Saturday, 16 Jumadil Awwal 1444 / 10 December 2022

Kematian Hewan Liar Meningkat di Kenya

Rabu 28 Sep 2022 06:33 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Friska Yolandha

Kekeringan terburuk di Kenya dalam empat dekade telah membunuh hampir dua persen zebra terlangka di dunia dalam tiga bulan.

Kekeringan terburuk di Kenya dalam empat dekade telah membunuh hampir dua persen zebra terlangka di dunia dalam tiga bulan.

Foto: Daniel Jukes/ActionAid via AP
Satwa liar Kenya tewas karena kehilangan makanan di wilayah terbuka.

REPUBLIKA.CO.ID, NAIROBI -- Kekeringan terburuk di Kenya dalam empat dekade telah membunuh hampir dua persen zebra terlangka di dunia dalam tiga bulan. Terdapat pula 25 kali lebih banyak dari gajah daripada biasanya pada periode yang sama.

Kondisi tersebut muncul karena satwa liar Kenya kelaparan karena kehilangan sumber makanan normal di tempat terbuka. Mereka akhirnya terdorong dalam konflik mematikan dengan warga saat berkeliaran secara lebih luas, ke tepi kota dan desa, dalam pencarian makanan.

Baca Juga

Tanpa intervensi untuk melindungi satwa liar atau jika musim hujan terus tidak kunjung datang, hewan di banyak bagian negara Afrika Timur dapat menghadapi krisis eksistensial. "Ini adalah ancaman serius bagi kami," kata petugas pemantau di Grevy's Zebra Trust (GZT) Andrew Letura. 

Zebra Grevy yang lebih besar dari zebra dataran standar dan memiliki garis-garis yang lebih sempit dan telinga yang lebih lebar adalah spesies yang paling langka. Hanya ada 3.000 yang tersisa di dunia, 2.500 di antaranya berada di Kenya.

Kekeringan telah menewaskan sekitar 40 Grevy sejak Juni. Jumlah ini, menurut Letura, diperkirakan akan mati semua selama satu tahun penuh. 

"Penjaga hutan telah menghitung delapan kali lebih banyak hewan mati atau terlalu lemah untuk berdiri, dibandingkan dengan kondisi September saat normal. Amboseli Trust for Elephants telah mencatat 50 gajah mati atau hilang," kata kepala eksekutif Big Life Foundation Benson Leyian. 

Kematian para hewan liar ini pun mulai tercium jelas. Kitenden Conservancy harus berhadapan dengan bau bangkai hewan yang membusuk begitu kuat. Beberapa turis mulai memakai masker pelindung, dengan beberapa hewan liar juga mati di tangan manusia.

"Kami melihat peningkatan lima kali lipat dalam insiden perburuan daging hewan liar, dibandingkan dengan musim kemarau lainnya," kata Leyian.

Save the Elephants mengatakan, telah menemukan semakin banyak gajah yang dibunuh oleh senjata atau tombak, tetapi dengan gadingnya yang utuh. Kondisi itu menunjukkan tanda bahwa mereka menjadi korban konflik dengan manusia di daerah berpenduduk, daripada perburuan liar.

Krisis ini tidak disebabkan oleh kekeringan saja. Kepala operasi lapangan untuk Save the Elephants David Daballen menyatakan, penggembalaan berlebihan oleh ternak menghabiskan lahan penggembalaan dan mempersulit ekosistem untuk pulih dari kekeringan.

Bahkan memikirkan kemungkinan hujan berikutnya, yang diperkirakan pada Oktober-November, kegagalan itu menakutkan. "Situasinya sudah buruk. Tapi itu akan membuatnya menjadi krisis yang serius," ujar Letura. 

"Kata-kata pertama yang diucapkan seseorang sekarang adalah mereka berdoa memohon hujan," katanya. 

 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA