Wednesday, 13 Jumadil Awwal 1444 / 07 December 2022

Grand Syekh Al-Azhar Mesir Ungkap Dampak Fatal Berdebat Kusir

Senin 26 Sep 2022 04:00 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Nashih Nashrullah

Ilustrasi berdebat. Berdebat kusir sangat tidak dianjurkan dalam Islam karena merugikan

Ilustrasi berdebat. Berdebat kusir sangat tidak dianjurkan dalam Islam karena merugikan

Foto: pxhere
Berdebat kusir sangat tidak dianjurkan dalam Islam karena merugikan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Salah satu ulama dan cendikiawan Muslim asal Mesir, Grand Syekh Al-Azhar Prof Ahmad al-Tayyeb megungkapkan bahwa salah satu musibah yang menimpa masyarakat pada dekade terakhir adalah maraknya debat.

Hal ini disampaikan Syekh Al-Tayyeb dalam ceramahnya yang terkumpul dalam kitab Adab wwa Qiyam yang kini sudah diterjemahkan menjadi buku “Etika & Moral: Menemukan Kembali Nilai-Nilai yang Hilang”.

Baca Juga

Dalam berdebat, menurut Syekh Al-Tayyeb, mereka mengaku tahu tetapi sebenarnya tidak tahu, berani berbicara mengenai tema-tema sangat rumit dalam banyak bidang layaknya seorang ahli, serta mengeluarkan pernyataan dan analisis yang sebagian besarnya tidak didukung oleh dasar metodologi kelimuan atau studi yang mendalam.

Menurut Syekh Al-Tayyeb, dari musibah seperti ini kemudian lahir bencana lain yang lebih besar, yaitu berani meremehkan spesialisasi atau keahlian keilmuan dan kedudukan ulama-ulama yang spesialis di bidang ilmu-ilmu tertentu, yang menghabiskan umurnya dan meneteskan air mata dan keringat demi menekuni bidang ilmu tertentu.

Sekarang seolah-olah semua orang tahu apa saja tentang semua hal. Spesialisasi dan keahlian di bidang tertentu dalam keilmuan Islam (akidah, adab dan kesusastraan, bahasa, budaya, dan sebagainya) mengalami tidak sedikit dari perdebatan-perdebatan yang jauh dari ketentuan standar dialog keilmuan.

“Orang-orang yang mendebat itu melancarkan serangannya dengan menggunakan alasan bahwa, menurut mereka, ilmu-ilmu keislaman tidak seperti ilmu-ilmu kontemporer yang memerlukan spesialisasi atau ketekunan menelitinya,” jelas Syekh Al-Tayyeb.

Oleh karena itu, kata mereka, ilmu-ilmu keislaman harus terbuka bagi siapa saja, termasuk bagi mereka yang mengaku bahwa tugas melakukan perbaikan Islam dan umat Islam ada pada mereka, tidak pada orang lain yang justru lebih mendalami ilmunya.

Baca juga: Doa Mualaf Jodik Liwoso Mantan Misionaris: Jika Islam Benar Dekatkanlah

Syekh al-Tayyeb menambahkan, Alquran juga telah menyinggung orang-orang yang mirip dengan penyuka debat yang sedang dibicarakan ini pada awal surat Al Hajj. Pertama disebut pada ayat 3 dan 4, kemudian diulang lagi pada ayat 8 dan 9.

Pada ayat 3 dan 4 surat Al Hajj misalnya, orang-orang yang suka mendebat itu disebutkan sebagai sekelompok orang dungu yang mendebat tentang Allah tanp dasar pengetahuan. 

Ayat-ayat itu mengecap mereka sebagai orang bodoh, mengikuti setan-setan yang paling buruk, yaitu maradah. Disebutkan pula bahwa orang-orang yang mengikuti mereka, setan-setan itu, akan mengalami nasib yang buruk.    

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA