Sunday, 3 Jumadil Awwal 1444 / 27 November 2022

BPOM Beri Izin Penggunaan Vaksin IndoVac untuk Usia 18 Tahun ke Atas

Rabu 28 Sep 2022 16:52 WIB

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Nora Azizah

Vaksin IndoVac memiliki tingkat komponen dalam negeri hingga 80 persen.

Vaksin IndoVac memiliki tingkat komponen dalam negeri hingga 80 persen.

Foto: istimewa
Vaksin IndoVac memiliki tingkat komponen dalam negeri hingga 80 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menerbitkan izin penggunaan darurat (EUA) vaksin virus corona (Covid-19) IndoVac dengan platform subunit protein yang dikembangkan oleh PT Bio Farma dan Baylor College of Medicine. EUA diberikan untuk sasaran usia 18 tahun ke atas.

Kepala BPOM Penny K Lukito mengatakan, vaksin IndoVac akan diproduksi di Indonesia. Berdasarkan self-assessment, lanjut Penny, vaksin IndoVac memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) hingga 80 persen

Baca Juga

"Akan ada konferensi pers kami untuk pemberian EUA yang baru diberikan. Indovac sudah dapat untuk vaksin primer dewasa dan sekarang dilanjutkan dengan uji klinik vaksin boosternya. Jadi sudah dapat EUA yang pertama," kata Penny di Kompleks Gedung DPR RI, Rabu (28/9/2022).

Diketahui, IndoVac telah melakukan uji klinis fase 1 dan 2, serta dalam proses uji klinis fase 3 untuk usia 18 tahun ke atas. IndoVac juga telah mengajukan sertifikasi kehalalan dari Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI).

Setelah memperoleh izin edar dan halal, PT Bio Farma akan menyiapkan tahap berikutnya yaitu memproduksi vaksin IndoVac. Untuk tahap awal, Bio Farma memproduksi maksimal 20 juta dosis.

"Semua vaksinnya halal. Sudah diverifikasi halal, jadi vaksin produksi dalam negeri adalah vaksin halal semuanya," ujar Penny.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Bio Farma (Persero) Honesti Basyir mengatakan vaksin Covid-19 buatan dalam negeri itu juga telah didaftarkan ke organisasi kesehatan dunia (WHO). Dengan begitu, vaksin IndoVac buatan BUMN itu bisa dipasarkan secara global.

"Kami juga telah mendaftarkan emergency use listing (EUL) ke Badan Kesehatan Dunia (WHO). Vaksin ini nantinya bisa digunakan di negara-negara lain melalui mekanisme support Covax Facility (multilateral). Melalui vaksin Covid-19, Bio Farma berharap dapat berkontribusi dalam mendukung kesehatan dunia, tidak hanya di Indonesia,” kata Honesti.

Honesti menjelaskan, setelah memperoleh izin, Bio Farma menyiapkan tahap berikutnya yaitu memproduksi vaksin IndoVac. Nantinya vaksin itu bisa digunakan untuk vaksinasi individu berusia 18 tahun ke atas secara massal.

Untuk tahap awal, Bio Farma memproduksi maksimal 20 juta dosis. Jumlah tersebut dapat dinaikkan menjadi 40 juta dosis per tahun 2023. Kemudian, dengan penambahan fasilitas dan kapasitas, produksi bisa dinaikkan menjadi 100 juta dosis per tahun pada 2024 tergantung pada kebutuhan dan permintaan.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA