Wednesday, 9 Rabiul Awwal 1444 / 05 October 2022

Ribuan Anak di Suriah Berisiko Terkena Kolera Akibat Krisis Air

Jumat 23 Sep 2022 06:19 WIB

Rep: Mabruroh/ Red: Nashih Nashrullah

Ilustrasi anak Suriah. Sejumlah wilayah di Suriah menghadapi ancaman krisis air

Ilustrasi anak Suriah. Sejumlah wilayah di Suriah menghadapi ancaman krisis air

Foto: AP/Baderkhan Ahmad
Sejumlah wilayah di Suriah menghadapi ancaman krisis air

REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS — Kekurangan air yang didorong oleh perubahan iklim dan konflik menempatkan ribuan anak di utara dan timur Suriah berisiko mengidap kolera. 

LSM Save the Children memperingatkan, sedikitnya 24 orang meninggal karena penyakit yang ditularkan melalui air itu. 

Baca Juga

Setidaknya 24 orang telah meninggal karena penyakit itu, dan beberapa ribu kasus yang dicurigai telah dilaporkan di seluruh negeri pada 19 September, menurut data yang diambil badan amal dari Kementerian Kesehatan Suriah dan Komite Kesehatan Administrasi Otonomi Suriah Utara dan Timur. 

“Kami melihat akan ada wabah besar jika kami tidak bertindak sekarang, wabah yang sudah memperburuk kebutuhan perlindungan anak-anak di seluruh Suriah, menambah penderitaan mereka,” kata Direktur sementara Save the Children, Beat Rohr, dilansir dari Alarabiya pada Kamis (22/9/2022). 

Wabah penyakit saat ini yang menyebabkan diare, muntah, kehausan, dan dalam kasus terburuk kematian, diperkirakan disebabkan masyarakat yang meminum air dan makanan yang terinfeksi yang diairi Sungai Efrat negara itu. 

Sungai itu mengalami tingkat aliran rendah dalam sejarah terutama karena kekeringan terburuk Suriah dalam beberapa dekade. 

Perserikatan Bangsa-Bangsa pekan lalu memperingatkan tentang beratnya wabah di Suriah, mengatakan bahwa penghancuran infrastruktur air yang meluas dari perang berarti sebagian besar penduduk bergantung pada sumber air yang tidak aman. 

"Ini adalah wabah kolera pertama yang dikonfirmasi dalam beberapa tahun terakhir, penyebaran geografis menimbulkan kekhawatiran, jadi kami harus bergerak cepat," kata Direktur Darurat Regional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Wilayah Mediterania Timur, Richard Brennan.

Wabah itu berpusat di wilayah Aleppo utara, di mana lebih dari 70 persen dari total 936 kasus yang dicurigai telah dicatat, dan Deir Ezzor di mana lebih dari 20 persen terdaftar. 

Sebelum wabah kolera baru-baru ini, krisis air telah menyebabkan peningkatan penyakit seperti diare, kekurangan gizi, dan kondisi kulit di wilayah tersebut, menurut WHO. 

 

Sumber: alarabiya  

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA