Sunday, 7 Rajab 1444 / 29 January 2023

Kontroversi Syekh Yusuf Al Qaradawi

Selasa 27 Sep 2022 04:37 WIB

Rep: Alkhaledi Kurnialam/ Red: Ani Nursalikah

Ulama Mesir Sheikh Yusuf al-Qaradawi berbicara di Masjid Al Azhar di Kairo, 28 Desember 2012. Kontroversi Syekh Yusuf Al Qaradawi

Foto:
Yusuf Al Qaradawi memilih tidak menjadi pemimpin tertinggi Ikhwanul Muslimin.

Setelah dibebaskan, Al Qaradawi melanjutkan studinya dan menerima gelar master dalam studi Alquran pada 1960 dari Universitas Al Azhar. Ikhwanul Muslimin kemudian dipaksa bekerja di bawah tanah pada 1960-an segera setelah kelulusannya, mendorongnya pindah ke Qatar pada 1961.

Mengutip dari Al Arabiya, semasa hidupnya, Yusuf Al Qaradawi telah memilih tidak menjadi pemimpin tertinggi Ikhwanul Muslimin, meski ada yang beranggapan ia tetap menjadi tokoh berpengaruh di dalamnya. Ide-idenya mulai dikenal di Qatar hingga kemudian berkembang dan membuat cabang-cabang organisasi di berbagai negara.

Selama beberapa dekade, Qaradawi hadir di perpustakaan dan forum yang didukungnya dengan penampilan televisi melalui programnya, “Syariah dan Kehidupan”, di Aljazirah. Menurut Matthew Levitt, mantan pejabat kontraterorisme di FBI, Qaradawi dituduh sebagai salah satu tokoh paling populer di sayap ekstremis Ikhwanul Muslimin. Hingga pada 2003, Qaradawi mengeluarkan pernyataan kontroversial yang mengatakan Islam akan kembali ke Eropa.

Baca juga : UAS Kenang Momen Saat Mengikuti Kajian Syekh Yusuf Al Qaradawi

Tuduhan penghasutan untuk terorisme

Pidato-pidato Qaradawi dituduh selalu menghasut dan menyerukan jihad bersenjata. Dia menyebutkan dalam banyak kesempatan bahwa: “Bom bunuh diri adalah suatu keharusan.” Pada awal 2005, Al Qaradawi mengeluarkan fatwa yang menyerukan perempuan untuk menjadi pelaku bom bunuh diri. Dia memiliki pendapat kontroversial tentang wanita dan orang lain yang dianggap anti-Semit.

Almarhum juga masuk daftar hitam di banyak negara Arab dan Eropa dan Amerika Serikat. Seperti Prancis yang mengusirnya, tetapi Amerika Serikat yang pertama mencegahnya memasuki wilayah AS sejak 1999.

Dia juga dinyatakan tidak diinginkan di Austria, Inggris, Tunisia dan Aljazair pada beberapa waktu. Kemudian Suriah, Irak, Mesir, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi. Sebuah dokumen intelijen AS memperingatkan peran Qaradawi di jajaran organisasi, dan mencatat bahwa dia memiliki dampak yang besar meskipun kepergiannya dari Mesir dan telah tinggal di Doha selama beberapa dekade. 

Baca juga : Indonesia Siapkan Manufaktur Gelatin Halal untuk Masuk Pasar Global

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA