Sunday, 10 Jumadil Awwal 1444 / 04 December 2022

Utusan PBB: Haiti Hadapi Bencana Kemanusiaan

Selasa 27 Sep 2022 18:15 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Friska Yolandha

Seorang pria berjalan di sepanjang jalan utama yang dibiarkan kosong oleh pemogokan umum di Port-au-Prince, Haiti, Senin, 26 September 2022. Pemogokan itu menentang kenaikan harga bahan bakar dan menuntut agar Perdana Menteri Haiti Ariel Henry mundur.

Seorang pria berjalan di sepanjang jalan utama yang dibiarkan kosong oleh pemogokan umum di Port-au-Prince, Haiti, Senin, 26 September 2022. Pemogokan itu menentang kenaikan harga bahan bakar dan menuntut agar Perdana Menteri Haiti Ariel Henry mundur.

Foto: AP Photo/Odelyn Joseph
Bisnis dan transportasi berhenti operasi untuk menghindari situasi mencekam di Haiti.

REPUBLIKA.CO.ID, PORT AU PRINCE -- Utusan PBB untuk Haiti Helen La Lime mengatakan, meluasnya geng bersenjata di seluruh negeri, krisis ekonomi dan politik telah menyebabkan bencana kemanuasiaan di Haiti. Negara kepulauan Karibia itu mengalami protes, penjarahaan bantuan kemanusiaan dan pengepungan setahun belakangan.

"Kekerasan selama berminggu-minggu dan serangan terhadap gudang bantuan makanan telah mengguncang ketahanan pangan negara itu," kata Helen La Lime pada pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB dikutip laman BBC, Selasa (27/9/2022).

Baca Juga

Bisnis telah ditutup dan layanan transportasi tidak berjalan karena menghindari situasi yang mencekam di negara tersebut. Ribuan orang juga protes menyerukan pengunduran diri Perdana Menteri Ariel Henry.

Kerusuhan sipil di seluruh pulau meningkat setelah ia mengumumkan berakhirnya subsidi bahan bakar pemerintah pada 11 September, yang menyebabkan harga bensin dan solar meroket. Sejak itu, protes dan penjarahan meningkat di berbagai wilayah dan ibu kota, Port-au-Prince, sebagai pusatnya.

La Lime mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa sekitar 2.000 ton bantuan makanan, senilai hampir 5 juta dolar AS hilang setelah serangan berulang kali terhadap gudang lokal Program Pangan PBB. "Itu akan secara kolektif mendukung hingga 200 ribu orang Haiti yang paling rentan selama bulan depan", katanya.

Direktur eksekutif Program Pangan Dunia (WFP) Valerie Guarnieri, yang juga hadir dalam pertemuan itu, mengatakan situasi di Haiti sayangnya telah mencapai tingkat keputusasaan baru. "Inflasi telah meningkat ke level tertinggi dalam satu dekade, dan 40 persen negara bergantung pada bantuan pangan untuk bertahan hidup," katanya.

Guarnieri memperkirakan ketahanan pangan akan semakin memburuk tahun ini dengan 1,3 juta orang dalam keadaan darurat akibat krisis. Geng kriminal berada di pusat masalah dari Haiti. Kekerasan geng kronis telah menyebabkan ratusan orang tewas dan ribuan mengungsi.

Tingkat kekerasan geng, yang telah melonjak sejak pembunuhan Presiden Jovenel Moise oleh tentara bayaran setahun yang lalu, telah mencapai tingkat baru yang mengejutkan sejak pertempuran meletus pada 8 Juli antara dua aliansi kriminal, yang dikenal sebagai G9 dan G-Pèp. Namun Menteri Luar Negeri Haiti Jean Victor Geneus mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa terlepas dari beberapa kasus terisolasi, kekerasan di negaranya umumnya terkendali dan ketenangan telah kembali ke beberapa bagian pulau itu.

Pada pertemuan itu, Geneus meminta masyarakat internasional untuk memberi Haiti dukungan kuat untuk memastikan polisi dapat memerangi geng-geng bersenjata.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA