Thursday, 14 Jumadil Awwal 1444 / 08 December 2022

Tak Sesuaikan Kebutuhan Pasar, Jokowi Sebut 90 Persen Startup Gagal Merintis Usaha

Senin 26 Sep 2022 11:16 WIB

Rep: Dessy Suciati Saputri / Red: Nidia Zuraya

Ilustrasi Startup. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut, sekitar 90 persen perusahaan rintisan atau startup mengalami kegagalan saat merintis usahanya.

Ilustrasi Startup. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut, sekitar 90 persen perusahaan rintisan atau startup mengalami kegagalan saat merintis usahanya.

Foto: Pixabay
Saat ini ekonomi digital Indonesia telah tumbuh pesat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut, sekitar 90 persen perusahaan rintisan atau startup mengalami kegagalan saat merintis usahanya. Hal ini disebabkan karena startup yang dikembangkan tersebut tak melihat kebutuhan pasar yang ada.

“Hati-hati 80 persen sampai 90 persen startup gagal saat merintis. Karena sekali lagi, tidak melihat kebutuhan pasar yang ada. Berangkatnya mestinya dari kebutuhan pasar yang ada itu apa,” kata Jokowi saat peresmian pembukaan BUMN startup day tahun 2022 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Senin (26/9/2022).

Baca Juga

Selain itu, perusahaan startup juga mengalami kegagalan karena kehabisan dana. Jokowi pun menyebut, perusahaan rintisan bisa memperoleh suntikan modal dari venture capital. Dengan demikian, perusahaan-perusahaan rintisan ini bisa memanfaatkan berbagai peluang yang ada dan mengembangkan bisnisnya.

“Kedua, juga karena kehabisan dana, ini nanti fungsinya venture capital, fungsinya BUMN agar ekosistem besar yang ingin kita bangun ini bisa saling sambung sehingga semuanya terdampingi dengan baik dan bisa tidak gagal untuk masuk ke pasar-pasar, ke peluang-peluang yang ada di negara kita,” jelas dia.

Jokowi mengatakan, Indonesia saat ini memiliki banyak peluang yang dapat dimanfaatkan oleh para generasi muda dalam mengembangkan startup. Adanya berbagai krisis yang terjadi di dunia, seperti krisis pangan, energi, dan juga pandemi Covid-19 yang belum pulih, bisa menjadi kesempatan bagi perusahaan rintisan.

Apalagi, krisis pangan saat ini telah menyebabkan sekitar 19.600 orang di dunia meninggal karena kelaparan. “Kalau kita lihat urusan masalah krisis pangan, urusan pangan ke depan ini akan menjadi persoalan besar yang harus dipecahkan oleh teknologi dan itu adalah kesempatan, itu adalah peluang, itu adalah opportunity,” ujar dia.

Jokowi mengatakan, pengelolaan masalah pangan sangatlah luas, mulai dari produksi, distribusi, hingga masalah pasar. Seluruh sektor tersebut bisa menjadi peluang untuk dikembangkan.

Selain itu, juga terdapat berbagai jenis komoditas pangan yang dapat dikembangkan selain beras, seperti sorgum, porang, singkong, sagu, dan lain lain. Selain masalah pangan, masalah kesehatan yang terjadi pun bisa menjadi peluang bagi perusahaan startup.

Jokowi menyebut, Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat besar, sehingga diperlukan pengembangan teknologi untuk menyelesaikan masalah kesehatan di berbagai daerah.  

“Kita ini negara dengan 17 ribu pulau, 514 kabupaten kota, 34 provinsi, apa yang bisa kita lakukan agar kesehatan kita ini bisa melompat, telemedicine bisa disambungkan, operasi jarak jauh bisa disambungkan dengan platform dengan aplikasi,” tambah dia.

Tak hanya itu, Jokowi juga menyebut masih banyak UMKM yang belum masuk ke platform digital. Dari 65,4 juta UMKM yang ada, baru sekitar 19 juta UMKM yang telah memanfaatkan platform digital untuk mengembangkan usahanya.

“Memang masih banyak persoalan, urusan kemasan, urusan kualitas, produksi, urusan kapasitas produksi, tetapi di situ baru 19 juta (UMKM) yang masuk ke platform digital. Sehingga masih ada ruang yang sangat besar untuk bisa kita kerjakan di sana,” ujar Jokowi.

Jokowi mengatakan, saat ini ekonomi digital Indonesia telah tumbuh pesat dan tertinggi di Asia Tenggara. Diperkirakan, pertumbuhan ekonomi digital ini akan melompat 8 kali lipat dari Rp 632 triliun pada 2020 menjadi Rp 4.531 triliun pada 2030 nanti.

Tak hanya itu, pengguna internet di Indonesia juga telah mencapai 77 persen dengan rata-rata penggunaan mencapai 8 jam per harinya. “Besar sekali potensi yang ada. Dan startup Indonesia ini tertinggi ke-6 di dunia, pertama memang Amerika, India, UK, Kanada, Australia, Indonesia nomor 6. Ini juga sebuah potensi yang besar yang harus kita kembangkan,” ucapnya.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA