Sunday, 10 Jumadil Awwal 1444 / 04 December 2022

Rajin Perawatan Estetika? Perhatikan Ini Dulu

Jumat 30 Sep 2022 19:02 WIB

Red: Natalia Endah Hapsari

Peluncuran publikasi konsensus oleh panel multidisiplin internasional, Aesthetic Council for Ethical  use of Neurotoxin Delivery (ASCEND)

Peluncuran publikasi konsensus oleh panel multidisiplin internasional, Aesthetic Council for Ethical use of Neurotoxin Delivery (ASCEND)

Foto: dok Merz Group
Botulinum toxin dapat memberikan implikasi jangka panjang untuk aplikasi terapeutik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --- Sejak 1999, injeksi Botulinum Toxin A (“BoNT-A”) telah menjadi prosedur estetika yang paling banyak dilakukan di dunia. Selain itu ini juga merupakan pilihan perawatan lini pertama untuk berbagai kondisi medis.

Secara global, penggunaan BoNT-A dalam estetika telah meningkat karena semakin banyak pasien yang mencari perawatan. Khususnya di Asia Pasifik, pertumbuhan tersebut diperkirakan akan terus bertambah seiring dengan meningkatnya tren pasien estetika dari generasi yang lebih muda serta meningkatnya pendapatan yang dapat dibelanjakan di wilayah tersebut.

Dikarenakan efek BoNT-A bersifat sementara dan dapat berkurang seiring waktu, injeksi berulang diperlukan untuk mempertahankan efek perawatan. Meskipun demikian, injeksi berulang BoNT-A, yang merupakan protein bakteri asing, dapat merangsang pembentukan antibodi, termasuk antibodi netralisasi (NAbs) yang dapat melawan aktivitas biologisnya. Hasilnya adalah imunoresistensi, atau NAb-induced secondary nonresponse (SNR), yang mengacu pada pengurangan atau tidak adanya efek terapeutik setelah perawatan awal yang berhasil.

Menurut sebuah studi riset konsumen yang dilakukan oleh Merz Aesthetics® dalam kemitraan dengan Frost & Sullivan masing-masing pada tahun 2018 dan 2021, lebih banyak responden yang melaporkan penurunan kemanjuran perawatan BoNT-A.

Tindakan paling umum yang diambil oleh pasien untuk mengatasi penurunan kemanjuran tersebut adalah dengan terus melakukan perawatan tetapi dengan dosis dan frekuensi yang ditingkatkan.

Dengan latar belakang tersebut, publikasi konsensus di IMCAS Asia 2022 berjudul “Emerging trends in botulinum neurotoxin A resistance: An international multidisciplinary review and consensus” diluncurkan oleh panel multidisiplin internasional, Aesthetic Council for Ethical  use of Neurotoxin Delivery (ASCEND).

Publikasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang risiko resistensi imun dari perawatan BoNT-A yang berkelanjutan, dan memberikan rekomendasi tentang praktik terbaik, sekaligus mengintegrasikan pertimbangan klinis, etika, dan estetika.

Dr. Wilson Ho, Plastic Surgeon, direktur The Specialists: Lasers, Aesthetic & Plastic Surgery, Hong Kong dan salah satu penulis publikasi konsensus, memaparkan bahwa imunoresistensi BoNT-A diakui secara luas di bidang neurologi, dengan sebagian besar kasus yang dilaporkan sebelumnya terkait dengan indikasi neurologis, di mana dosis yang digunakan biasanya jauh lebih tinggi daripada dosis yang digunakan dalam indikasi estetika.

Bertentangan dengan kepercayaan umum di antara praktisi estetika, dosis total yang diterima untuk prosedur estetika dapat dengan mudah mencapai kisaran yang digunakan untuk indikasi terapeutik, dan sebagai hasilnya, potensi risiko pasien yang mengalami resistensi kekebalan terhadap BoNT-A dapat meningkat.

Rekomendasi lainnya dari publikasi ini adalah pentingnya meningkatkan kesadaran konsumen tentang potensi risiko imunogenisitas. Hal ini membutuhkan pendekatan kolaboratif yang berpusat pada pasien, penilaian individual dan diskusi menyeluruh tentang masalah perawatan BoNT-A dan risiko potensial, termasuk resistensi kekebalan dan potensinya untuk memengaruhi penggunaan terapeutik di masa depan, dengan pasien sejak awal. Tenaga medis profesional dapat memainkan peran besar dalam mendukung pasien untuk memahami dampak perawatan pada kesehatan jangka panjang mereka secara keseluruhan, bukan hanya pada hasil perawatan tertentu.

Dokter Lis Surachmiati Suseno, konsultan dermato-venereologist dari Jakarta, Indonesia, serta salah satu penulis publikasi konsensus, menilai botulinum toxin adalah obat penting yang telah dan masih digunakan secara global selama lebih dari tiga dekade. Indikasinya, lanjut dia, bervariasi dari kondisi medis yang serius hingga tujuan kosmetik dan dermatologis.

Obat ini menghambat pelepasan asetilkolin yang menyebabkan relaksasi pada otot target. ''Sebagai dokter kulit, saya memiliki hak istimewa untuk memberikan onabotulinum-toxinA, kepada banyak pasien dalam praktik yang saya lakukan di Indonesia, sejak tahun 2001, beberapa tahun setelah persetujuan FDA. Kemudahan pemberian, hasil yang hampir instan, dan kepuasan pasien adalah salah satu yang menempatkan onabotulinum-toxinA di atas perawatan lainnya,'' ujarnya. 

Namun, dengan penggunaan berulang, pasien akan mengalami resistensi, efeknya akan hilang lebih cepat; pada enam bulan pertama dan kemudian diperpendek menjadi 3-4 bulan. Penggunaan versi yang lebih baru, incobotulinum-toxinA, bagaimanapun, menunjukkan hasil yang tahan lama. 

Heidy Sembung, Chief Representative, Merz Aesthetics Indonesia, menambahkan, meski saat ini banyak masyarakat Indonesia yang paham dan teredukasi tentang penggunaan BoNT-A untuk perawatan estetika, namun masih banyak yang belum memahami fungsi BoNT-A, isu potensi resistensi BoNT-A dan apa artinya bagi mereka dalam jangka panjang. Hal ini juga mencakup berbagai jenis produk BoNT-A yang tersedia di pasar.

Merz Aesthetics, melalui kantor perwakilan resminya di Indonesia yang berlokasi di Gandaria Office 8, Jakarta Selatan, selalu hadir untuk memantau produk-produk Merz yang beredar di Indonesia, termasuk memberikan dukungan berkelanjutan, dan edukasi bagi tenaga medis profesional agar dapat memberikan layanan terapi estetika BoNT-A terbaik di Indonesia. ''Kami juga berusaha untuk meningkatkan kesadaran di kalangan konsumen tentang resistensi BoNT-A bersama dengan tenaga medis profesional,'' ujarnya.

Produk BoNT-A dari Merz Aesthetics terdaftar melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, sehingga untuk menjaga keselamatan pasien, dokter hanya diperbolehkan membeli produk di distributor resmi seperti Anugerah Pharmindo Lestari dan tidak melalui toko daring.

 

sumber : siaran pers
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA