Sunday, 7 Rajab 1444 / 29 January 2023

Mitos dan Persepsi Pengaruhi Penggunaan Kontrasepsi

Ahad 25 Sep 2022 18:22 WIB

Red: Gita Amanda

Seorang peserta KB diberikan alat kontrasepsi implan satu batang, (ilustrasi). Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengatakan, masih ada sebagian masyarakat yang enggan menggunakan alat kontrasepsi lantaran faktor mitos atau persepsi yang keliru terkait alat pencegah kehamilan.

Seorang peserta KB diberikan alat kontrasepsi implan satu batang, (ilustrasi). Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengatakan, masih ada sebagian masyarakat yang enggan menggunakan alat kontrasepsi lantaran faktor mitos atau persepsi yang keliru terkait alat pencegah kehamilan.

Foto: ANTARA/Adiwinata Solihin
Banyak mitos yang beredar makanya perlu sosialisasi dan konseling terkait kontrasepsi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengatakan, masih ada sebagian masyarakat yang enggan menggunakan alat kontrasepsi lantaran faktor mitos atau persepsi yang keliru terkait alat pencegah kehamilan.

"Itu kan persepsi yang salah, itu nggak mungkin sekali. Spiral katanya nanti kalau hamil bisa nancap di kepala atau pipi. Banyak mitos-mitos yang beredar makanya perlu sosialisasi dan konseling lah," kata Hasto saat dihubungi, Ahad (25/9/2022).

Selain itu, Hasto juga membantah bahwa alat kontrasepsi dapat mempengaruhi gairah seksual seseorang. Menurut Hasto, penggunaan alat kontrasepsi juga dapat membuat gairah seksual seseorang menjadi lebih stabil.

Akan tetapi, dia membenarkan bahwa penggunaan kondom dapat membuat hubungan seksual menjadi sedikit tidak nyaman. "Kalau kondom agak sedikit mempengaruhi kenikmatan mungkin bisa, karena dengan kondom kan tidak kontak langsung sehingga ada keluhan tidak nyaman, itu bisa saja terjadi," katanya.

Sementara itu, Hasto juga mengatakan bahwa setiap alat kontrasepsi memiliki tingkat kegagalan masing-masing yang dapat menyebabkan kehamilan. Misalnya, tingkat kegagalan kondom adalah 25:100 per tahun artinya dari 100 pasangan subur yang menggunakan kondom, terdapat 25 pasangan yang gagal mencegah kehamilan dalam satu tahun.

Menurut Hasto, tingkat kegagalan IUD lebih rendah jika dibandingkan dengan kondom. Oleh karenanya, penggunaan IUD dianggap lebih berhasil dalam perencanaan kehamilan. "Kontrasepsi jangka panjang seperti implan, suntik, IUD itu kegagalannya kecil hanya 3 banding 1.000 per tahun. Ya kegagalan pasti ada tapi masing-masing alat kontrasepsi beda-beda," kata Hasto.

Untuk menekan angka kehamilan atau merencanakan kehamilan dapat juga menggunakan KB alami sebagai alternatifnya. Ini merupakan metode kontrasepsi yang dilakukan tanpa menggunakan bantuan alat, obat atau prosedur tertentu. Salah satu cara metode KB alami adalah dengan mencatat siklus menstruasi sehingga dapat menghindari melakukan hubungan seksual di masa subur.

sumber : Antara
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA