna bernama Megan Campbell.

Ada juga pengguna yang menuding sutradara Blonde memiliki fantasi pemerkosaan dan membenci perempuan. “Aku pikir dia seorang misoginis. Siapa pun yang berpartisipasi dalam film cabul ini adalah sampah. Hollywood tidak pernah gagal mengecewakan saya,” kata pengguna bernama Kourtnee Monroe.

Dalam ulasan lainnya, beberapa pengguna juga mengutip pernyataan dari wawancara terakhir Monroe dengan The New York Times pada 1986, di mana dia berkata, "Tolong jangan jadikan saya lelucon”. Dan penggemar menilai film Blonde hanya memosisikan mendiang Monroe sebagai bahan lelucon.

Seperti dilansir CBR Sabtu (1/10/2022), Steph Herold, seorang peneliti yang mempelajari aborsi di televisi dan film juga menyebut Blonde sangat antiaborsi, sangat seksis, serta sangat eksploitatif.

Sementara beberapa penonton seperti Danielle Victoria Fuentes mencatat bahwa film tersebut sangat bagus dan memuji akting de Armas, disisi lain dia juga menilai Blonde sebagai film yang sangat male gaze. Istilah male gaze pertama kali digunakan oleh kritikus seni John Berger dalam karyanya tahun 1972 berjudul Ways of Seeing di mana ia menganalisis penggunaan tubuh wanita sebagai objek.

Istilah ini kemudian dipopulerkan dalam kritik film dan teori feminis oleh kritikus film Laura Mulvey dalam Visual Pleasure and Narrative Cinema sebagai cara untuk menggambarkan tidak hanya tatapan penonton pria tetapi juga tatapan karakter pria dan pria yang menyutradarai film tersebut.

Berdasarkan novel Oates tahun 2000 Blonde, film biopik ini mengikuti kehidupan dan karier Monroe, dari masa kecilnya yang bermasalah sebagai Norma Jeane Mortenson, masa-masa kejayaannya sebagai ikon Hollywood pada 1950-an dan 60-an, hingga momen mengenaskan kala ia overdosis dan meninggal dunia. Blonde adalah film pertama di Netflix yang menerima peringkat NC-17 dari Motion Picture Association untuk sesuatu yang digambarkan sebagai some sexual content. Blonde saat ini bisa ditonton di platform streaming Netflix.

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA