Monday, 30 Safar 1444 / 26 September 2022

Ribuan Pemrotes Mobilisasi Militer Rusia Ditahan

Kamis 22 Sep 2022 08:00 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Friska Yolandha

Polisi anti huru hara menahan demonstran selama protes terhadap mobilisasi di Moskow, Rusia, Rabu, 21 September 2022. Presiden Rusia Vladimir Putin telah memerintahkan mobilisasi sebagian pasukan cadangan di Rusia, efektif segera.

Polisi anti huru hara menahan demonstran selama protes terhadap mobilisasi di Moskow, Rusia, Rabu, 21 September 2022. Presiden Rusia Vladimir Putin telah memerintahkan mobilisasi sebagian pasukan cadangan di Rusia, efektif segera.

Foto: AP Photo/Alexander Zemlianichenko
Panggilan mobilisasi terbatas pada mereka yang berpengalaman sebagai tentara.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Pasukan keamanan menahan lebih dari 1.300 orang di Rusia yang melakukan protes mengecam mobilisasi militer untuk pasukan cadangan pada Rabu (21/9/2022). Protes ini meletus beberapa jam setelah Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan mobilisasi militer pertama Rusia sejak Perang Dunia II.

Kelompok pemantau protes OVD-Info independen mengatakan, menurut informasi yang dikumpulkan dari 38 kota Rusia, lebih dari 1.311 orang telah ditahan hingga larut malam. Angka-angka itu termasuk setidaknya 502 di Moskow dan 524 di St Petersburg, kota terpadat kedua di Rusia.

Baca Juga

Pejabat Kementerian Dalam Negeri Rusia Irina Volk mengatakan, para petugas telah mempersingkat upaya untuk menggelar apa yang disebutnya protes kecil. Demonstrasi tanpa sanksi adalah ilegal di bawah undang-undang anti-protes Rusia.

"Di sejumlah daerah, ada upaya untuk melakukan tindakan tidak sah yang melibatkan sejumlah kecil peserta," kata Volk kepada media Rusia.

photo
Seorang anak laki-laki memegang spanduk selama protes terhadap mobilisasi yang diumumkan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin di Beograd, Serbia, Rabu, 21 September 2022. Presiden Rusia Vladimir Putin telah memerintahkan mobilisasi sebagian pasukan cadangan di Rusia, efektif segera. - (AP Photo/Darko Vojinovic)
"Ini semua dihentikan. Dan orang-orang yang melanggar hukum ditahan dan dibawa ke kantor polisi untuk penyelidikan dan menetapkan tanggung jawab mereka," ujarnya.

Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu mengatakan, panggilan itu akan terbatas pada mereka yang memiliki pengalaman sebagai tentara profesional. Sedangkan pelajar dan wajib militer tidak akan dipanggil untuk mobilisasi.

Tapi, keputusan Putin ini menimbulkan kekhawatiran bahwa beberapa pria dengan usia yang bisa mengikuti mobilisasi militer tidak akan diizinkan meninggalkan negara itu. Kondisi ini dinilai membuat penerbangan satu arah dari Rusia mengalami peningkatan.

Data Google Trends menunjukkan, lonjakan penelusuran untuk situs pemesanan penerbangan paling populer di Rusia Aviasales. Penerbangan langsung dari Moskow ke Istanbul di Turki dan Yerevan di Armenia, kedua tujuan yang memungkinkan orang Rusia masuk tanpa visa, terjual habis pada Rabu. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA