Saturday, 13 Rajab 1444 / 04 February 2023

Mengenalkan Bahasa Inggris Melalui Permainan Tradisional Siki Doka

Sabtu 24 Sep 2022 20:17 WIB

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Agus raharjo

Keceriaan anak-anak di Maumere,NTT.

Keceriaan anak-anak di Maumere,NTT.

Foto: Humas PMI/Nashir
Kegembiraan dalam permainan membuat kata-kata tersimpan dalam ingatan dengan mudah.

REPUBLIKA.CO.ID, Bahasa Inggris merupakan bahasa global yang bisa digunakan ketika kita pergi kemana pun. Tetapi, kemampuan berbahasa Inggris masyarakat Indonesia masih sangat minim karena banyak yang menganggap itu tidak penting.

Salah seorang penggagas Pendidikan Timor Tengah Selatan NTT, Maria Regina Jaga, menceritakan bagaimana dirinya memelajari bahasa Inggris lewat budaya permainan tradisional Siki Doka atau dikenal Engklek.

Baca Juga

“Saya menjadi salah satu orang yang akhirnya diberangkatkan untuk sekolah ke Auburn, Alabama, Amerika Serikat,” ujar Maria kepada Republika.co.id, Sabtu (24/9/2022).

Ia adalah salah satu anak yang menggagas ide itu dan berhasil belajar bahasa Inggris dengan baik, kemudian sekolah ke luar negeri. Pada 2012 saat ia mengajak anak-anak di Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT, hanya 16 anak yang ikut serta.

Ide itu muncul pertama kali atas dasar kecintaannya pada budaya, khususnya budaya di Indonesia. Kemudian, permainan tradisional semakin ditinggalkan anak-anak dan bahkan ada yang punah begitu saja.

“Saya pikir, pendidikan tanpa budaya tidak bisa, sementara budaya adalah alat bantu yang membuat kita merangkum pendidikan itu bisa berlangsung dan sukses. Nah, saya pakai itu, budaya, lestarikan budayanya, lestarikan permainan tradisionalnya,” kata Maria.

Perempuan yang juga menjadi salah satu pembicara dalam acara Indonesia Mengajar ‘Konferensi Pendidikan di Timur Indonesia’ di Kemendikbudristek RI itu, juga ingin metode belajarnya itu dikenal lebih luas lagi.

Cara untuk mempelajari bahasa Inggris dengan Siki Doka ini, sebelum memulainya, ia akan memperkenalkan 15-20 kata bahasa Inggris terlebih dahulu. Baru kemudian menggambar delapan kotak dan satu gunung puncak, dimana gambar bisa dibuat di atas sebuah bidang.

Eda atau dalam engklek disebut batu yang dipakai melempar, ditempelkan card vocabulary. Ketika melompati kotak pertama, orang yang bermain itu harus mengambil edanya. Jika mendapat card vocabulary berbahasa Indonesia, maka harus diterjemahkan ke bahasa Inggris, begitu pula sebaliknya.

Dan 15-20 kata dalam satu hari pembelajaran, itu sangat efektif untuk diingat. Ia juga memberi PR setiap hendak pulang, agar memakai kata-kata yang didapat sembari melihat bendanya di rumah, kemudian akan disebutkan lagi keesokan harinya. “Dan saya akan meminta mereka menyebutkan saat ada bersama dengan orang,” katanya.

Dengan kegembiraan yang ditebar dalam permainan, maka kata-kata pun akan teringat dalam ingatan dengan sendirinya. Per 2022 ini, sudah ada sekitar 65 anak dengan rentang usia tujuh hingga 15 tahun yang ikut belajar dengan metode itu bersama dirinya.

“Saya punya seorang murid, yang waktu itu dia tidak punya ijazah, dia mau jadi calon kepala desa tapi tidak punya ijazah. Nah melalui pembelajaran ini, dia dapat belajar bahasa Inggris dengan lebih baik, mengikuti ujian, dan lulus. Sekarang dia jadi salah satu staf kepala desa di kecamatan,” tutur Maria.

Banyak sekali anak di timur yang memiliki semangat dan kemauan besar untuk maju, sayangnya, mereka yang sudah merantau dan sukses jarang sekali mau kembali ke kampungnya. Sehingga ia berharap, anak timur yang sudah sukses untuk kembali dan memberikan ilmu baru.

“Cara terbaik adalah untuk orang-orang yang mencintai pendidikan, harus buat inisiatif atau gerakan yang menginisiasi untuk datang ke daerah. Jadi kita yang datang ke sana, karena pendidikan di kabupaten dan desa itu masih jauh dari layak,” tutur Maria.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA