Saturday, 9 Jumadil Awwal 1444 / 03 December 2022

Jokowi: 19.600 Orang di Dunia Mati Kelaparan Akibat Krisis Pangan

Senin 26 Sep 2022 10:11 WIB

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Agus raharjo

Presiden Jokowi

Presiden Jokowi

Foto: ANTARA/Sigid Kurniawan
Jokowi ingin generasi muda mengembangkan teknologi mengatasi krisis pangan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan, berdasarkan laporan dari lembaga-lembaga internasional, dunia akan menghadapi kondisi dan tantangan sangat sulit pada tahun ini. Bahkan pada tahun depan, kondisi dunia akan semakin gelap karena tantangan yang dihadapi juga akan semakin berat.

Kondisi tersebut salah satunya disebabkan perang antara Rusia dan Ukraina yang diperkirakan masih berlangsung lama. Sehingga akan berdampak pada terjadinya krisis pangan, energi, dan juga finansial. Selain itu, pandemi Covid-19 saat ini pun juga belum pulih sepenuhnya.

Baca Juga

Jokowi mengatakan, krisis pangan yang terjadi saat ini bahkan telah menyebabkan sebanyak 19.600 orang di dunia meninggal kelaparan.

“Itu berakibat pada kesulitan-kesulitan lain, krisis pangan, krisis energi, krisis finansial, Covid-19 yang belum pulih, dan akibatnya kita tahu sekarang ini baru saja saya dapat angka 19.600 orang setiap hari mati kelaparan karena krisis pangan. Tapi itu dunia,” kata Jokowi saat peresmian pembukaan BUMN startup day tahun 2022 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Senin (26/9/2022).

Meski demikian, Jokowi menilai ada peluang besar yang bisa dimanfaatkan oleh Indonesia, terutama para generasi muda dari krisis pangan yang terjadi. Jokowi ingin agar para generasi muda mengembangkan teknologi untuk mengatasi persoalan krisis pangan ini.

“Kalau kita lihat urusan masalah krisis pangan, urusan pangan ke depan ini akan menjadi persoalan besar yang harus dipecahkan oleh teknologi dan itu adalah kesempatan, itu adalah peluang, itu adalah opportunity,” ujar dia.

Jokowi mengatakan, pengelolaan masalah pangan sangatlah luas, mulai dari produksi, distribusi, hingga masalah pasar. Seluruh sektor tersebut bisa menjadi peluang untuk dikembangkan. Selain itu, juga terdapat berbagai jenis komoditas pangan yang dapat dikembangkan selain beras, seperti sorgum, porang, singkong, sagu, dll.

“Sehingga ini menjadi sebuah peluang besar dan target konsumen dari petani di ladang, dari nelayan di lautan, sampai masuk melompat ke dapurnya ibu-ibu rumah tangga. Peluangnya sangat besar sekali,” kata Jokowi.

Jokowi menyebut peluang Indonesia sangat besar untuk mengembangkan perusahaan startup mengingat ekonomi digital Indonesia juga tumbuh pesat dan bahkan tertinggi di Asia Tenggara. Diperkirakan, pertumbuhan ekonomi digital ini akan melompat delapan kali lipat dari Rp 632 triliun pada 2020 menjadi Rp 4.531 triliun pada 2030 nanti.

Selain itu, pengguna internet di Indonesia juga telah mencapai 77 persen dengan rata-rata penggunaan mencapai 8 jam per harinya. “Besar sekali potensi yang ada. Dan startup Indonesia ini tertinggi ke-6 di dunia, pertama memang Amerika, India, UK, Kanada, Australia, Indonesia nomor 6. Ini juga sebuah potensi yang besar yang harus kita kembangkan,” ucapnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA