Thursday, 14 Jumadil Awwal 1444 / 08 December 2022

Liz Truss: Pemerintah Harus Ambil Keputusan Sulit

Kamis 29 Sep 2022 15:12 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Friska Yolandha

Perdana Menteri Inggris Liz Truss mengunjungi Berkeley Modular, di Northfleet, Kent, Inggris, Jumat, 23 September 2022.

Perdana Menteri Inggris Liz Truss mengunjungi Berkeley Modular, di Northfleet, Kent, Inggris, Jumat, 23 September 2022.

Foto: Dylan Martinez/Pool Photo via AP
Resesi membayangi Eropa akibat krisis energi yang berdampak ke berbagai sektor.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Perdana Menteri Inggris Liz Truss mengatakan perekonomian Inggris sedang mengalami "masa yang sangat-sangat sulit". Ia menegaskan pemerintah harus segera mengambil tindakan untuk memicu pertumbuhan ekonomi.

Di stasiun radio BBC, Kamis (29/9/2022) Truss mengatakan rencana ekonomi itu dirancang untuk menempatkan Inggris ke jalur jangka panjang yang lebih baik. Ia siap untuk mengambil keputusan sulit untuk membantu rumah tangga dan bisnis melewati musim dingin yang diperkirakan akan sulit.

Baca Juga

Sebelumnya dilaporkan prospek perekonomian negara-negara Eropa semakin suram. Resesi membayangi Benua Biru akibat krisis energi yang berdampak ke berbagai sektor. Pemerintah Indonesia dinilai harus mewaspadai dan mengantisipasi dampak yang mungkin ditimbulkan dari gejolak ekonomi di Eropa.

Kian suramnya proyeksi perekonomian Eropa diungkapkan Kepala Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde. Dia mengatakan, aktivitas bisnis akan melambat dalam beberapa bulan ke depan. Hal ini karena tingginya harga energi dan pangan akibat Rusia-Ukraina telah memperlemah daya beli konsumen.

Lagarde menyampaikan hal tersebut dalam pidatonya di Parlemen Eropa terkait kemungkinan Eropa mengalami resesi. Dia mengatakan, 2023 akan akan menjadi tahun yang sulit dan pertumbuhan ekonomi pada tiga bulan pertama tahun depan diprediksi negatif. "Seperti yang kita yakini bahwa kuartal keempat 2022 juga akan negatif," kata Lagarde seperti dikutip dari ABC News, Rabu (28/9/2022).

Ekonomi yang tumbuh negatif selama dua kuartal berturut-turut didefinisikan sebagai resesi. Namun,  Komisi Eropa menggunakan indikator yang lebih luas, salah satunya mengenai angka lapangan kerja.

"(Invasi Rusia ke Ukraina) Masih membayangi Eropa, menaikkan harga energi yang memperdalam pengeluaran konsumen dan membuat ongkos produksi bagi pengusaha semakin tinggi," kata Lagarde.

Lagarde mengatakan, inflasi meningkat signifikan menjadi 9,1 persen pada Agustus 2022. Menurut proyeksi ECB, tingkat inflasi tahunan di Eropa pada 2022 sebesar 8,1 persen.

Bayang-bayang resesi Eropa diperburuk kabar dari Jerman. Perekonomian terbesar di Eropa itu mengirim sinyal resesi. Survei kepercayaan bisnis IFO yang merupakan indikator utama perekonomian Jerman, menunjukkan penurunan selama empat bulan berturut-turut.

"Tingginya harga komoditas dan energi memberatkan permintaan dan menekan margin keuntungan. Perusahaan-perusahaan tidak dapat lagi membebankan biaya produksi yang tinggi ke konsumen dengan mudah seperti bulan-bulan awal tahun ini," kata Kepala Ekonom Zona Euro di Bank ING, Carsten Brzeski.

Resesi sudah dirasakan di Inggris. Kepala sekolah melaporkan banyak anak yang kelaparan atau bersembunyi di ruang bermain karena tidak bisa membeli makan siang.

The Guardian melaporkan kepala sekolah di sebuah sekolah di Lewisham, London mengatakan pada Chefs in Schools, ada seorang anak yang berpura-pura makan di luar sekolah dengan kotak bekal yang kosong. Sebab ia tidak memenuhi syarat makan siang gratis di sekolah tapi juga tidak ingin teman-temannya tahu tidak ada makanan di rumahnya.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA