Monday, 30 Safar 1444 / 26 September 2022

Israel akan Tutup Tepi Barat dan Gaza pada Hari Raya Yahudi

Rabu 21 Sep 2022 09:45 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Friska Yolandha

Petugas polisi Hamas menjaga truk yang berisi kiriman vaksin virus corona Sputnik V Rusia di perlintasan perbatasan Kerem Shalom, di Rafah, Jalur Gaza, Rabu, 17 Februari 2021.

Petugas polisi Hamas menjaga truk yang berisi kiriman vaksin virus corona Sputnik V Rusia di perlintasan perbatasan Kerem Shalom, di Rafah, Jalur Gaza, Rabu, 17 Februari 2021.

Foto: AP / Adel Hana
Hari raya Yahudi berlangsung hampir satu bulan.

REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM -- Israel akan menutup wilayah pendudukan Tepi Barat dan Jalur Gaza menjelang tiga hari raya Yahudi. Hari raya keagamaan itu akan berlangsung selama hampir satu bulan.  

Warga Palestina tidak akan diizinkan meninggalkan Tepi Barat atau Jalur Gaza untuk memasuki Israel selama tahun baru Yahudi, Rosh Hashana, yang jatuh pada akhir September. Larangan juga berlaku selama liburan hari raya Yom Kippur dan Sukkot pada Oktober.

Baca Juga

"Selama penutupan, perjalanan hanya akan diizinkan dalam kasus kemanusiaan, medis, dan perjalanan luar biasa," kata militer Israel, dilansir Alarabiya, Rabu (21/9/2022). 

Israel secara teratur memberlakukan penutupan tesebut selama liburan hari raya Yahudi. Penutupan itu dilakukan untuk menghindari meningkatnya ketegangan setelah serangkaian serangan mematikan terhadap warga Israel sejak Maret.

Sejak itu, tentara Israel telah meningkatkan operasi di Tepi Barat, terutama di wilayah Nablus dan Jenin yang menjadi markas kelompok bersenjata Palestina. Militer Israel mengatakan, operasi tersebut bertujuan untuk menangkap orang-orang yang diduga terlibat dengan terorisme. Operasi militer Israel sering diwarnai bentrokan dengan pejuang atau warga. Bentrokan menyebabkan warga Palestina, termasuk anggota kelompok bersenjata tewas.

Pada Selasa (20/9/2022), seorang warga Palestina tewas dalam bentrokan di Kota Nablus dalam operasi langka oleh pasukan keamanan Otoritas Palestina untuk menangkap anggota gerakan Islam Hamas, yang menguasai Jalur Gaza. Presiden Otoritas Palestina Mahmud Abbas telah berselisih dengan Hamas sejak 2007. Tepatnya ketika Hamas menguasai Gaza setelah perang saudara. Sejak itu, upaya rekonsiliasi telah gagal.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA