Thursday, 18 Rajab 1444 / 09 February 2023

NATO: Sanksi Barat Hambat Rusia Produksi Senjata

Ahad 18 Sep 2022 12:38 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Esthi Maharani

 Ketua Komite Militer Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Rob Bauer mengatakan, sanksi yang dijatuhkan Barat mulai memukul kemampuan Rusia untuk membuat persenjataan canggih untuk perang di Ukraina.

Ketua Komite Militer Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Rob Bauer mengatakan, sanksi yang dijatuhkan Barat mulai memukul kemampuan Rusia untuk membuat persenjataan canggih untuk perang di Ukraina.

Foto: AP/Russian Defense Ministry Press S
Sanksi yang dijatuhkan Barat mulai memukul kemampuan Rusia untuk membuat persenjataan

REPUBLIKA.CO.ID, BRUSSELS – Ketua Komite Militer Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Rob Bauer mengatakan, sanksi yang dijatuhkan Barat mulai memukul kemampuan Rusia untuk membuat persenjataan canggih untuk perang di Ukraina. Kendati demikian, dia tak menampik bahwa industri Rusia masih dapat memproduksi banyak amunisi.

“Mereka (Rusia) semakin terhambat oleh sanksi, karena beberapa komponen yang mereka butuhkan untuk sistem senjata mereka berasal dari industri Barat. Kami sekarang melihat tanda-tanda serius pertama dalam hal kemampuan mereka untuk memproduksi, misalnya, penggantian rudal jelajah dan persenjataan yang lebih canggih,” kata Bauer dalam sebuah wawancara dengan Reuters, Jumat (16/9/2022).

Baca Juga

Menurut Bauer, Rusia dan Ukraina menghadapi tantangan karena konflik konvensional telah mengharuskan pengeluaran pasokan militer pada tingkat yang belum pernah terjadi dalam beberapa dekade terakhir. “Sejauh yang kami tahu, Rusia masih memiliki basis industri yang cukup besar dan mampu menghasilkan banyak amunisi. Dan mereka masih memiliki banyak amunisi,” ucapnya.

Sebelumnya Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan, negaranya telah menghadapi agresi keuangan dan teknologi. Kendati demikian, serangan kilat ekonomi terhadap Rusia tidak berhasil.

“Saya ingin menekankan sekali lagi bahwa Rusia dengan percaya diri mengatasi tekanan eksternal, bisa dikatakan dengan agresi keuangan dan teknologi dari beberapa negara. Taktik blitzkrieg (serangan kilat) ekonomi tidak berhasil, ini sudah jelas bagi semua orang dan bagi mereka," kata Putin, Senin (12/9/2022), dikutip laman kantor berita Rusia, TASS.

Putin menjelaskan, merespons penerapan sanksi oleh beberapa negara, Rusia segera menerapkan langkah-langkah perlindungan efektif. “Mekanisme diluncurkan untuk mendukung industri utama, perusahaan, serta usaha kecil dan menengah,”, ucapnya.

Menurut Putin, semuanya bertujuan agar warga di negaranya tetap memiliki pekerjaan dan pekerjaan tersedia bagi warga. Pemerintah Rusia juga memberikan bantuan kepada warga yang ditargetkan.

Putin mengklaim, Rusia juga berhasil mengendalikan inflasi. “Kami juga berhasil menstabilkan inflasi dengan cepat. Setelah angka puncak 17,8 persen pada April, turun menjadi 14,1 persen pada 5 September. Ada banyak alasan untuk memperkirakan inflasi mencapai sekitar 12 persen pada akhir tahun," ucapnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA