Sunday, 3 Jumadil Awwal 1444 / 27 November 2022

Turki Panggil Duta Besar Jerman

Rabu 28 Sep 2022 04:40 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Friska Yolandha

Seorang pria memegang bendera Turki di depan Museum Hagia Sophia di Istanbul, Turki, 10 Juli 2020. Kementerian Luar Negeri Turki memanggil Duta Besar Jerman di Ankara.

Seorang pria memegang bendera Turki di depan Museum Hagia Sophia di Istanbul, Turki, 10 Juli 2020. Kementerian Luar Negeri Turki memanggil Duta Besar Jerman di Ankara.

Foto: EPA-EFE/ERDEM SAHIN
Turki mengajukan protes atas pernyataan yang disampaikan politisi senior Jerman.

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Kementerian Luar Negeri Turki memanggil Duta Besar Jerman di Ankara. Turki mengajukan protes atas pernyataan yang disampaikan politisi senior Jerman yang mengaitkan Presiden Tayyip Erdogan dengan "tikus kecil gorong-gorong."

"Kami mengecam sekeras-kerasnya pernyataan menghina yang disampaikan Wolfgang Kubicki, wakil ketua Parlemen Federal Jerman, mengenai presiden kami (Erdogan) dalam pidato saat kampanye pemilihan negara bagian Lower Saxony," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Turki Tanju Bilgic dalam pernyataannya, Selasa (27/9/2022).

Baca Juga

"(Kubick) sama sekali tidak memiliki moralitas dan tanggung jawab politik, pernyataan tak senonoh itu memberi gambaran gagasan politik dan tingkat moralitas Kubicki, dan mengungkapkan kevulgarannya," tambahnya.

Saat dihubungi kantor berita Reuters, Kubick mengakui ia memberikan pernyataan seperti titu kampanye. Ia mencoba menarik perhatian mengenai jumlah imigran ilegal yang masuk dari Turki melalu jalur Balkan ke Jerman.

"Dalam cerita anak-anak tikus gorong-gorong itu mahluk yang kecil, imut, tapi di saat yang sama juga cerdas dan licik," kata Kubick yang merujuk film animasi populer Ratatouille.

Kubicki merupakan anggota parlemen dari Free Democratic Party (FDP) yang pro-bisnis salah satu partai koalisi berkuasa pemerintah Jerman. Ia mengatakan Erdogan  membuat kesepakatan bagus untuk Turki ketika ia sepakat menahan gelombang pengungsi masuk Uni Eropa pada 2015 lalu.

"Namun di saat yang sama kami juga harus mencatat gelombang pengungsi (dari Turki) di sepanjang jalur Balkan kembali naik yang mana menjadi tantangan pada kebijakan dalam dan luar negeri Jerman," katanya.

Turki merupakan kandidat anggota Uni Eropa tapi negosiasi sudah lama mandek. Sebab banyak ketidaksepakatan antar kedua belah pihak seperti catatan hak asasi, imigrasi dan geopolitik Turki.

Menghina presiden masuk tindak pidana di Turki. Erdogan dan Partai AK sudah berkuasa selama dua dekade. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA