Sunday, 10 Jumadil Awwal 1444 / 04 December 2022

Presiden China Xi Jinping Muncul ke Publik Setelah Rumor Kudeta

Rabu 28 Sep 2022 11:17 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Friska Yolandha

 FILE - Presiden China Xi Jinping mengangkat tangannya untuk menunjukkan persetujuan atas laporan kerja selama upacara penutupan Kongres Partai ke-19 di Aula Besar Rakyat di Beijing pada 24 Oktober 2017. Presiden Rusia Vladimir Putin dan Xi Jinping akan bertemu minggu depan di pertemuan puncak di Uzbekistan, seorang pejabat Rusia mengatakan Rabu, 7 September 2022.

FILE - Presiden China Xi Jinping mengangkat tangannya untuk menunjukkan persetujuan atas laporan kerja selama upacara penutupan Kongres Partai ke-19 di Aula Besar Rakyat di Beijing pada 24 Oktober 2017. Presiden Rusia Vladimir Putin dan Xi Jinping akan bertemu minggu depan di pertemuan puncak di Uzbekistan, seorang pejabat Rusia mengatakan Rabu, 7 September 2022.

Foto: AP/Ng Han Guan
Xi telah absen dari hadapan publik sejak dia kembali dari pertemuan di Uzbekistan.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Presiden China Xi Jinping muncul di hadapan publik, setelah sebelumnya beredar rumor dia menjadi tahanan rumah. Televisi Pemerintah China pada Selasa (27/9/2022) melaporkan, Xi mengunjungi sebuah pameran di Beijing. 

Dilansir Aljazirah, Rabu (28/9/2022), Xi telah absen dari hadapan publik sejak dia kembali dari pertemuan puncak di Uzbekistan. Hal ini mendorong rumor yang beredar tentang kudeta militer di Beijing.

Baca Juga

Xi diposisikan untuk mengamankan masa jabatan ketiga dalam kekuasaan untuk mengejar visi besarnya yaitu “peremajaan untuk bangsa China. Xi terus mengonsolidasikan kekuatan, serta menghilangkan ruang untuk perbedaan pendapat dan oposisi sejak menjadi sekretaris jenderal Partai Komunis satu dekade lalu. Di bawah kepemimpinan Xi, China menjadi jauh lebih tegas di panggung global sebagai pemimpin alternatif dari tatanan pasca-Perang Dunia II yang dipimpin Amerika Serikat.

Pemerintahan Xi telah melakukan tindakan keras terhadap korupsi di dalam partai. Para pengamat mengatakan, langkah ini diambil untuk menjatuhkan saingan politik. China juga mengambil kebijakan untuk menghancurkan gerakan pro-demokrasi di Hong Kong, dan penguncian ketat selama pandemi Covid-19 di sejumlah kota untuk mengekang penyebaran.

Xi juga menghadapi kritik keras atas hak asasi manusia dari komunitas internasional terkait kebijakan represif di wilayah Xinjiang. Sekitar satu juta orang Uighur dan minoritas Muslim lainnya ditahan dalam tindakan keras yang seolah-olah menargetkan “terorisme”.

Xi secara luas diperkirakan akan mengamankan masa jabatan ketiganya sebagai pemimpin. Menjelang pertemuan Partai Komunis China (PKC) pada 16 Oktober, pemerintahan Xi melakukan pembersihan pejabat senior.

Mantan wakil menteri keamanan publik Sun Lijun, mantan menteri kehakiman Fu Zhenghua, dan mantan kepala polisi Shanghai, Chongqing dan Shanxi ditangkap atas tuduhan korupsi. Penahanan tersebut merupakan pembersihan politik terbesar China selama bertahun-tahun.

Pada Ahad (25/9/2022), media pemerintah mengumumkan daftar 2.300 delegasi komite pusat PKC. Nama Xi ada dalam daftar tersebut. Hal ini semakin membantah rumor media sosial tentang kudeta militer di Beijing, yang dipicu oleh video kendaraan militer dan pembatalan penerbangan yang tidak berasal dari sumber kredibel.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA