Tuesday, 9 Rajab 1444 / 31 January 2023

RSPJ Beri Edukasi Bahaya Penyakit Jantung ke Masyarakat

Jumat 30 Sep 2022 14:01 WIB

Red: Erik Purnama Putra

Dokter spesialis penyakit jantung RSPJ, dr Hasril Hadis.

Dokter spesialis penyakit jantung RSPJ, dr Hasril Hadis.

Foto: Istimewa
Serangan jantung dapat menyebabkan kematian bila tidak segera tertangani.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rumah Sakit Premier Jatinegara (RSPJ) bersama dengan tim Cardiac Center memberikan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya penyakit jantung bertepatan dengan Hari Jantung Sedunia. Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO), penyakit jantung merupakan salah satu penyakit dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi di dunia dengan angka 18,6 juta orang setiap tahunnya.

"Namun tidak semua serangan jantung selalu langsung berakibat fatal, bisa saja seseorang mengalami serangan jantung ringan. Pada kasus seperti ini pertolongan pertama harus dilakukan secara cepat dan diikuti dengan penanganan dari ahli penyakit jantung secara komprehensif," kata Hasril dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (30/9/2022).

Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes), penyakit jantung di Indonesia menduduki peringkat tertinggi dengan membebani BPJS hingga lebih dari Rp 10 triliun dan terus meningkat setiap tahunnya. Dokter spesialis penyakit jantung, dr Hasril Hadis, menyatakan, serangan jantung dapat menyebabkan kematian bila tidak segera tertangani.

"Penanganan yang akurat sangat penting untuk meminimalkan kerusakan pada jantung, sehingga pasien dapat kembali pulih secara maksimal," kata Hasril.

CEO RSPJ dr Susan Ananda menyampaikan, salah satu layanan unggulan RSPJ adalah Cardiac Center. RSPJ memiliki fasilitas atau bangsal khusus pasien penyakit jantung (Cardiac Ward) yang berdiri sejak 2015 dengan layanan jantung komprehensif.

"Kami di RSPJ sangat bangga dengan adanya fasilitas ini terutama dengan jajaran dokter spesialis jantung yang kami miliki. Sebagai penyedia layanan kesehatan tentunya kami mengharapkan kehadiran kami juga dapat menambah akses terhadap layanan jantung di Indonesia," kata Susan.

Dilengkapi dengan fasilitas pemeriksaan jantung, monitoring system, defibrillator, ekokardiografi, ambulatory blood pressure monitoring (ABPM), holter, hingga miniecho untuk memonitor jantung pasien dengan lebih cepat. Susan mengatakan, Cardiac Ward juga diperuntukan bagi pasien pra dan post tindakan, seperti percutaneous coronary intervention (PCI), yaitu prosedur intervensi nonbedah.

"Di RSPJ kami juga melakukan layanan bedah jantung dengan teknik coronary artery bypass graft (CABG) dan minimally invasive cardiac surgery (MICS)," jelas Susan.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA