Sunday, 10 Jumadil Awwal 1444 / 04 December 2022

Gus Yahya: Agenda R20 Dorong Struktur Ekonomi-Politik Global

Rabu 21 Sep 2022 17:45 WIB

Red: Ani Nursalikah

Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf menjawab pertanyaan wartawan sebelum kegiatan konferensi pers Religion of Twenty (R20) di Jakarta, Rabu (7/9/2022). Dalam konferensi pers tersebut, Ketua Umum PBNU menyampaikan terkait empat topik yang akan dibahas dalam pertemuan para pemimpin agama dalam kegiatan Religion of Twenty (R20) pada 3 dan 4 November 2022 mendatang di Nusa Dua, Bali. Empat topik tersebut diantaranya Historical Grievances (Kepedihan Sejarah), Pengungkapan Kebenaran, Rekonsiliasi, dan Pengampunan. Gus Yahya: Agenda R20 Dorong Struktur Ekonomi-Politik Global

Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf menjawab pertanyaan wartawan sebelum kegiatan konferensi pers Religion of Twenty (R20) di Jakarta, Rabu (7/9/2022). Dalam konferensi pers tersebut, Ketua Umum PBNU menyampaikan terkait empat topik yang akan dibahas dalam pertemuan para pemimpin agama dalam kegiatan Religion of Twenty (R20) pada 3 dan 4 November 2022 mendatang di Nusa Dua, Bali. Empat topik tersebut diantaranya Historical Grievances (Kepedihan Sejarah), Pengungkapan Kebenaran, Rekonsiliasi, dan Pengampunan. Gus Yahya: Agenda R20 Dorong Struktur Ekonomi-Politik Global

Foto: Republika/Thoudy Badai
R20 menjadikan agama sebagai sumber solusi atas berbagai permasalahan global.

REPUBLIKA.CO.ID, latul Ulama (PBNU) K.H. Yahya Cholil Staquf mengatakan agenda Forum Religion of Twenty (R20) mendorong nilai-nilai moral dan spiritual ke dalam struktur politik dan ekonomi global. "Bagaimana agama bisa menjadi bagian dari solusi? Itu bisa terjadi jika agama mampu mendorong nilai-nilai moral dan spiritualnya untuk diresapkan ke dalam struktur politik dan ekonomi global," kata Yahya Cholil Staquf dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu (21/9/2022).

Dengan begitu, ia meyakini dinamika dan perkembangan ekonomi-politik akan mengarah kepada peradaban manusia yang diharapkan. "Dengan demikian, dunia ini dalam dinamika ekonomi-politiknya akan menuju visi membangun kemuliaan peradaban manusia, bukan cuma perebutan dominasi yang ujungnya menghilangkan makna kemanusiaan. Itu akan jadi agenda R20," ucapnya.

Baca Juga

R20 digagas Yahya Cholil Staquf pada Januari 2022 dan diketuai secara bersama oleh PBNU dengan Liga Muslim Dunia, organisasi yang berbasis di Makkah. Misi utama R20 adalah mewujudkan kerja sama semua agama dan bangsa di dunia untuk mendorong terciptanya struktur politik dan ekonomi global yang selaras dengan nilai-nilai luhur setiap agama.

PBNU akan menggelar Religion Forum (R20) International Summit of Religious Leader pada 2-3 November 2022 di Nusa Dua, Bali. PBNU menggandeng Liga Muslim Dunia sebagai penyelenggara bersama (co-host). R20 merupakan engagement group dari G20.

Forum dialog antartokoh agama dunia ini bakal membahas beberapa agenda penting yang semuanya merupakan ikhtiar menjadikan agama sebagai sumber solusi atas berbagai permasalahan global.

Forum ini berupaya merumuskan agar agama tidak lagi menjadi penyebab dan masalah itu sendiri, tetapi beranjak menjadi solusi dari masalah global. "Berhenti menjadi bagian dari masalah itu, artinya menetralisasi semua elemen yang mendorong perpecahan dan diskriminasi di antara kelompok agama," kata kiai yang akrab disapa Gus Yahya itu.

Upaya rekontekstualisasi wawasan keagamaan sebetulnya sudah dilakukan oleh Gereja Katolik melalui Konsili Vatikan II pada 1965. Lalu, Yahudi Masorti melakukannya pada 2016. NU pun melakukan hal serupa dalam Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama NU di Banjar, Jawa Barat, pada 2019.

"Semua itu, menurut saya, kerangkanya adalah bagaimana kelompok-kelompok agama yang berbeda ini mengidentifikasi nilai-nilai bersama, yaitu nilai-nilai tentang keadilan, kasih sayang, martabat manusia, dan lainnya," ucapnya.

Selain itu, ia mengungkapkan perlunya mengidentifikasi nilai-nilai yang diadopsi bersama supaya bisa hidup berdampingan dengan damai. "Bila perlu, kita lakukan rekontekstualisasi atau mereformasi, meninjau ulang wawasan-wawasan yang mapan dengan agama masing-masing, yang menjadi hambatan bagi kontestasi damai," ujarnya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA