Wednesday, 6 Jumadil Awwal 1444 / 30 November 2022

Ini Kata Komnas KIPI Soal Anak Demam Usai Divaksin Covid-19

Jumat 30 Sep 2022 20:33 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Ilham Tirta

Petugas kesehatan menyiapkan vaksin untuk disuntikkan kepada anak (ilustrasi).

Petugas kesehatan menyiapkan vaksin untuk disuntikkan kepada anak (ilustrasi).

Foto: REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
Vaksin lain yang diberikan pada anak juga disebut mengakibatkan panas.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komisi Nasional (Komnas) Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) mengatakan, anak-anak yang demam usai mendapatkan vaksin Covid-19 umum terjadi. Vaksin lain yang disuntikkan ke dalam tubuh seperti difteri, pertusis, dan tetanus (DPT) juga mengakibatkan panas.

"Kalau demam setelah divaksin sebenarnya bukan hanya vaksin Covid-19. Vaksin DPT sejak 1970-an lalu juga menyebakan demam, tetapi tak heboh," ujar Ketua Komnas KIPI, Hindra Irawan Satari saat konferensi virtual BNPB, Jumat (30/9/2022).

Baca Juga

Ia meminta orang tua dari anak yang mendapatkan vaksin Covid-19 tidak heboh ketika buah hatinya panas usai disuntik karena sebenarnya ini bukanlah masalah. Ia menambahkan, justru ketika anak usai disuntik kemudian mengalami demam, maka kondisi ini artinya memperlihatkan bahwa mekanisme kekebalan tubuhnya sedang bekerja karena benda asing bekerja dalam tubuh.

Vaksin dimobilisasi dan menuju kekebalan tubuh. Namun, ia mengakui prosesnya membutuhkan suhu tertentu dan akhirnya demam dalam satu atau dua hari. Setelah itu, dia melanjutkan, panas hilang dengan atau tanpa pengobatan.

Lebih lanjut, dia menjelaskan, vaksin Covid-19 yang ada di Indonesia menggunakan berbagai macam platform seperti inactivated virus, messenger RNA (MRNA), hingga viral vector yang tak menggunakan virus hidup. Ada yang virusnya dimatikan, menggunakan komponen genetiknya saja atau komponen protein saja. Jadi, ia menegaskan vaksin Covid-19 tidak mungkin menyebabkan seseorang jadi sakit.

"Itu tidak masuk akal," kata dia.

Tak hanya mendorong vaksinasi Covid-19, Hindra mendorong protokol kesehatan (prokes) juga tetap harus dilakukan. Ia mengingatkan, jika tertular virus ini kemudian bisa memasuki saluran napas. Karena itu, ia meminta harus ditutup memakai masker.

Ia merekomendasikan kalau bertemu dengan seseorang yang belum diketahui status kekebalannya membawa virus atau tidak, maka gunakan masker. Selain itu, ia meminta harus ada upaya mengurangi risiso transmisi infeksi dengan menjaga jarak.

Selain itu, ia meminta menjauhi kerumunan juga harus dilakukan. Kemudian, ia merekomendasikan ventilasi udara juga harus lebih baik. Sehingga, konsentrasi virus dalam satu ruangan lebih rendah.

"Jadi, kalau bertemu dengan orang banyak utamakan di udara terbuka, misalnya ulang tahun atau arisan," ujarnya.

Tak hanya itu, ia juga merekomendasikan dalam kamar bisa terkena sinar matahari dan jendelanya terbuka sehingga ada aliran udara. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA