Wednesday, 13 Jumadil Awwal 1444 / 07 December 2022

Pimpin Pertemuan COVAX, Retno Tawarkan Dua Solusi Menuju Akhir Pandemi

Kamis 29 Sep 2022 10:51 WIB

Rep: Fergi Nadira B/ Red: Esthi Maharani

Menlu Retno saat berbicara di Sidang Majelis Umum PBB di Kota New York.

Menlu Retno saat berbicara di Sidang Majelis Umum PBB di Kota New York.

Foto: UNTV/VOA
Pandemi Covid-19 belum selesai, namun akhir dari pandemi sudah di depan mata

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK - Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi menawarkan dua solusi jangka pendek dan jangka panjang untuk menuju akhir dari pandemi. Hal ini disampaikan ketika Retno memimpin pertemuan Pertemuan COVAX Advance Market Commitment Engagement Group (AMC-EG) ke-10, bersama Menteri Kesehatan Ethiopia dan Menteri Pembangunan Internasional Kanada, Rabu (28/09/2022).

Retno mengatakan, COVAX AMC EG bertujuan terus mengatasi kesenjangan vaksin. Ini dapat diperoleh antara lain dengan memperkuat kampanye vaksinasi utamanya di negara-negara dengan tingkat pendapatan negara yang rendah.

Mengutip pernyataan Dirjen WHO, Retno menuturkan, pandemi Covid-19 belum selesai, namun akhir dari pandemi sudah nampak di depan mata. Oleh karenanya, menurutnya, pola pikir harus diubah dari “gawat darurat" menjadi “siap siaga" untuk merespon pandemi di masa depan.

Retno juga menekankan pentingnya terus mendorong solidaritas global dan memastikan akses setara terhadap solusi medis, yang lagi-lagi diutamakan bagi negara berkembang.

"Dunia saat ini membutuhkan mekanisme permanen yang mampu perkuat arsitektur kesehatan global. Oleh karenanya, Presidensi Indonesia di G20 turut mengamankan medical solutions bagi negara berkembang melalui Financial Intermediary Fund (FIF)," tutur Retno dalam keterangan pers Kementerian Luar Negeri RI pada Kamis (29/9/2022).

Ketua bersama COVAX sepakat mendukung keberlanjutan kinerja COVAX hingga 2023 mengingat masih terdapat kesenjangan distribusi vaksin dan capai vaksinasinya. Hal ini untuk mendorong upaya pencegahan, kesiapsiagaan, dan respon terhadap pandemi di masa depan.

Selain itu pertemuan Covax  juga membahas mengenai perkembangan terkini penyediaan vaksin bagi negara anggota AMC. Sekitar 76 persen dosis vaksin yang ada di negara-negara berpenghasilan rendah berasal dari skema COVAX.

Selain itu, pertemuan juga menyepakati pentingnya penyesuaian struktur COVAX dengan perkembangan pandemi terkini, termasuk dengan meningkatkan kapasitas bagi negara-negara agar siap hadapi potensi pandemi lainnya. "COVAX harus terus bekerja dengan WHO untuk memastikan setiap negara memiliki sumber daya yang diperlukan demi perkuat strategi kesehatan nasionalnya," kata Retno.

COVAX AMC adalah mekanisme penyaluran vaksin secara gratis kepada negara anggota yang terdiri dari 92 negara berpendapatan menengah ke bawah dan berpendapatan rendah. Sebagai forum kerja sama multilateral, COVAX telah membuktikan bahwa multilateralisme bekerja efektif.

Hingga kini, sedikitnya 1.72  miliar dosis vaksin telah dikirim oleh COVAX melalui jalur multilateral. 79 negara telah capai target vaksinasi sebesar 70 persen, termasuk Indonesia. Melalui COVAX, Indonesia telah mendapatkan 130,662,975 (25,6 persen) dosis vaksin Covid-19 secara gratis. Menlu Retno Marsudi merupakan salah satu co-chairs dari COVAX AMC, bersama bersama Menteri Kesehatan Ethiopia dan Menteri Pembangunan Internasional Kanada.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA