Friday, 12 Rajab 1444 / 03 February 2023

Tak Hanya Pariwisata, Kakao Bisa Jadi Produk Unggulan Bali

Kamis 22 Sep 2022 00:57 WIB

Red: Bayu Hermawan

Petani mengeringkan biji kakao (ilustrasi)

Petani mengeringkan biji kakao (ilustrasi)

Foto: Antara/Fikri Yusuf
Kementan dorong kakao jadi produk unggulan asal Bali

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Pertanian mendorong Provinsi Bali menjadi daerah unggulan untuk ekspor produk kakao dan turunannya. Produk kakao dari Bali juga bisa bersanding dengan potensi wisata.

Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Andi Nur Alam Syah, mengatakan basis perkebunan rakyat untuk komoditas kakao di Bali perlu terus didukung keekonomiannya dan bergandengan dengan potensi wisata yang sudah terkenal. Andi mengatakan bahwa kakao Bali sudah mendapatkan keunggulan di pasar ekspor lantaran Provinsi Bali yang sudah memiliki nama di dunia internasional.

Baca Juga

"Kakao Bali bisa berbuat banyak di pasar ekspor karena dari wisata sudah punya nilai, tinggal dikemas dan di-branding dengan baik. Ditjen Perkebunan akan terus memperhatikan sentra-sentra produksi kakao di Bali untuk bisa meningkatkan ekspor mendukung program Gratieks," katanya, Rabu (22/9/2022).

Koperasi Kakao Kerta Semaya Samaniya di Bali mengapresiasi peran Kementerian Pertanian melalui Ditjen Perkebunan yang memberikan dukungan.

Dukungan tersebut diberikan pemerintah melalui pelatihan, sarana dan prasarana penunjang untuk proses di on farm, benih yang bersertifikat, dan sarana prasarana penunjang fermentasi dan alat/mesin yang bermanfaat untuk pengolahan cokelat.

"Kini, Koperasi Kakao Kerta Semaya Samaniyadengan Kalimajari telah rutin melakukan ekspor setiap tahun ke Perancis, Belanda, Amerika Serikat, Jepang, Swiss, dan Belgia sebanyak 0,5 sampai 15,5 ton per tahun," katanya.

Koperasi Kakao Kerta Semaya Samaniya telah berdiri sejak 8 Mei 2006 dengan jumlah anggota sertifikasi sebanyak 609 orang. Produk turunan yang baru dihasilkan berupa Nibs kakao yang dijual untuk industrilokal, kakao kul-kul sebanyak 1 ton per bulan, dan Bali Varenyam sebanyak 100 kg per bulan.

Ke depan, Ketut mengatakan akan mengupayakan untuk produksi dan ekspor produk olahan cokelat yang bernilai tambah lebih tinggi. Dia menjelaskan pekebun kakao yang tergabung dalam koperasi dapat memperoleh keuntungan seperti harga penjualan Nibs dapat lebih mahal dan stabil, serta koperasi terus mendampingi petani. "Motivasi kami adalah agar posisi tawar itu ada di pihak pekebun dan koperasi," katanya.

Untuk promosi, Koperasi Kakao Kerta Semaya Samaniya telah melakukan berbagai cara untuk memperkenalkan produk olahan kakao miliknya, salah satunya Kalimajari, dengan mengikuti pameran dan melalui media sosial.

"Harapan kedepannya, kita dapat di-support mesin-mesin yang kapasitasnya lebih besar sehingga kita bisa menjual pasta, butter, powder, baik untuk lokal maupun ekspor," katanya.

Plt Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Kementerian Pertanian Baginda Siagian mengapresiasi langkah yang dilakukan Koperasi Kakao Kerta Semaya Samaniya yang merupakan contoh korporasi petani yang wajib direplikasi di sentra kakao lainnya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA