Tuesday, 5 Jumadil Awwal 1444 / 29 November 2022

Jokowi Wanti-Wanti Tahun Depan akan Semakin Gelap

Kamis 29 Sep 2022 18:11 WIB

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Indira Rezkisari

Presiden Joko Widodo.

Presiden Joko Widodo.

Foto: REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
Jokowi minta kepala daerah dan lembaga memiliki sense of crisis.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mewanti-wanti, tantangan dan ketidakpastian global akan semakin gelap pada tahun depan. Berbagai krisis yang terjadi, seperti krisis pangan, energi, finansial, dan juga ancaman resesi yang akan terjadi pun tak bisa dikalkulasi.

“Tiap hari kita selalu diingatkan dan kalau kita baca baik di media sosial di media cetak, di media online semuanya mengenai resesi global, tahun ini sulit dan tahun depan sekali lagi saya sampaikan akan gelap. Dan kita tidak tahu badai besarnya seperti apa, sekuat apa, tidak bisa dikalkulasi,” ujar Jokowi, saat memberikan arahan kepada seluruh Menteri/Kepala Lembaga, Kepala Daerah, Pimpinan BUMN, Pangdam, Kapolda dan Kajati di JCC, Jakarta, Kamis (29/9/2022).

Baca Juga

Krisis yang terjadi di Inggris saat inipun berdampak langsung pada nilai tukar mata uang di semua negara sehingga semakin melemah, termasuk di Indonesia. Perang di Ukraina yang juga belum akan berhenti dalam waktu dekat pun semakin menyulitkan kondisi ekonomi dunia saat ini.

Jokowi mengatakan, ketidakpastian global saat ini mempengaruhi perekonomian di semua negara. Karena itu, ia meminta pemerintah baik pusat maupun daerah agar memiliki kepekaan terhadap kondisi saat ini.

“Ekonomi global juga sangat sulit diprediksi, sangat sulit dikalkulasi, sangat sulit dihitung. Dan siapapun suruh ngitung, pasti akan kesulitan. Arahnya akan ke mana, penyelesaiannya seperti apa, ini yang akan terus saya ulang-ulang dan supaya kita sadar dan semuanya punya sense of crisis,” kata dia.

Jokowi mengatakan, krisis pangan yang terjadi saat ini telah menyebabkan 345 juta orang di 82 negara menderita kekurangan pangan akut. Sedangkan 19.700 orang di dunia tiap harinya meninggal karena kelaparan.

Namun, ia bersyukur krisis pangan ini tak terjadi di Indonesia. Bahkan, Indonesia juga telah mendapatkan sertifikat pengakuan swasembada beras sejak 2019 dan dianggap memiliki sistem ketahanan pangan yang baik dari International Rice Research Institute.

“Tapi jangan senang dulu, karena dunia penuh ketidakpastian. Krisis pangan, krisis energi, kita baru sesuaikan harga BBM, tapi coba bandingkan dengan negara-negara lain. Harga sampai Rp 32 ribu, Rp 30 ribu, Rp 24 ribu. Gas bisa naik sampai 500 persen,” lanjutnya.

Jokowi juga mengingatkan, momok terbesar semua negara saat ini yakni inflasi kenaikan barang dan jasa. Bahkan, inflasi di beberapa negara sudah mencapai lebih dari 80 persen. Karena itu, ia meminta seluruh jajaran pemerintah untuk kompak dalam menghadapi ancaman inflasi ini.

“Oleh sebab itu, kita harus kompak! Harus bersatu dari pusat provinsi, kabupaten, kota sampai ke bawah. Dan semua kementerian lembaga seperti saat kita kemarin menangani covid, kalau covid bisa bersama-sama urusan inflasi ini kita harus bersama-sama,” kata Jokowi.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA